Press "Enter" to skip to content

Uniknya Kampung Pembuat Gerabah di Papua, dari Mana Asalnya?

Abar merupakan kampung yang unik. Berada di kawasan Danau Sentani, kampung ini hingga kini masih memproduksi gerabah. Gerabah dari kampung Abar umumnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan peralatan masak maupun wadah penyimpanan makanan bagi masyarakat di wilayah Sentani dan sekitarnya.

Munculnya kerajinan gerabah di Kampung Abar dimulai oleh marga Felle dari suku Assatouw. Kerajinan gerabah tersebut diperkenalkan oleh nenek moyang marga Felle yang bermigrasi dari Pasifik, dengan berlayar hingga tiba di wilayah Papua. Mereka datang dengan membawa tanah liat yang diikat dalam wadah dari pelepah nibung. Ketika bermigrasi, nenek moyang marga Felle tersebut tiba di kampung Kayu Batu di wilayah Teluk Humbold, Kota Jayapura, dan mereka tinggal di tempat tersebut untuk beberapa waktu dan selanjutnya melakukan perjalanan ke arah Danau Sentani.

Namun demikian tanah liat yang dibawa dari Pasifik tersebut, ada sebagian yang terjatuh di wilayah Kayu Batu, hal ini mungkin yang membuat masyarakat yang tinggal di kampung Kayu Batu juga membuat gerabah. Perjalanan jauh dari kampung Kayu Batu hingga tiba di kawasan Danau Sentani yaitu di kampung Yobe, dan mereka tinggal di tempat tersebut sampai beberapa generasi, namun karena ada masalah di Dusun Kelapa akhirnya merekapun berpindah lagi, dan tiba di Kampung Atamali.

Di Kampung Atamali, mereka diterima dengan baik dan diberi tempat tinggal oleh suku yang ada. Kemudian nenek moyang marga Felle pun tinggal bersama di kampung Atamali untuk beberapa waktu, dan ketika itu juga tanah liat yang mereka bawa dari timur dikembalikan ke alam di wilayah kampung yang sekarang disebut kampung tua atau kampung Ebale, dan mereka juga tinggal di wilayah tersebut serta membuat kerajinan gerabah. Selanjutnya nenek moyang suku Felle membuka kampung baru ke arah selatan yaitu di tempat kampung Abar sekarang ini berdiri.

wilayah kampung Abar ini, marga Felle terus membuat kerajinan gerabah. Kerajinan ini awalnya dibuat hanya oleh laki-laki di dalam ruang tertutup dan tidak boleh ada orang yang melihatnya. Pembuatan gerabah ini dibuat secara sembunyi-sembunyi dan pembakarannya dilakukan pada saat malam hari karena ada aturan yang harus ditaati, dan jika aturan tersebut dilanggar maka gerabah yang dihasilkan tidak baik yaitu pecah dan hancur.

Seiring perjalanan waktu dan pembauran masyarakat suku-suku di Kampung Abar, kerajinan gerabah pun beralih dikerjakan oleh kaum perempuan dan kaum laki-laki juga kadang membantu. Pembuatan kerajinan ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun tetap mengikuti aturan-aturan adat yang berlaku, dan pembuat kerajinan tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh marga Felle, tetapi oleh semua suku yang ada di Kampung Abar demi kebersamaan dan persekutuan antarsuku. Dalam aturan adat disebutkan dalam kegiatan mengambil bahan tanah liat atau dalam membuat gerabah tidak boleh dilakukan oleh para perempuan yang sedang datang bulan atau juga dalam keadaan hamil. Ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tanah liat, dan jika ada yang melanggar aturan tersebut maka gerabah yang dihasilkan akan hancur.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: