Press "Enter" to skip to content

Menyelamatkan Terumbu Karang di Sangiang dengan Pipa PVC

Pulau Sangiang dijuluki ‘surga yang tersembunyi’ di ujung barat Pulau Jawa. Pantainya indah, menyajikan pemandangan yang memikat mata dan hati. Tapi siapa mengira, di surga yang tersembunyi ada jejak kerusakan yang tak terlihat mata. Terumbu karang di pulau itu dalam kondisi terancam.

Padahal, terumbu karang sangat penting bagi keseimbangan alam. Terumbu karang adalah tempat hidup biota lautan yang penting bagi ekosistem laut, termasuk bagi manusia.

Terumbu karang di Pulau Sangiang, Banten, kini terancam oleh berbagai aktivitas industri, wisata, reklamasi, dan pembangunan kawasan pesisir. Berdasarkan hasil survei baseline tutupan terumbu karang yang dilakukan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan PT Asahimas Chemical ditemukan adanya sedimentasi dan deposit sampah di dasar perairan pulau yang diduga akibat sedimentasi, limbah, serta pembuangan jangkar.

Pada banyak lokasi ditemukan karang keras yang sudah mati dan stres. Hal tersebut diduga karena karang mengalami bleaching atau memutih akibat lingkungan yang berubah. Peningkatan aktivitas wisata belum dibarengi dengan kesadaran memelihara ekosistem yang ada. Perahu wisata sering membuang jangkar di rerataan terumbu, dan wisatawan sering membuang sampah sembarangan.

Untuk menghadapi masalah itu, KEHATI dan PT Asahimas Chemical menandatangani kerja sama program rehabilitasi lanjutan terumbu karang di kawasan Pulau Sangiang, Banten. Melalui program ini diharapkan ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi perairan dapat diselamatkan.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, mengatakan, kerja sama ini bertujuan melanjutkan program rehabilitasi karang di Pulau Sangiang dalam kerangka program save our small islands (SOSIS) yang diinisiasi KEHATI. Tujuan dari program tersebut adalah untuk menyelamatkan pulau-pulau kecil di Indonesia. 

Salah satu strategi yang ditempuh KEHATI bersama PT Asahimas untuk memperbaiki kondisi ekosistem terumbu karang ini adalah pemasangan terumbu buatan dan transplatasi terumbu karang dengan memanfaatan media pipa PVC. Terumbu buatan berfungsi menyediakan media yang stabil bagi anakan karang.

Berdasarkan pengamatan lapangan koloni karang yang ditemukan utuh mulai tumbuh menempel menutupi subtrat. Hal ini menjadi pertanda bahwa koloni karang mulai melakukan adaptasi pada media taman baru.

“Transplantasi karang dapat menyediakan relung ekologis bagi biota laut lainnya. Oleh sebab itu, terumbu buatan dan transplantasi terumbu karang dapat menjadi salah satu metode perbaikan ekosistem terumbu karang di Pulau Sangiang,” kata Direktur PT. Asahimas Chemical Eddy Sutanto.

Program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Sangiang yang telah dilakukan pada tahun 2016-2017 dengan menggunakan media PVC menunjukkan keberhasilan. Fragmen karang keras yang ditransplantasikan di media buatan PVC bisa beradaptasi dan bertahan hidup, serta menunjukkan pertumbuhan. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan yang cukup signifikan, beserta keberhasilan dalam merestorisasi ekosistem di area tersebut.

“Hasil penelitan ini memberikan sinyal positif untuk melanjutkan program yang lebih luas dalam skala areal intervensi dan pelibatan stakeholder lain terutama kelompok nelayan setempat sebagai stakeholder penting,” kata Riki.

Implementasi metode propagasi dan transplantasi terumbu karang menggunakan substrat modul PVC akan diperluas pada dua lokasi tambahan. Selain itu, pada tahap ini juga akan didorong pelibatan masyarakat dalam kegiatan pelestarian ekosistem terumbu karang dan pulau, di antaranya melalui pelatihan wisata selam dan monitoring terumbu karang, serta peningkatan kapasitas dan peran kelompok nelayan penyewa kapal wisata dalam konservasi kawasan dan pemanfaatannya.

Apabila kelompok masyarakat berdaya, sadar dan mendapatkan manfaat dari kegiatan konservasi, tentu masyarakat akan bisa mengelola secara mandiri berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga hubungan sosial kemasyarakatan.

“Revitalisasi terumbu karang di Pulau Sangiang ini sekaligus merupakan kontrol ekologis bagi para pelaku industri di sana yang langsung bersinggungan dengan laut. Jika manajemen limbahnya tidak baik, maka akan berdampak terhadap ekosistem laut atau revitalisasi terumbu karang yang sedang dilakukan,” kata Riki.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: