Press "Enter" to skip to content

Catatan Arkeologi Mengenal Teknik Pembuatan Perahu di Nusantara

Sejak awal tarikh Masehi, perairan Nusantara ramai dilayari kapal-kapal dari berbagai bangsa dengan teknologi pembuatannya juga berbeda. Ketika Kadatuan Sriwijaya sedang berjaya di perairan Nusantara, dikeluarkan sebuah peraturan yang menyatakan bahwa saudagar dari manapun yang berdagang di Nusantara dalam pengangkutan barang harus menggunakan kapal Sriwijaya.

Bagaimana ciri kapal Sriwijaya atau kapal-kapal yang berlalu-lalang di perairan Nusantara?

Akhir-akhir ini banyak runtuhan perahu yang ditemukan baik di rawa-rawa maupun dari dasar laut. Beberapa di antaranya mempunyai bentuk papan yang sama, yaitu pada salah satu sisinya terdapat tonjolan segiempat panjang yang dikenal oleh pakar perahu dengan sebutan tambuko. Sebutan ini berasal dari bahasa Tagalog, di Filipina.

Dalam dunia kebaharian perahu yang dibuat dengan ciri tersebut dikenal dengan menggunakan teknologi tradisi Asia Tenggara. Dalam teknologi ini ciri khasnya adalah teknik penyambungan antara satu papan dengan papan lain pada rangka perahu. Tekniknya disebut teknik “papan ikat dan kupingan pengikat”.

Perahu yang dibuat dengan teknologi tradisi Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas, antara lain lambungnya berbentuk V sehingga bagian lunasnya berlinggi, haluan dan buritan lazimnya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya, dan dalam seluruh proses pembuatannya sama sekali tidak memakai paku besi, dan kemudi berganda di bagian kiri dan kanan buritan.

Teknik yang paling mengagumkan untuk masa kini, adalah cara mereka menyambung papan. Selain tidak menggunakan pasak kayu/bambu, cara menyambung satu papan dengan papan lainnya adalah dengan mengikatnya dengan tali ijuk (Arrenga Pinnata). Sebilah papan, pada bagian tertentu dibuat menonjol yang disebut tambuko. Pada tambuko diberi lubang yang jumlahnya 4 buah menembus ke bagian sisi tebal. Melalui lubang-lubang ini tali ijuk kemudian dimasukkan dan diikatkan dengan bilah papan yang lain. Di bagian sisi yang tebal, diperkuat dengan pasak-pasak kayu/bambu.

Teknik penyambungan papan seperti ini dikenal dengan istilah “teknik papan ikat dan kupingan pengikat” (sewnplank and lashedlug technique).
Runtuhan perahu yang ditemukan di beberapa situs di Nusantara dan negara jiran, ada kesamaan umum yang dapat dicermati, yaitu teknik pembuatannya.

Teknik pembuatan perahu yang ditemukan itu, antara lain: teknik ikat, teknik pasak kayu/bambu, teknik gabungan ikat dan pasak kayu/bambu, dan perpaduan teknik pasak kayu atau bambu dan paku besi.

Melihat teknologi rancang-bangun perahu tersebut, dapat diketahui pertanggalannya. Runtuhan perahu yang menggunakan teknologi Asia Tenggara ditemukan di Situs Balanghai (Filipina), Situs Pontian (Malaysia), Situs Samirejo, Situs Tulung Selapan, dasar laut perairan Cirebon, dan Punjulharjo (Indonesia).

Di Indonesia runtuhan perahu tersebut berasal dari sekitar abad 7-10 Masehi. Runtuhan perahu dari Situs Pontian berdasarkan pertanggalan karbon C-14 berasal dari sekitar abad ke-6 Masehi.

Teknik lain dalam pembuatan perahu, adalah teknik dugout (kerok). Teknik ini biasa ditemukan di wilayah Kalimantan Indonesia, maupun di daerah negara bagian Sabah dan Serawak di Malaysia. Teknik seperti ini masih digunakan di daerah Sungai Barito dengan perahu yang disebut jukung.

Bambang Budi Utomo

Piuslitbang Arkeologi Nasional

Foto: Balai Arkeologi Yogyakarta

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: