Press "Enter" to skip to content

Kisah Gempa NTB: Demi Keamanan, Mengungsi Jadi Pilihan

Gempa bumi berkekuatan 6,4 SR pada 29 Juli lalu, di Kabupaten Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat (NTB), masih menyisakan trauma bagi masyarakat. Hingga hari keempat, masyarakat masih bertahan di lokasi pengungsian yang telah disediakan pemerintah maupun di depan rumah masing-masing.

Sari (34 tahun), warga Desa Madayin Kecamatan Sambelia, menuturkan bahwa kondisi rumahnya meskipun tidak hancur namun rusak parah pada dinding dan aap, sehingga dia merasa ketakutan bila berada di dalam rumah. “Saat gempa, karena kuatnya goncangan, saya sempat terjatuh bersama anak balita ini,” ungkapnya di pengungsian Lapangan Madayin – Sambelia, sembari menggendong anaknya yang baru berusia 3 bulan.

Lapangan Madayin menampung 2.631 jiwa, terdiri dari 428 anak laki-laki, 491 anak perempuan, 1.094 dewasa laki-laki, 1.075 dewasa perempuan, 236 balita dan 1 orang difabel, serta 17 ibu hamil. Fasilitas yang ada yakni 3 tenda PMI, 5 tenda BNPB, 7 tenda Polisi, 4 tenda Kemensos dan tenda penampungan barang bantuan. “Di sini belum tersedia MCK (mandi, cuci, kakus), sehingga kami menggunakan masjid dan sekolah,” tutur Sari yang memiliki 6 anak.

Sehari-hari Sari berjualan makanan ringan di depan rumahnya. Sedangkan suami bekerja sebagai petani di ladang orang lain. Anak-anak usia sekolah, saat ini masih libur karena bangunan sekolah juga terdampak gempa, sehingga tidak dapat digunakan untuk belajar.

“Meskipun makanan dan minuman terpenuhi di sini, anak-anak udah mengeluh bosan tidur di pengungsian. Kalau siang panas, kalau malam dingin. Agar aman, saya dan keluarga memilih mengungsi, mengingat kondisi rumah yang berbahaya dan masih terjadi gempa,” katanya.

Dari 17 orang meninggal, 4 orang berasal dari Desa Madayin, 4 dari Desa Obel-obel dan 1 dari Desa Sugiyan. Sedangkan 2 orang dari Sembalun, pendaki 1 orang, dan 5 orang di Kabupaten Lombok Utara.

Pemerintah melalui BNPB, BPBD, Polri, TNI, Kemensos, PMI dan lembaga lain, terus memberikan bantuan kemanusiaan berupa terpal, tikar, selimut, pakaian, makanan, minuman, obat-obatan dan lainnya. “Saya berharap bisa dibangunkan rumah lagi yang aman dari gempa, agar anak-anak juga tenang,” harap Sari.

Kontributor: Atep Maulana

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: