Press "Enter" to skip to content

Bukit Siguntang, Kekayaan Arkeologi yang Terancam

Bukit Siguntang merupakan bentang alam yang tertinggi untuk Kota Palembang. Apabila kita naik ke atap Jembatan Ampera dan memandang ke arah baratlaut, akan tampak Bukit Siguntang menonjol pada dataran rendah Kota Palembang yang luas. Tingginya sekitar 26 meter di atas permukaan laut.

Dari kejauhan Bukit Siguntang tampak rimbun dengan pepohonan. Namun pada kenyataannya di daerah kaki bukit pada saat ini padat dengan pemukiman. Di daerah kaki sebelah baratlaut dan baratdaya dulunya merupakan daerah rawa yang luasnya hingga ke daerah Talang Kikim dan Kolam Pinisi, tempat ditemukannya runtuhan perahu kuno. Sekarang semua bukti arkeologis ini telah punah, ditimbun untuk keperluan pembangunan perumahan.

Bukit Siguntang yang letaknya sekitar 5 km. ke arah barat dari pusat kota Palembang sudah lama dikenal oleh para arkeolog dan sejarahwan sebagai sebuah situs tempat ditemukannya sebuah arca Buddha Sakyamuni yang besar. Selain itu Bukit Siguntang dikenal dan dipercaya juga sebagai kompleks pemakaman raja-raja Melayu. Menurut laporan yang dibuat Schnitger dari situs ini banyak ditemukan berbagai jenis tinggalan budaya masa lampau seperti arca batu dan logam, prasasti batu, keramik, dan tembikar.

Tinggalan Budaya
Pada tahun 1920 dan 1928, di daerah kaki Bukit Siguntang ditemukan beberapa fragmen yang berasal dari sebuah arca. Setelah seluruh fragmen disatukan, ternyata fragmen-fragmen tersebut berasal dari sebuah arca Buddha Sakyamuni yang cukup besar. Kepala arca itu sendiri “ditemukan” oleh Schnitger di Museum Nasional di Jakarta. Setelah seluruhnya disatukan, arca Buddha itu berukuran tinggi 277 cm. lebar bahu 100 cm, dan tebal 48 cm. Terbuat dari bahan batu granit yang di Palembang bahan itu tidak ditemukan.

Menurut Majumdar arca ini dibuat sebelum abad ke-6 Masehi. Sebaliknya Nik Hassan menduga bahwa arca ini dipengaruhi gaya seni Pāla yang berkembang di India Utara pada sekitar abad ke-7 dan awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu Suleiman menganggap arca ini berasal dari abad ke-9 Masehi. Dugaan ini didasarkan atas penemuan arca yang langgamnya sama di Srilanka yang berkembang pada abad ke-9 Masehi.

Selain arca Buddha, di Bukit Siguntang ditemukan juga stūpa dari batu pasir (sandstone), sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno, sebuah prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Sansekerta, sebuah pinggan emas dengan tulisan yang berisikan ajaran Buddha, sebuah arca Bodhisattwa, sebuah arca Kuwera atau Jambala, dan pecahan-pecahan keramik yang berasal dari masa Dinasti T’ang (abad ke-8-10 Masehi). Arca Kuwera yang dibuat dari perunggu sekarang sudah hilang. Berdasarkan ciri yang terdapat pada beberapa bagian arca menunjukkan arca ini berlanggam Śailendra yang berkembang pada abad ke-8-9 Masehi.

Prasasti yang kondisinya tinggal separuh, ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno berisi tentang peperangan, seperti yang tertera pada baris ke-10 yang berbunyi // tīda tāhu pira marvyū (ha)// yang berarti “tidak tahu berapa banyak yang berperang”. Kemudian baris ke-5 yang berbunyi // vañak pramirahña // yang berarti “banyak darah yang tertumpah”. Lalu baris ke-9 yaitu pauravirakta yang berarti “merah (oleh darah) penduduknya”, serta mamañcak yam prajā ini yang diduga berkenaan dengan peperangan itu sendiri. Fragmen ini juga memuat kutukan kepada mereka yang berbuat salah.

Di daerah kaki sebelah barat Bukit Siguntang, di permukaan tanah yang terbuka, banyak ditemukan pecahan keramik dari bahan batuan yang berglasir hijau coklat tipe Yueh, fragmen mangkuk porselin putih, dan fragmen tempayan berglasir hijau-kuning. Tempayan dari bahan batuan jenis itu sering disebut olive green jar atau ‘tempayan hijau zaitun’, karena warna glasirnya menyerupai warna buah zaitun. Istilah lain untuk menyebutkan tempayan jenis ini adalah Dusun jar, karena tempayan jenis ini banyak ditemukan di daerah orang Dayak Dusun di Kalimantan Utara.

Pecahan-pecahan keramik lain yang menarik adalah pecahan keramik yang mempunyai ciri spur-marks (bekas tumpangan) di bagian dalam sebuah wadah. Berdasarkan pada rekonstruksi kembali pecahan-pecahan keramik itu, pecahan itu adalah pecahan dari sebuah mangkuk kecil yang berglasir warna hijau keabuan dan tidak dapat tembus cahaya. Warna glasir seperti itu adalah khusus untuk wadah tipe Yueh yang mempunyai pertanggalan abad ke-9-10 Masehi.

Berdasarkan tinggalan-tinggalan budaya tersebut, pertanggalan Situs Bukit Siguntang berasal dari sekitar abad ke-7-10 Masehi, suatu rentang waktu yang cukup panjang. Di bukit yang tidak terlalu tinggi tersebut, dulunya terdapat bangunan-bangunan pemujaan yang dibuat dari bata. Bentuk bangunan pemujaan ini adalah stūpa yang ukurannya cukup besar.

Ekskavasi yang dilakukan di puncak bukit berhasil menampakkan bentuk-bentuk lingkaran dari sebuah bangunan yang berdenah lingkaran dengan garis tengah sekitar 5 meter. Dan di puncak bukit berdiri sebuah arca Buddha Sakyamuni yang tingginya lebih dari 4 meter yang seolah-olah arca ini menjadi semacam landmark kota Śrīwijaya.

Gambaran yang dapat diperoleh dari struktur-struktur fondasi bata, arca-arca Buddha baik yang batu maupun logam serta temuan pecahan-pecahan keramik, di Bukit Siguntang dulunya merupakan pusat upacara ajaran Buddha. Kalau berpatokan dari pertanggalan dari gaya seni arca Buddha Sakyamuni abad ke-6-7 Masehi, boleh jadi Dapunta Hyang sebelum membangun wanua Śrīwijaya terlebih dahulu melakukan upacara dalam rangka merayakan hari trisuci Waisak (prasasti Kedukan Bukit menyebutkan “23 April 682 Dapunta Hiyaŋ melakukan perjalanan suci”).

Diduga ia berangkat dari Mināṅa yang letaknya kira-kira di sebelah utara Plembang ke tempat upacara di Bukit Siguntang. Sebelum kelahiran Śrīwijaya pada 16 Juni 682, masyarakat di Palembang telah menganut ajaran Buddha dengan pusat upacaranya di Bukit Siguntang. Karena itulah di Bukit Siguntang “padat” dengan tinggalan budaya yang mengindikasikan pusat kegiatan pujabhakti ajaran Buddha. Adanya prasasti yang isinya tentang peperangan yang banyak menelan korban jiwa, tentu dimaksudkan sebagai peringatan bagi warga Śrīwijaya agar peperangan semacam itu tidak lagi terjadi.

Sejarah Melayu
Rupa-rupanya, dari masa ke masa Bukit Siguntang memang sudah lama dikenal, sebagaimana tercantum dalam Kitab Sejarah Melayu yang ditulis pada tanggal 13 Mei 1612 Masehi:

“Adapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka di hulu Sungai Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit bernama Bukit Si Guntang; di hulu Gunung Maha Miru, di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan. Maka ada dua orang perempuan berladang, Wan Empo seorang namanya dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berumah di Bukit Si Guntang itu, terlalu luas humanya, syahadan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampir masak padi itu.”

Itulah sepenggal kalimat yang tercantum dalam Kitab Sejarah Melayu. Seterusnya kitab itu menceriterakan turunnya mahluk setengah dewa (Sang Siperba) ke Bukit Siguntang dan di kemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Tanah Melayu. Menurut Sejarah Melayu, Bukit Siguntang adalah Gunung Mahameru seperti yang terdapat dalam cerita-cerita sastra ajaran Hindu dan Buddha.

“Telah masyhurlah pada segala negeri bahwa anak raja anak cucu raja Iskandar Dhu’l-karnain turun ke Bukit Si Guntang Maha Miru, maka segala raja-raja dari segala negeripun datanglah menghadap raja itu sekaliannya dengan persembahannya”

Bukit Siguntang oleh sebagian masyarakat, terutama masyarakat Melayu di Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu, dianggap suci karena merupakan “punden”-nya orang-orang Melayu. Menurut Kitab Sejarah Melayu, raja yang memerintah di Melaka dikatakan sebagai keturunan dari Sang Siperba, mahluk setengah dewa yang turun di Bukit Siguntang. Oleh sebab itu, orang-orang Melayu dari Melaka yang berkunjung ke Palembang, rasanya kurang lengkap kalau tidak berkunjung ke Bukit Siguntang.

Pemanfaatan
Baru-baru ini ramai di medsos suara-suara protes terhadap pihak yang melakukan pembangunan fisik di Bukit Siguntang. Kalau ditelusuri apa yang ada di balik pembangunan fisik yang telah dilakukan sejak awal tahun 1990-an, semuanya bermaksud baik yaitu memanfaatkan “kesakralan” dan ketenaran Bukit Siguntang untuk tujuan wisata. Dalam mewujudkan pembangunan fisiknya, sudah barang tentu “dibarengi” dengan perusakan menggali tanah untuk fondasi.

Penelitian arkeologi juga pada hakekatnya merusak situs, namun perusakannya dibarengi dengan dokumentasi yang lengkap (verbal dan visual). Meskipun pihak pengembang bermaksud baik untuk memanfaatkan Bukit Siguntang, tetapi tidak mendokumentasikan secara arkeologis. Dalam hal ini saya juga protes keras sampai akhirnya berdiri Menara Pandang di puncak bukit, dan bangunan-bangunan lain di kaki bukit.

Dua tahun lalu, bangunan-bangunan yang dibangun pada awal tahun 1990-an dibongkar rata. Saya cukup gembira mendengar kabar pembongkaran itu. Ini berarti situs tersebut sudah “pulih”. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, ternyata di lahan bekas bangunan 1990-an dibangun bangunan lain yang bentuk fisiknya lebih modern. Di bekas Menara Pandang sudah ada bangunan kolam yang bentuknya melingkar, dan di daerah kaki bukit di bekas bangunan musala, dan gardu jaga telah berdiri bangunan yang akan diperuntukkan bagi bangunan gallery.

Baiklah, kata pemrotes “Nasi sudah menjadi bubur” demikian kira-kira kalimatnya. Lantas bagaimana? Apakah bangunan-bangunan tersebut misti dibongkar dan diratakan? Tentu tidak. Marilah kita berpikir positif bagaimana memanfaatkan bangunan-bangunan tersebut ke depan.

Bagaimana Situs Bukit Siguntang dimanfaatkan? Menurut “mata batin” seorang Arhat (orang yang sudah mempunyai pengalaman spiritual) di Palembang ada dua tempat yang dipercaya memancarkan kesucian, yaitu di Karanganyar (Situs Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya) dan di Bukit Siguntang. Dari kedua tempat tersebut, rupanya Bukit Siguntang yang masih dipercaya memancarkan “energi”.

Karena itulah tempat tersebut layak dipakai sebagai tempat untuk melaksanakan pujabhakti pada waktu peringatan Hari Trisuci Waisak yang melibatkan banyak umat, atau pujabhakti sehari-hari yang tidak banyak melibatkan umat. Mengingat masyarakat Plembang mayoritas penganut agama Islam, untuk melaksanakan kegiatan ini, tentunya diperlukan sebuah kajian bagaimana penerimaan masyarakat sekitar Bukit Siguntang apabila dilakukan pujabhakti. Adanya kegatan pujabhakti ini, Bukit Siguntang dapat dijadikan destinasi wisata ziarah ajaran Buddha.

Di puncak bukit, di tengah kolam yang berdenah lingkaran akan ditempatkan replika dari arca Buddha Sakyamuṇi dengan wajah diarahkan ke kota Plembang, atau ke arah timur – tenggara sebagaimana telah dikonsultasikan dengan seorang bhiksu. Dari sisi arkeologis penempatan arca Sakyamuṇi di puncak bukit menghadap kota berfungsi sebagai semacam landmark kota Śrīwijaya. Kolam yang mengelilingi arca Buddha Sakyamuṇi ditanami dengan tanaman teratai atau lotus.

Dalam ajaran Buddha, teratai menjadi simbol bagi kemurnian, keyakinan, dan kebangkitan spiritual. Teratai yang berkembang penuh juga direpresentasikan sebagai Buddha yang telah mencapai pencerahan spiritual melalui perjalanan panjang dari kegelapan, yang diwakili oleh kolam berlumpur menuju cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan.

Pemanfaatan Situs Bukit Siguntang bukan hanya untuk komunitas masyarakat Buddha saja. Dari sumber Sejarah Melayu, dipercaya bahwa dari Bukit Siguntang tempat asalnya raja-raja Melayu. Kemudian diurut ke atas lagi, dari Bukit Siguntang turun manusia setengah dewa yang menurunkan raja-raja Melayu. Selanjutnya dari sumber Sejarah Melayu, para raja Melayu mengambil zuriat dari Iskandar Agung (Alexander the Great) atau Iskandar Dhu’l-karnain raja dari Makadunia.

Adanya beberapa makam yang dipercaya sebagai makam tokoh sejarah, seperti Segentar Alam dan Putri Kembang Dadar, mungkin perlu dipertimbangkan peruntukan upacaranya. Kedua religi tersebut menganggap penting Bukit Siguntang sebagai lokasi upacara. Penziarah makam tidak secara besar-besaran melakukan upacara seperti yang dilakukan umat Buddha ketika Waisak, namun yang mereka lakukan sewaktu-waktu. Dalam hal ini perlu dilakukan pembagian ruang untuk pelaksanaan upacara/ziarah.

Bangunan-bangunan yang berdinding kaca yang berada di kaki Bukit Siguntang rencananya dimanfaatkan sebagai semacam galeri tempat memajang artefak yang ditemukan dari Situs Bukit Siguntang, sekaligus sebagai pusat informasi Bukit Siguntang. Sikit kritik untuk pembangunan galeri yaitu dalam pembangunannya tidak dikonsultasikan dulu, sehingga ukuran bangunan tidak sesuai dengan bakal koleksi yang tersedia. Bangunannya besar, sedangkan koleksinya sedikit.

Artefak asli yang masih ada yaitu arca Sakyamuṇi, prasasti, dan Jambhala. Arca-arca lainnya tidak diketahui lagi keberadaannya. Keadaan ini tentu saja menyulitkan penata pamer. Lebih lagi keempat sisi bangunan berdinding kaca sehingga cahaya masuk dari berbagai arah. Akibatnya penata pamer yang semula ingin memainkan pencahayaan mengalami kesulitan. Kondisi ini perlu dipikirkan pemecahannya, bukan diteriaki

Bambang Budi Utomo
Puslitbang Arkeologi Nasional

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: