Press "Enter" to skip to content

Sriwijaya, Kerajaan Besar dalam Catatan Sejarah

Kerajaan Sriwijaya sedang ramai dibicarakan gara-gara komentar seseorang. Sosok tua itu menyebut Śrīwijaya itu cuma fiktif. Itu hanya merupakan kumpulan bajak laut dari Koromandel di India. Benarkah?

Saya bisa tidak perduli dengan rancauannya, tetapi saya sangat perduli dengan dampaknya pada masyarakat yang pemahaman sejarahnya belum kuat benar. Apa betul Śrīwijaya merupakan kumpulan kawanan bajak laut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan sedikit bercerita tentang hasil penelitian arkeologi di pantai timur Sumatra.

Kawasan pantai timur Sumatra mulai dari wilayah provinsi Sumatera Utara hingga Lampung merupakan rawa-rawa lahan gambut. Di kawasan ini bermuara sungai-sungai besar yang mengendapkan material lumpur dengan kandungan ranting-ranting tanaman, potongan-potongan kayu, dan lain-lain. Beberapa di antaranya membentuk delta, misalnya delta Batanghari dan delta Musi.

Pada saat ini kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai hunian oleh para transmigran dan juga oleh para pendatang dari Sulawesi Selatan yang dengan sengaja membukanya untuk lahan pertanian.

Bagaimana keadaan di masa lampau di kawasan ini jauh sebelum lahirnya kedātuan Śrīwijaya, sebuah kerajaan maritim yang kekuatannya didominasi oleh orang-orang bahari? Siapa dan darimana mereka datang? Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di kawasan lahan gambut menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya sejak abad ke-4 Masehi kawasan ini telah dihuni.

Awal Hunian Rawa
Diaspora orang-orang para penutur rumpun bahasa Austronesia berlangsung sejak 3000 Sebelum Masehi hingga millenium pertama tarikh Masehi. Mereka datang dari Taiwan dengan cara menyeberangi pulau-pulau di Filipina hingga akhirnya tiba di Sulawesi dan Kalimantan.

Berdasarkan temuan alat-alat batu dan cerita rakyat di Kalimantan, beberapa pakar arkeologi dan linguistik merekostruksi perjalanan mereka hingga menyebar ke Nusāntara. Dari Kalimantan pada 500 SM menyeberang lagi ke Semenanjung Tanah Melayu, Sumatra, Jawa, dan ada yang kembali lagi ke arah timurlaut Kalimantan.

Para penutur rumpun bahasa Austronesia ini, dari Kalimantan Barat (kira-kira di sekitar Sambas) mereka menyeberang dan mendiami kawasan pantai timur Sumatra di daerah yang berawa-rawa. Di antara kawasan yang mereka huni adalah kawasan rawa di pesisir timur Sumatra bagian selatan.

Pada awal kedatangannya kawasan ini masih berupa rawa yang ditumbuhi hutan bakau (Mangrove), dan sebagian lagi merupakan perairan dangkal. Mereka tinggal di kawasan lahan basah dengan mendirikan rumah di atas tiang yang tinggi, dan mereka bermata-pencaharian sebagai nelayan dan mungkin saudagar. Hasil budaya yang mereka tinggalkan ditemukan di Situs Karangagung dan Situs Air Sugihan di Provinsi Sumatera Selatan, dan Situs-situs Tanjung Jabung Timur (delta Berbak) di Provinsi Jambi.

Tinggalan budaya masa lampau yang dari Situs Karangagung Tengah terdapat di 21 unit lokasi, antara lain Mulyaagung, Karyamukti, Karangmukti, Sariagung Sukajadi, dan Bumiagung. Tinggalan budaya yang ditemukan dari unit-unit ini antara lain tiang kayu sisa rumah tinggal, kemudi perahu, barang-barang tembikar, manik-manik kaca dan batu, artefak logam, pelandas (alat untuk membuat barang tembikar), bandul jaring, batu asah, dan gelang kaca dan logam.

Berdasarkan analisis laboratorium karbon C-14, situs ini diduga berasal dari sekitar abad ke-4 Masehi. Melihat dari jenis tinggalan budaya ini, diduga masyarakat di Karangagung Tengah ini hidup dari masa prasejarah atau paling tidak dari masa proto sejarah (masa peralihan dari prasejarah ke sejarah). Temuan yang berupa liontin berbentuk sosok manusia mengidikasikan dari masa prasejarah.

Keletakkannya di daerah pantai memungkinkan berhubungan dengan kawasan lain yang jauh seperti dengan India dan Tiongkok. Dari Situs Karangagung ditemukan tembikar yang mempunyai ciri kuat dari Arikamedu dekat Pondicherry, sebuah pelabuhan di India Selatan – Tenggara. Tembikar Arikamedu biasanya mempunyai ciri hiasan lingkaran konsentris pada bagian dasar sebelah dalam. Di bagian dinding luarnya ada yang polos dan ada pula yang diberi hiasan teknik gores. Bukti arkeologis ini mengindikasikan adanya hubungan dengan India. Apakah orang-orang dari Karangagung yang ke India, atau para saudagar India yang datang ke Nusāntara dalam rangka mencari rempah-rempah.

Sisa permukiman lahan basah di pantai timur Sumatra ditemukan juga di Situs Air Sugihan. Dari situs ini ditemukan tinggalan budaya masa lampau berupa manik-manik batu dan kaca, pelandas, gelang logam dan kaca, artefak logam, tembikar, dan keramik. Pertanggalan sementara dari situs ini didasarkan atas temuan dua buah teko yang berasal dari masa Dinasti Sui (581-618 Masehi). Banyaknya temuan manik-manik batu karnelian mengindikasikan bahwa manik-manik jenis ini diimpor dari India, karena pada masa itu (sekitar abad ke-6 Masehi) manik-manik tersebut merupakan komoditi penting dari India yang dikapalkan melalui Arikamedu. Ada juga manik-manik dari emas yang bentuknya sama seperti manik karnelian. Menurut Sumarah Adhyatman, seorang peneliti manik-manik, manik-manik ini berlanggam abad ke-3-7 Masehi.

Bukti-bukti arkeologis dari situs-situs tersebut mengindikasikan bahwa hubungan dengan India sudah berlangsung lama. Tembikar Arikamedu merupakan indikator kuatnya. Melihat pertanggalan situs Karangagung, setidak-tidaknya hubungan dengan India sudah berlangsung sejak abad ke-4 Masehi. Relatif jauh lebih tua dari pertanggalan yūpa dari Muara Kaman (Kutai, Kalimantan Timur). Dengan kata lain, dari tempat inilah penduduk Nusāntara mulai “mengundang” budaya India ke Nusāntara, sebelum berkembangnya ajaran Hindu dan ajaran Buddha.

Tinggalan Budaya
Pemukiman di lahan basah ini merupakan pemukiman kelompok masyarakat yang hidupnya dari aktivitas kebaharian. Mereka inilah yang dulunya diduga merupakan kelompok masyarakat yang “mendukung” peradaban Kedātuan Śrīwijaya dengan kemahirannya berperang di perairan sungai dan laut sebagaimana diberitakan oleh berita Tionghoa, Chau Ju Kua. Pengembangan teknologi pembangunan perahu hingga menjadi moda transportasi yang handal pada masa itu merupakan karya yang “monumental” mereka. Dengan moda transportasi inilah Kedātuan Śrīwijaya dapat berjaya di perairan Nusāntara.

Dalam aktivitas pelayaran jarak jauhnya para pelaut Śrīwijaya ini selama berhari-hari di laut. Sudah barang tentu mereka memerlukan perbekalan untuk makan dan minum, alat-alat memasak dan peralatannya. Di antara peralatan memasak yang biasa ditemukan pada perahu tradisional adalah tungku yang mudah dibawa-bawa. Tungku yang oleh para arkeolog biasa disebut “tungku sepatu” banyak ditemukan di situs-situs arkeologi di lahan basah baik yang sudah pecah maupun utuh.

Ekskavasi di Situs Margo Mulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin di Sumatera Selatan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional pada tahun 2011 berhasil menemukan kepingan-kepingan papan perahu, kemudi dan dayung dari kayu. Sisa-sisa perahu tersebut berasosiasi dengan tiang-tiang bangunan dari kayu nibung, keramik dan tembikar (termasuk jenis tungku), manik-manik, dan tempurung kelapa. Situs ini terletak di tepi alur sungai lama yang tidak diketahui namanya yang telah lenyap akibat reklamasi lahan untuk permukiman transmigran. Jenis tungku yang ditemukan pada masa kini misih ditemukan di daerah Kayuagung (Sumatra Selatan) dengan istilah tungku kran, dan biasa dibawa dan dipakai pada perahu kajang (perahu tradisional di Kayuagung).

Menurut Peter Bellwood (1985) temuan tungku tembikar di Situs Bukit Tengkorak berkaitan dengan penjelajah bahari di kawasan Sabah-Sulu. Mereka menggunakan tungku untuk perlengkapan di perahu. Data etnografi menggambarkan adanya kelompok Austronesia yang dulunya menerapkan perekonomian yang khas di pinggiran wilayah budaya Indo-Malaysia, yaitu Orang Laut atau Suku Laut. Mereka terpusat dalam dua kawasan yang terpisah, yaitu sepanjang pantai Selat Malaka dan Kepulauan Riau, serta di pantai timur laut Kalimantan dan Sulu yang saling berdekatan.

Jenis tungku kran Kayuagung mengingatkan arkeolog pada tungku yang digunakan dalam perahu-perahu masa Śrīwijaya dan bahkan jenis tembikar itu ditemukan pula pada situs-situs permukiman masa prasejarah di Asia Tenggara. Tungku semacam itu ditemukan pada muatan kapal Śrīwijaya abad ke-10 Masehi yang tenggelam di Laut Jawa sebelah utara Cirebon.

Suku Laut
Berbicara mengenai kebaharian, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan Śrīwijaya. Berdasarkan berita-berita tertulis yang sampai kepada kita, kedātuan ini telah malang melintang di perairan Asia Tenggara sampai ke daerah Madagaskar di selatan be-nua Afrika. I-tsing, seorang bhikṣu Buddha dari Tiongkok, banyak mencatat perkembangan Kedātuan Śrīwijaya pada sekitar abad ke-7 Masehi. Ia mengatakan bahwa pelayaran ke negeri Tiongkok dilakukan oleh kapal-kapal Śrīwijaya. Sebuah studi pelayaran masa lampau juga memperoleh bukti, bahwa banyak nama-nama tempat di pantai Campa dan Annam (Vietnam sekarang) berasal dari bahasa Melayu. Hal ini mendukung pendapat bahwa pelayaran orang-orang Mālayu ke negeri Tiongkok memang dilakukan oleh pelaut-pelaut Mālayu dengan menggunakan perahunya sendiri. Studi Wolters, seorang pakar Śrīwijaya dari Cornell University, mengenai abad-abad pra-Śrīwijaya pun membawa kita pada kesimpulan bahwa “the shippers of the ‘Persian’ trade” adalah orang-orang Mālayu (Wolters 1974). Orang-orang Mālayu memang pelaut ulung, sehingga orang-orang Portugis membuat buku pandu laut (roteiros) berdasarkan petunjuk-petunjuk dari pelaut Mālayu. Ketangguhan bangsa Mālayu sebagai pelaut ulung hingga sekarang masih tersisa, misalnya seperti yang masih dapat disaksikan pada suku bangsa Melayu di daerah Kepulauan Riau.

Di daerah kepulauan itu tinggal suku bangsa yang hidupnya sebagian besar tergantung kepada hasil laut. Di samping itu kesenian daerahnya pun selalu menggambarkan kehidupan laut. Ingatlah akan salah satu syair dendang Melayu yang bunyinya “Perahu Cina ke Indragiri. Anaklah Riau jadi nahkoda”. Dan masih banyak lagi syair-syair dendang Melayu yang berbau laut.

Tidak ada satupun sukubangsa yang berkebudayaan lebih maritim daripada sukubangsa Orang Laut. Sukubangsa ini mendiami daerah-daerah muara sungai dan hutan bakau di pantai timur Pulau Sumatera, Kepulauan Riau-Lingga, dan pantai barat Semenanjung Malaysia sampai ke Muangthai selatan (Lapian 1979: 99). Mereka hidup di rumah-rumah di atas perahu menjadikan mereka ‘orang laut’ dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah berita Tionghoa yang berasal dari tahun 1225, Chau Ju Kua menguraikan tentang rakyat di kerajaan Swarnnabhūmi. Disebutkan bahwa rakyat tinggal di sekitar kota atau di atas rakit yang beratap rumbia. Mereka itu tangkas dalam peperangan baik di darat maupun di laut. Dalam peperangan dengan kerajaan lain, mereka berkumpul. Berapa pun keperluannya, dipenuhi. Mereka sendiri yang memilih panglima dan pemimpinnya. Semua pengeluaran untuk persenjataan dan perbekalan ditanggung oleh mereka masing-masing. Dalam menghadapi lawan dengan resiko mati terbunuh, di antara bangsa-bangsa lain sukar dicari tandingannya. Mungkinkah Orang Laut yang mendiami Sumatra bagian timur itu keturunan dari mereka itu?

Kelompok masyarakat Suku Laut ini sudah sejak masa awal sejarah, katakanlah sejak masa Śrīwijaya, yang mendiami lahan basah dan perairan dangkal di Kepulauan Riau dan pesisir timur Sumatra. Mereka bertempat tinggal di rumah-rumah kayu yang dibangun di atas rawa, atau tinggal di dalam perahu yang mengelompok dalam satu komunitas yang ditambatkan pada teluk yang tenang. Mereka telah mengenal perdagangan jarak jauh dengan Persia, India, dan Tiongkok. Terbukti dari sisa-sisa hasil budaya mereka yang ditemukan di daerah lahan basah. Kelompok masyarakat Suku Laut ini ketika jaman kolonialisme Belanda mereka dianggap sebagai kelompok bajak laut yang suka merampok kapal-kapal Belanda. Itu menurut pandangan orang Belanda, seperti juga pandangan si kakek tua.

Bambang Budi Utomo (peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) Bisa dihubungi di Facebook

Daftar Pustaka
Adhyatman, Sumarah dan Redjeki Arifin. 1993. Manik-manik di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Anwar, Jazanul, dkk. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Barnes, R.H., 1996, Sea Hunters of Indonesia, Oxford: Clarendon Press;
Bellwood, Peter, 1985, Prehitory of the Indo-Malaysian Archipelago. Sidney: Academic Press,
Budisantosa, Tri Marhaeni S. 2005. “Pemukiman Pra-Śrīwijaya di Pantai Timur Sumatera Kawasan Karangagung Tengah Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan”, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 13. Palembang: Balai Arkeologi Palembang
Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta
Hirth, Friederich dan W.W. Rockhill (eds.), 1911, Chau Ju-Kua. His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, entitled Chu-fan-chï. Amster-dam: Oriental Press,
Ishak. 1980. ”Suku Laut Terpaksa Berteduh Selama Musim Barat”. Kompas, 14 Februari
Lapian, A.B. 1979. “Pelayaran dalam Periode Sriwijaya”, dalam Pra-Seminar Penelitian Sriwijaya hlm. 95-103. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.
Rangkuti, Nurhadi. 2008. “Arkeologi Lahan Basah di Sumatera Bagian Selatan”, dalam Arkeologi Lahan Basah di Sumatera dan Kalimantan (Sutikno ed). Palembang: Balai Arkeologi
Wolters, O.W., 1974, Early Indonesian Commerce: A study of the origins of Śrīvijaya. Ithaca and London: Cornell University Press,

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: