Press "Enter" to skip to content

Proyek Arkeologi Raja Ampat: Membuka Gerbang Sejarah Masa Lalu Manusia Antara Asia dan Pasifik

Kepulauan Raja Ampat terletak tidak jauh dari Semenanjung Kepala Burung Papua di Ujung Samudra Pasifik bagian barat. Kawasan ini membentuk ekosistem terumbu karang terkaya di bumi ini, sehingga disebut sebagai jantung dari segitiga terumbu karang. Perairan biru cerah di pinggiran pantai kepulauan Raja Ampat dipenuhi dengan lebih dari tiga perempat spesies karang dunia, bersama ribuan spesies ikan, penyu laut, ikan pari, ikan hiu, ikan duyung, dan lumba-lumba. Kondisi pulau berhutan hujan yang lebat ini merupakan rumah bagi sejumlah besar hewan-hewan berkantung penghuni pohon seperti kuskus beserta biawak, ular, burung enggang, kasuari, burung beo, dan burung cendrawasih.

Kebudayaan di Raja Ampat juga beragam. Pulau-pulau tersebut dihuni oleh sekitar 50.000 orang, yang bertutur menggunakan delapan bahasa berbeda di mana semuanya termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Sampai baru-baru ini sebagian besar dari kelompok-kelompok ini mencari nafkah dengan memanen pohon tradisional mereka yang berupa sagu, diiringi berburu, memancing, dan memproduksi barang-barang seperti gerabah yang dapat digunakan sebagai alat tukar di sekitar area pulau. Berdasarkan catatan tertulis para penjelajah awal dan sejarah lisan penduduk pulau itu sendiri, terlihat jelas bahwa wilayah ini telah lama menjadi wilayah percampuran manusia, gagasan, dan budaya material, di mana bukti tersebut dapat menghubungkan masyarakat Asia Tenggara kepulauan di bagian timur dengan masyarakat Papua bagian barat.

Tetapi para arkeolog hampir tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang hidup di pulau-pulau ekuatorial yang kaya dan beragam ini pada masa lalu, sebelum catatan mulai tertulis. Siapa orang-orang kuno yang menghuni gerbang antara Asia dan Pasifik? Diketahui bahwa beberapa populasi dari spesies kita sendiri, Homo sapiens, meninggalkan Afrika dan pindah melalui Asia ke Pasifik sekitar 70.000 tahun yang lalu. Perjalanan manusia yang luar biasa ini terjadi selama Zaman Es, ketika Papua Nugini dan Australia pernah dihubungkan oleh jembatan darat yang membentuk benua di mana oleh para arkeolog disebut Paparan Sahul. Demikian pula, bagian paling selatan dari Kepulauan Raja Ampat pernah terhubung dengan Paparan Sahul bagian barat laut karena permukaan laut pada Zaman Es mengalami penurunan, sementara di bagian utara terpisahkan dari Paparan Sahul oleh penyeberangan air dekat yang hanya sekitar 5 km.

Para arkeolog belum mengetahui rute yang ditempuh manusia untuk memasuki Paparan Sahul atau perilaku adaptif yang memungkinkan pencapaian area ini, tetapi studi pemodelan komputer baru-baru ini telah memungkinkan beberapa peneliti untuk berhipotesis bahwa Kepulauan Raja Ampat mewakili lokasi pendaratan yang paling mungkin bagi para pelaut Zaman Batu ketika mereka tiba di Paparan Sahul untuk pertama kalinya. Simulasi komputer lain menunjukkan bahwa kolonisasi ini disengaja dan melibatkan ratusan orang yang merencanakan perjalanan mereka, dan dengan sengaja mengarahkan perahu atau rakit kecil dari pulau-pulau Asia Tenggara untuk mencapai Paparan Sahul.

Proyek Arkeologi Raja Ampat mulai menguji hipotesis ini dan membuka dinamika migrasi dan perilaku manusia purba di zona ekologis yang luar biasa ini. Proyek ini mengajukan pertanyaan seperti ‘apa dampak yang dimiliki manusia purba terhadap lingkungan yang unik ini?’ Dan ‘bagaimana penghuni Kepulauan Raja Ampat pertama kali mengadaptasi sistem sosial, teknologi, dan subsistensi mereka untuk hidup di kepulauan ini, yang dipenuhi hutan hujan tropis dan terumbu karang?’

Ada juga petunjuk dari rekonstruksi sejarah linguistik, bahwa di kemudian hari, para pemukim Neolitikum bergerak melalui area tersebut dengan membawa tradisi pembuatan gerabah dan bahasa Austronesia yang secara eksklusif digunakan di pulau-pulau saat ini. Keturunan pemukim ini kemudian pergi ke pulau-pulau di Samudra Pasifik yang terpencil untuk pertama kalinya setelah 3000 tahun yang lalu, untuk bermukim di samudera terbesar di dunia sampai sejauh Rapa Nui (Pulau Paskah), Hawai’i, dan Aotearoa/Selandia Baru. Jadi bagaimana berbagai populasi pendatang baru Neolitik berinteraksi dengan populasi mapan di Raja Ampat dan membentuk kembali lingkungan dan masyarakat dengan cara mereka sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tim memulai beberapa bulan survei peninjauan potensi arkeologis dan melakukan penggalian di Waigeo dan Gam, pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat. Tim itu melibatkan Dylan Gaffney (University of Cambridge, Inggris), Daud A. Tanudirjo (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Erlin Novita Idje Djami (Balai Arkeologi Papua), Abdul Razak Matcao (Balai Pelestarian Nilai Budaya Jayapura) dan Tristan Russell (University of Otago, Selandia Baru). Pada tahun 2018 dan 2019, dengan bantuan pemandu lokal, nelayan, dan pemburu, para arkeolog dapat menemukan dan mencatat lebih dari 150 situs arkeologi yang sebelumnya tidak dikenal. Temuan ini termasuk lukisan batu, desa-desa bersejarah dari masa kolonial Belanda, gua dan tempat pemakaman, peninggalan Perang Dunia II, persebaran gerabah kuno dan alat-alat batu, tempat-tempat yang berkaitan dengan tradisi lisan lokal dan mitos, situs gua dan ceruk besar, dan sampah kerang yang dapat menunjukkan lokasi desa-desa awal.

Ketika tim bersiap-siap untuk penggalian, fokus mereka beralih ke gua-gua batu kapur yang sangat besar yang terletak di dalam hutan hujan, sering kali di atas permukaan tebing setinggi 30 meter, dan sekarang menjadi rumah bagi koloni ratusan kelelawar atau kalong. Situs-situs ini dianggap mengandung jejak pemukiman paling awal di kepulauan itu, ketika para pemburu-peramu menggunakannya sebagai tempat perlindungan sementara. Maka para arkeolog bekerja bersama anggota masyarakat setempat untuk menggali tiga gua di sekitar Waigeo dan Kepulauan Gam, penggalian dilakukan hingga kedalaman dua setengah meter di beberapa area, untuk mengungkap seperti apa pemukiman manusia di masa lalu.

Para penggali bekerja secara sistematis, dengan cermat menghilangkan lapisan demi lapisan, sentimeter demi sentimeter, perlahan semakin menggali lebih dalam. Data arkeologis dipetakan dengan hati-hati dalam tiga dimensi dan tanah yang digali kemudian disaring menggunakan ayakan kecil sehingga artefak dan tulang-tulang kecil tidak akan terlewatkan. Semua data arkeologis ini dikemas dan direkam sehingga lokasi dan konteksnya dapat diinterpretasikan dengan tepat, secara perlahan-lahan keseluruhan data disatukan untuk melihat proses pembentukan situs.

Penggalian ini mengungkapkan lapisan stratigrafi aktivitas manusia yang kompleks. Hal ini termasuk fitur perapian dan sampah saat manusia melakukan aktivitas memasak dan mengolah makanan, bersamaan dengan sisa-sisa artefak, di mana manusia telah memproduksi dan membuang alat sehari-hari mereka. Di lapisan paling atas penggalian, telah dilakukan penanggalan radiokarbon terhadap pecahan gerabah yang menunjukkan pertanggalan periode Neolitik, dan menunjukkan kesamaan dengan tradisi gerabah lainnya di Papua Nugini utara bagian barat dan Asia Tenggara kepulauan. Lebih dalam ke bawah lagi, banyak alat yang lebih tua yang merupakan serpihan batu yang dulunya digunakan untuk kegiatan memotong dan mengikis, dan ‘lancipan tulang,’ mungkin digunakan sebagai jarum untuk memasang dan melubangi serat kain. Lancipan tulang juga ditemui di situs-situs lain di Asia Tenggara dan Papua Nugini bagian barat, dengan pertanggalan sekitar 45.000 tahun yang lalu hingga sekitar awal Neolitikum, 3000 tahun yang lalu. Di Afrika dan Eropa, inovasi teknologi tulang komposit dipandang sebagai penanda munculnya peningkatan fleksibilitas kognitif dalam spesies kita.

Seiring dengan kemajuan penelitian, baik di lapangan maupun di laboratorium, tim mulai memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan mereka. Hal ini termasuk spesies binatang apa yang sedang diburu dan dijadikan makanan di Kepulauan Raja Ampat, bagaimana mereka membuat artefak batu dan artefak tulang, di mana area jelajah mereka dan mengumpulkan bahan makanan, lalu ketika kelompok pembawa budaya gerabah tiba di daerah itu, dan bagaimana populasi yang berbeda ini mengadaptasi cara hidup mereka untuk berkembang di kepulauan berhutan hujan unik ini.

Dalam memulai penggalian masa lalu yang dalam di Papua Barat, kita dapat menyumbangkan pemahaman yang jelas terhadap kisah manusia yang menginspirasi dari penduduk Kepulauan Pasifik pertama dan populasi keturunan mereka yang tinggal di daerah tersebut saat ini.

Penulis: Dylan Gaffney (arkeolog dari University of Cambridge) Bisa dihubungi di Instagram: @deegaffer

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: