Press "Enter" to skip to content

Mencari Jejak Dampak Letusan Gunung Toba Terhadap Bumi

Gunung Toba adalah gunung api purba yang jejaknya masih bisa kita lihat dalam wujud Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya. Danau ini adalah sisa kawah Gunung Toba yang diperkirakan meletus pada 74.000 tahun yang lalu.

Dampak letusan Gunung Toba sangat dahsyat. Selain menyebabkan volcanic winter, yaitu musim dingin panjang akibat debu vulkanis, letusannya juga mengurangi populasi manusia secara drastis.

Dilansir dari BBC, penggalian arkeologis yang dilakukan di Afrika Selatan menemukan sebuah permukiman yang tak hanya bertahan dari bencana, tapi berkembang pesat setelahnya.

Penelitian ini melengkapi penelitian sebelumnya di Danau Malawi, yang mencari inti dasar danau sebagai bukti bencana iklim global yang terjadi saat letusan Gunung Toba, tapi tidak menemukan apa-apa.

Berangkatlah satu tim lintas negara ke dua situs di pantai selatan Afrika Selatan, menemukan bukti aktivitas manusia, baik sebelum dan sesudah letusan Gunung Toba.

Mengapa Afrika? Sebab Afrika dipercaya sebagai lokasi sumber manusia modern. Para ahli berpendapat, persebaran manusia modern pun bermula dari benua itu.

Pemimpin penelitian yang diterbitkan di Jurnal Nature itu, Dr. Marean, mengatakan mereka menemukan pecahan kecil volcanic glass di sedimen yang ditemukan di kedua situs. Ini adalah bagian dari debu vulkanis yang keluar saat letusan, disebut juga tephra.

Saat kandungan kimiawi tephra itu dianalisis, pecahan itu cocok dengan Gunung Toba, yang berada 9.000 km jauhnya. Pecahan itu diperkirakan sebagai deposit pertama dari jenisnya yang terekam begitu jauh dari sumbernya, yaitu Gunung Toba. Ini merupakan penggambaran betapa kuatnya letusan Gunung Toba.

Letusan Gunung Toba diperkirakan yang terbesar di dunia dalam kurun waktu 2,5 juta tahun terakhir.

Untuk mengetahui usia pecahan tadi, digunakan teknik argon-argon dating. Dengan teknik ini ahli vulkanologi bisa mengkalkulasi letusan Gunung Toba.

“Jatuhnya tephra berlangsung sekitar dua pekan,” kata Dr. Marean. Dengan kejadian yang berlangsung pada 74.000 tahun lalu, maka biasanya ada margin error 10 persen. Tapi bisa mengunci dua pekan, sangat mendekati temuan kronologis yang hebat.

Dr Britta Jensen, seorang ahli vulkanologi dari University of Alberta, memberi catatan bahwa apa yang dicapai oleh Dr Marean adalah pengembangan yang unik. “Sangat sulit mengatribusi letusan Toba sebagai kejadian global karena kami menemukan kesalahan inheren dalam metode penanggalannya,” katanya.

Satu-satunya cara, kata Dr Jensen adalah menemukan debu vulkanis Gunung Toba dan rekaman arkeologis mengenai populasi manusia.

Tapi Dr Marean yakin bahwa bukti permukiman manusia yang bertahan dari bencana global itu adalah bukti yang kuat. Walaupun harus diakui, sangat sulit mengestimasi pertumbuhan atau penurunan populasi manusia di lokasi tertentu menggunakan metode arkeologi. Yang mungkin dilakukan adalah mengetahui seberapa intens manusia menggunakan situs itu.

Jadi bukti arkeologis apa yang ditemukan dari situs itu? Dr Marean dan timnya menemukan cangkang kerang untuk persiapan makanan dan stone flakes yang dipakai sebagai alat.

Mereka mendapati, setelah letusan Gunung toba, intensitas populasi meningkat. Manusia berada pada kelompok yang lebih besar di situs itu atau tinggal lebih lama di situs tersebut.

Dr. Marean berharap teknik yang mereka pakai bisa dipakai oleh peneliti lain saat meneliti situs lain di Benua Afrika. Sehingga bisa diketahui apakah populasi lain juga mengalami penambahan setelah letusan Gunung Toba. Sebab dua situs itu tak bisa dipakai untuk menjelaskan dengan gamblang mengenai dampak letusan Toba pada iklim global.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: