Press "Enter" to skip to content

Begini Dahsyatnya Radiasi pada Korban Bom Atom Hiroshima

“Little Boy” dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945. Itu bukan anak kecil, melainkan sebuah bom atom yang kemudian mencabut nyawa sekitar 45.000 orang. Masa depan Jepang dan dunia tak pernah sama setelah itu.

Tapi fakta-fakta di balik peristiwa pengeboman itu masih mencengangkan kita, bahkan sampai sekarang. Salah satunya adalah soal seberapa besar sebetulnya radiasi yang terjadi saat bom meledak dan bagaimana radiasi itu mempengaruhi para korban yang berjatuhan.

Sebuah studi dilakukan terhadap tulang rahang seorang korban yang berada pada jarak kurang dari 1,5 km dari pusat pengeboman. Ilmuwan mendapati bahwa dosis radiasi pada tulang itu sangat mengejutkan. Analisis menunjukkan dosis radiasi pada tulang itu adalah 9,46 grays (Gy).

Gy adalah nilai penyerapan satu joule energi radiasi per kilogram materi. Dalam kasus ini adalah tulang rahang tadi. Pengukurannya dilakukan menggunakan metode electron spin resonance (ESR).

Sang penulis studi, Oswaldo Baffa, profesor di University of Ribeirão Preto School of Philosophy, Science & Letters, di Sao Paulo, mengatakan setengah saja dosis itu sudah sangat mematikan kalau seluruh tubuh kita terekspos kepadanya.

Penelitian itu sendiri sudah berlangsung lama. Pada 1970-an, peneliti senior dalam studi itu, Sérgio Mascarenhas, yang sekarang adalah seorang fisikawan di University of São Paulo’s São Carlos Physics Institute, mendapati bahwa radiasi X-ray dan sinar gamma bisa membuat tulang manusia menjadi magnetik.

Fenomena ini, yang disebut paramagnetism, terjadi lantaran tulang mengandung satu mineral yang disebut hydroxyapatite. Ketika tulang mengalami radiasi, ia memproduksi CO2 yang kemudian mengeluarkan hydroxyapatite. Hasilnya adalah adanya radikal bebas yang digunakan sebagai penanda dosis radiasi pada tulang itu.

Pada 1972, Mascarenhas berada di Jepang untuk menguji metode itu pada sisa-sisa korban ledakan Hiroshima. Tapi lantaran sistem komputer saat itu belum terlalu canggih, analisisnya belum menyakinkan. Bertahun-tahun kemudian, seiring makin canggihnya sistem komputer, analisis Mascharenhas menemukan titik terang. Penemuan mereka diterbitkan di jurnal PLOS ONE.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: