Press "Enter" to skip to content

Toilet Pengompos, Ubah Kotoran Jadi Kompos

Indonesia masih menjadi negara dengan sanitasi terburuk di dunia. Menurut data badan PBB, Unicef, masih ada 25 juta masyarakat Indonesia yang tidak punya akses ke toilet yang memadai. Mereka buang air besar sembarangan di mana saja. Padahal risiko perilaku semacam ini sangat tinggi terhadap kesehatan kita.

Untuk menjawab kebutuhan akan sanitasi yang baik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Research Institute for Humanitu and Nature (RIHN) Jepang berinisiatif membuat teknologi toilet yang mampu melakukan pengomposan sendiri. Teknologi toilet pengompos ini adalah teknologi yang dikembangkan oleh Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI.

“Proyek ini sudah berjalan beberapa tahun dan tidak hanya menghasilkan teknologi pada skala pilot tetapi juga menelurkan publikasi internasional, paten, hingga pendanaan penelitian,” kata Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) LIPI, Ajeng Arumsari, dalam keterangannya.

LIPI dan RIHN melakukan sosialisasi dan pemasangan toilet pengompos itu di SD Negeri Babakan Sinyar 210, Kota Bandung, Jawa Barat.

Toilet pengompos dapat mengolah limbah kotoran manusia menjadi pupuk maupun pupuk cair. Toilet didesain sebagai toilet duduk agar arah pembuangan dan kebersihannya dapat terjaga. “Sistem pemisah di dalamnya memungkinkan urin dipisahkan dari tinja.” ujar peneliti LPTB LIPI, Neni Sintawardani.

Perwakilan RIHN, Ken Ushijima menjelaskan Toilet Pengompos ini merupakan bagian proyek Sanitation Value Chains dari enam negara termasuk Indonesia. Proyek internasional ini melibatkan banyak disiplin ilmu seperti ekonomi, teknologi, desain visual, hingga kemanusiaan. Termasuk menciptakan nilai dari kegiatan sanitasi.

Kepala Sekolah SDN Babakan Sinyar 210 Kota Bandung, Memi Sumiati, merasa senang sekolahnya dipasangi Toilet Pengompos. Dia berharap Toilet Pengompos ini mampu menjadi wahana bagi para guru dan terutama siswa – siswi SDN Babakan Sinyar 210 Kota Bandung untuk memperdalam wawasannya tentang sanitasi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: