Press "Enter" to skip to content

Seri Cerita dari Papua: Ini Tentang Koteka

Koteka adalah produk budaya yang akan selalu mengingatkan kita akan Papua dan masyarakatnya. Hingga kini, koteka masih melekat dalam budaya hidup sehari-hari masyarakat di sana, meskipun telah terjadi pergeseran.

Salah satu suku yang masih menggunakan koteka adalah Suku Mee di Kabupaten Paniai, Deyai, dan Dogiyai. Koteka merupakan perlengkapan pakaian tradisional yang digunakan laki-laki Suku Mee untuk menutupi kemaluannya.

Koteka Suku Mee terbuat dari buah labu putih/labu timun (bobee). Cara pembuatannya: buah labu putih yang sudah cukup umur dan bermutu baik dipetik kemudian dikeringkan, caranya bobee dimasukkan dalam pasir halus yang sudah dipanaskan, setelah panas kulit bobee melembek dan keluar isinya dari tiap ruasnya. Kemudian bobee tersebut digantung di perapian hingga mengering atau diasapi hingga mengeras.

Biasanya koteka dibuat oleh orang yang hendak mengunakannya atau keluarganya agar bisa memperkirakan ukurannya. Koteka yang dibuat untuk hiasan biasanya diberi corak. Cara memakai koteka ini adalah dengan memasangkan salah satu ujungnya ke ujung alat kelamin laki-laki, lalu diikatkan pada pinggang dengan tali yang terbuat dari serat pohon wupi. Untuk anak laki-laki muda biasanya ditambahkan dengan cawat (paute) yang terbuat dari serat kulit kayu, tetapi sekarang sudah jarang terlihat. Terkadang pembuatan koteka dilakukan juga saat labu masih di pohon, di mana buah dibentuk sesuai keperluan.

Perempuan Suku Mee menggunakan rok (oko), yang merupakan perlengkapan pakaian yang digunakan kaum perempuan untuk menutupi tubuh bagian bawah. Bahan dan pembuatannya sama dengan cawat (paute) hanya lebih panjang, biasanya di atas lutut pemakai dan lebih lebar dari cawat/paute.Itulah secuil kisah tentang koteka. Apa pendapat kalian melihat koteka sebagai produk budaya?

Kontributor: Hari Suroto

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: