Press "Enter" to skip to content

Tentang Tuhan, Pikiran, dan Disabilitas Seorang Stephen Hawking

Stephen Hawking membuktikan daya jangkau pikiran tak bisa dibatasi, meski hampir sekujur tubuhnya lumpuh dan tak bisa bicara. Dengan bantuan teknologi voice synthesizer, Hawking mengungkapkan buah-buah pemikirannya tentang alam semesta.

Pemikirannya memang kerap kontroversial, terutama saat dia bicara mengenai asal mula alam semesta. Dalam teori Hawking, alam semesta ini tercipta dari sebuah Big Bang, sebuah ledakan besar, yang kemudian akan berakhir dalam sebuah Lubang Hitam.

Tapi, seperti dilansir BBC (bbc.com) Hawking dikenal sebagai ilmuwan yang penuh humor. Dia juga membuat sains menjadi banyak diminati. Bukunya, A Brief History of Time, laku keras, sampai 10 juta kopi, dan menjadi best seller internasional, meski tak jelas apakah semua pembeli buku itu mengerti isinya, atau paling tidak membacanya sampai selesai.

“Itu buku paling populer yang tidak dibaca,” kata Hawking berkelakar, suatu ketika.

Hawking meraih gelar sarjana fisika di Oxford dan pasca sarjana bidang kosmologi di Universitas Cambridge. Suatu hari, kegemarannya naik kuda dan mendayung harus dihentikan karena serangan penyakit motor neuron yang membuatnya hampir lumpuh total.

Saat itu, sekitar tahun 1964, dia sedang bersiap menikahi istri pertamanya, Jane. Dokter memberinya perkiraan hidupnya tinggal 2 atau 3 tahun. Tapi dia hidup lebih lama dari itu dan memberikan sumbangsih besar bagi dunia sains, meski apa yang disampaikannya lebih bersifat teoritis.

Dia meraih banyak penghargaan penting dan medali dari pemerintah, termasuk dari Amerika Serikat. Salah satu peninggalannya yang paling fenomenal adalah Theory of Everything. Judul teori ini bahkan dijadikan judul film yang mengisahkan hidup Stephen Hawking sendiri dan diperankan oleh Eddie Redmayne.

“Teori tentang segala sesuatu” adalah hasil penelitian terhadap teori relativitas umum yang dikembangkan oleh Albert Einstein dan teori medan kuantum.

Teorinya Einstein hanya fokus pada gravitasi untuk memahami alam semesta baik dalam skala besar dan bermassa besar, macam bintang-bintang, galaksi, dan sebagainya. Sedang teori kuantum fokus pada tiga aspek nongravitasional untuk memahami alam semesta, yaitu partikel subatom, atom, molekul, dan sebagainya.

“Kumpulan hukum yang lengkap bisa memberikan kita jawaban atas pertanyaan, misalnya bagaimana alam semesta ini bermula,” kata Hawking, suatu ketika. “Kemana alam ini menuju dan bagaimana akhirnya? Kalau kita menemukan jawabannya, kita akan tahu apa yang ada dalam pikiran Tuhan.”

Apa itu “pikiran Tuhan”, akhirnya pada 2014 dia menjelaskannya, seperti dimuat oleh CNet dan Huffington Post. “Apa yang saya maksudkan dengan “kita akan mengetahui pikiran Tuhan” adalah, kita akan tahu segala sesuatu yang Tuhan tahu, bila benar bahwa Tuhan ada. Yang mana menurut saya tidak ada. Saya seorang ateis,” ujarnya, saat diwawancara El Mundo, media Spanyol.

Dia menambahkan: “Agama percaya pada keajaiban dan mujizat, tapi itu bertentangan dengan sains.”

Hawking kini sudah meninggal dunia. Sejumlah orang memberikan komentar yang bernada sedih namun mengandung humor juga, terkait dengan pandangan Hawking mengenai agama.

Chef José Andrés misalnya, di akun Twitternya, menulis: “Dear Stephen Hawking, saat saya melihat lubang hitam di bintang-bintang sana, saya tahu kamu sedang terbang ke sana, gembira bertemu dengan Tuhan dan alasan eksistensi kita.”

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: