Press "Enter" to skip to content

Cerita Rumah-Rumah Kuno di Sudut Kabupaten Sukabumi

Ada yang menarik di kawasan yang oleh masyarakat dinamai Kampung Tempo Dulu. Lokasinya berada di kampung Cijarian Pandai, Desa Cipetir, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Di lokasi ini ternyata masih banyak bangunan kuno yang masih berdiri tegak, yang merupakan peninggalan sejarah sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Di tempat ini masih berdiri kokoh sekitar delapan unit bangunan rumah yang berdiri sejak masa kolonial Belanda. Sebagian rumah tua yang berarsitektur Eropa itu ada yang kondisinya dibiarkan rusak oleh ahli warisnya. Sebagian lagi masih terawat dan difungsikan sebagai rumah tinggal.

Tokoh masyarakat Desa Cipetir Nunung M. Tolhan (65) mengatakan, deretan rumah tua yang berada di sana dibangun sekitar tahun 1925 dan 1930. Sampai saat ini rumah tua yang tersisa berjumlah delapan unit.

Tak hanya rumah saja, di lokasi ini juga terdapat masjid tua yang dibangun oleh warga pribumi pada zaman penjajahan Belanda pada 1941.

Masjid Al Munawaroh tersebut hingga kini masih bertahan dan belum dilakukan perubahan atau renovasi.

“Sangat disayangkan rumah di sini kurang dipelihara, karena ditinggalkan pemilik aslinya,” katanya.

Menurutnya, alasan ditinggal pemiliknya tersebut karena dulu pernah ada pemberontakan dari DI/TII tahun 1957. Pada saat itu orang-orang kaya di sini pergi ke kawasan perkotaan dan meninggalkan rumah miliknya.

“Ada yang diisi oleh pembantunya, ada yang dibiarkan kosong, makanya kurang terpelihara sehingga sangat disayangkan,” terangnya.

Hingga saat ini rumah-rumah tua ini ada yang dihuni oleh cucu dan cicit dan keturunan dari pendahulunya bahkan ada yang dibiarkan kosong.

Seperti Neneng Hasanah (35), salah satu cicit dari Haji Aisyah yang rumahnya masih berdiri kokoh tersebut mengaku, rumah yang ditinggalinya sampai sekarang ini merupakan warisan turun temurun dari keluarganya. Konon katanya rumah itu dibangun sekitar tahun 1930. “Ibu dan nenek lahir di sini, bahkan saya pun lahir di rumah ini,” ungkapnya.

Menurutnya, ia merupakan generasi keempat dari Hajah Aisyah. Rumah seluas 159 meter persegi itu belum pernah direnovasi, sehingga bangunannya terlihat masih asli, terbukti dari lantai yang masih pakai tegel dan kusennya yang masih terbuat dari kayu Rasamala.

“Paling hanya cat aja yang diubah, kalau yang lainnya mah masih asli,” pungkasnya.

Kontributor: Atep Maulana

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: