Press "Enter" to skip to content

Yudas Iskariot dan Misteri yang Mengikutinya

Sebentar lagi Paskah. Kalau bicara hari Paskah, pasti akan ketemu dengan kisah Yesus dan murid-murid-Nya. Kalau bicara murid-murid-Nya, maka pasti akan ketemu dengan salah satu murid yang disebut sebagai pengkhianat, yaitu Yudas Iskariot.

Tahukah kamu, Yudas ternyata termasuk murid Yesus yang masih menyisakan misteri sampai kini. Dikenal sebagai murid yang berkhianat dengan ‘menjual’ Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi untuk uang sebanyak 30 keping perak, tak banyak kisah yang terungkap mengenai Yudas, selain dari yang disebut di dalam Alkitab.

Nama Yudas disebut dalam keempat kitab Injil dalam Perjanjian Baru, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Sebagai tambahan, namanya juga muncul dalam kitab Kisah Para Rasul. Kisah pengkhianatannya juga sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.

Dia direkrut menjadi murid Yesus dan masuk ke dalam lingkaran inti 12 rasul. Namun, di dalam Alkitab, “Hanya tokoh Simon Petrus yang paling banyak dibahas oleh para penulis Alkitab ketimbang Yudas,” kata William Klassen dalam bukunya: “Judas: Betrayer or Friend of Jesus?” (Fortress Press, 1996), seperti dikutip oleh Live Science, baru-baru ini.

Tak banyak kisah mengenai Yudas selain yang bersumber dari Alkitab. Inilah sebabnya ada ilmuwan yang meragukan bahwa Yudas itu pernah ada. “Belum ada yang berhasil menemukan sumber independen tentang Yudas selain dari naratif yang ada di Perjanjian Baru, sehingga sebagian ilmuwan tak yakin Yudas itu eksis dalam sejarah,” ujar Susan Gubar, seorang profesor emeritus di Indiana University, dalam bukunya “Judas” (W.W. Norton & Company, 2009).

Di dalam Alkitab juga tak disebut tentang kapan dan di mana Yudas lahir. Ketiga Injil Matius, Markus, dan Lukas sama-sama menyatakan bahwa Yudas menandai Yesus dengan menciumnya saat orang banyak datang untuk menangkap Yesus. Lalu Yesus ditangkap, diadili, lalu dihukum mati dengan disalibkan.

Mengapa Yudas mencium untuk menandai? Ada naskah berbahasa Koptik (bahasa Mesir yang menggunakan alfabet Yunani) yang disebut berusia 1.200 tahun, yang menyatakan bahwa Yudas perlu mencium Yesus untuk menandai, sebab Yesus memiliki kemampuan mengubah penampilannya. Kitab Injil sendiri memang tak menyebutkan alasan mengapa Yudas harus mencium Yesus untuk mengidentifikasi.

Semua Injil mengindikasikan bahwa Yesus sudah tahu bahwa dirinya akan dikhianati ketika Dia dan murid-murid-Nya mengadakan perjamuan. Injil Yohanes bahkan mengatakan bahwa Yesus mengkonfrontasi Yudas dalam perjamuan tersebut dan memintanya segera melaksanakan apa yang direncanakannya. Sedangkan Lukas dan Yohanes sama-sama mengatakan bahwa setan telah memasuki Yudas dan mempengaruhinya untuk berkhianat.

Injil Yohanes juga menggambarkan Yudas sebagai sosok yang tak bisa dipercaya. Sebab sebagai bendahara, Yudas bertanggung jawab atas uang mereka dan kadang-kadang mencuri, sebagaimana digambarkan di dalam Yohanes 12:4-6.

Tentang kematiannya, ada dua versi. Matius mengatakan Yudas menyesal telah mengkhianati Yesus, mengembalikan duit suap lalu menggantung dirinya sendiri. Di Kisah Para Rasul disebutkan, Yudas sempat menggunakan uang itu untuk membeli sebidang tanah tempatnya bunuh diri. Warga Yerusalem kemudian mendengar hal itu dan menyebut tanah itu sebagai Akeldama atau Tanah Darah.

Pada 2006, National Geographic menerbitkan dokumenter bertajuk “Gospel of Judas,” sebuah teks dari abad ketiga yang disebut dapat menggambarkan mengenai Yudas secara lebih terang. Teks berbahasa Koptik itu menyatakan bahwa Yesus meminta Yudas mengkhianatinya supaya eksekusi bisa terjadi. Jelas kalangan teolog dan ilmuwan meragukan keabsahan teks itu.

April DeConick, Kepala Departemen Agama di Rice University di Houston, menulis bahwa ada sejumlah kesalahan dalam translasi atau penterjemahan yang dilakukan oleh National Geographic dan timnya. Dia menyatakan, teks itu adalah parodi tentang Yudas yang ditulis oleh sekelompok Gnostik yang disebut kaum Sethian. Terjemahan terbaru dan studi mengenai Gospel of Judas dijadwalkan akan diterbitkan pada April ini oleh Oxford University Press. Kita tunggu saja, apa sih sebenarnya terjemahannya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: