Press "Enter" to skip to content

Nokia dan Jalan Terjal Menuju Puncak

Sejarah memang tak bisa ditutupi. Nokia dulu pernah menjadi raja di industri ponsel dunia. Tapi bisakah Nokia mengulang kesuksesannya di saat jalan ke puncak semakin terjal?

Ajang Mobile World Congress di Barcelona menjadi upaya pembuktian Nokia. Pabrikan asal Finlandia ini meluncurkan lini produk terbarunya, satu ponsel cerdas berbasis Android di kelas premium, satu model teranyar, dan satu remake seri terlarisnya pada 1990-an, yaitu ponsel slider 8110.

Nokia, yang kini bernaung di bawah HMD Global, selama ini mencoba bertahan di pasar ponsel global dengan berfokus di pasar Android kelas menengah dan ponsel murah di bawah US$100. Pencapaiannya lumayan juga. Setidaknya menurut klaim Florian Seiche, sang Chief Executive. HMD telah menjual sekitar 30 juta ponsel setelah memperkenalkan 11 model baru pada tahun lalu.

Hasil riset pasar yang dilakukan Counterpoint Research, seperti dilansir Reuters.com, menyebutkan Nokia telah berhasil merebut pasar feature phone low-cost dan bercokol di urutan 11 pasar smartphone. Kalau dikombinasikan, Nokia telah menduduki urutan ke-6 pabrikan ponsel dunia.

Strategi HMD adalah menggunakan jalur distribusi dari rekanannya, 600 operator seluler dan periteld pasar yang menggiurkan di dunia, dengan menawarkan harga yang terjangkau, inovasi terbaru, plus security update bulanan dari Google pada semua tipe ponsel.

Kawasan terbesar bagi penjualan Nokia masih di Eropa. Sedang untuk negara, India, Rusia, dan Indonesia adalah pasar terbesarnya.

Ponsel-ponsel anyar yang ditawarkan Nokia untuk tahun ini adalah Nokia 6 terbaru, Nokia 8 Sirocco, Nokia 8110, Nokia 1, dan Nokia 7 Plus. Nokia 8 adalah flagship yang dibanderol US$920,75 (bakal dikapalkan pada April) dan didesain untuk bertarung melawan model premium dari Samsung dan Huawei.

Sedang model baru rasa lama, 8100, yang beroperasi di jaringan 4G, dibanderol US$97 saja. 8110 bakal dikapalkan pada Mei. Tersedia dalam dua pilihan warna: hitam klasik dan kuning pisang. Keyboardnya bisa diakses dengan cara digeser, sehingga ia mendapat julukan “ponsel pisang”.

Setelah gagal mempertahankan puncak dominasinya di industri ponsel, Nokia menjual bisnis handsetnya ke Microsoft pada 2014 dan fokus pada industri perangkat jaringan telekomunikasi. Microsoft melepas bisnis Nokia ke HMD pada 2016.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: