Press "Enter" to skip to content

Ditemukan Cacing ‘Lapis Baja’, Tahan Arsenik dan Punya 3 Jenis Kelamin

Danau Mono di California ini mengandung arsenik, kadar air yang sangat asin, dan sedikit sekali tanda-tanda kehidupan. Tapi ilmuwan berhasil menemukan keanehan dan keunikan di danau itu. Khususnya, ditemukannya delapan spesies cacing baru, bak cacing ‘lapis baja’, sebab mereka sanggup hidup di ekosistem ekstrem dan salah satunya malah punya tiga jenis kelamin.

Danau Mono berada di Pegunungan Sierra sebelah timur dan menjadi habitat bagi udang air asin, lalat selam, bakteri dan alga. Tapi diduga ada jenis lain, khususnya cacing-cacing kecil. Begitulah yang dipikirkan oleh ahli biologi Paul Sternberg dan rekan-rekannya di California Institute of Technology. Mereka menduga di sana ada cacing mikroskopis yang disebut nematoda. Ternyata benar.

Mereka menemukan delapan spesies cacing mikroskopis yang bisa hidup di lingkungan yang kadar arseniknya 500 kali lebih tinggi yang bisa ditanggung oleh manusia, begitu hasil penelitian mereka yang yang diterbitkan di jurnal Current Biology edisi 26 September 2019. Arsenik adalah racun yang muncul secara alami di kerak bumi, merembes ke sumber air di seluruh dunia dan dapat meracuni mereka yang meminumnya pada level yang tinggi.

Kedelapan cacing itu memiliki bentuk mulut yang beragam. Perbedaan bentuk mulut itu rupanya berhubungan dengan tipe makanannya. Beberapa makan mikroba seperti sapi makan rumput. Sementara yang lain berburu. Sedangkan cacing yang lain bertindak sebagai parasit dan hidup dari inangnya.

Yang unik, salah satu spesies, yang termasuk dalam satu kelompok evolusi bernama Auanema, ditemukan punya tiga jenis kelamin yang berbeda dan mengandung anak di dalam tubuhnya. Ketiga jenis kelamin yang ditemukan di dalam dirinya adalah: hermaprodit, betina, dan jantan.

Dari kode genetiknya diketahui bahwa ada mutasi pada gen yang disebut dengan dbt-1, yang membantu memecah asam amino yang membentuk protein. Diduga perubahan genetik ini ikut bertanggung jawab atas tingginya toleransi hewan itu terhadap arsenik.

Spesies Aunema yang lain juga mengalami mutasi dan menunjukkan tingkat resistansi yang sama tingginya dengan yang lain.

“Studi kami menunjukkan bahwa kami masih harus banyak belajar tentang bagaimana hewan bersel 1000 ini menjaga kelangsungan hidupnya di lingkungan yang ekstrem,” kata salah satu penulis studi studi itu, Pei-Yin Shih, seorang mahasiswa pascasarjana di Caltech, sebagaimana dikutip Live Science. Pembelajaran soal cacing aneh ini dapat membantu para ilmuwan mencari cara untuk melindungi orang dari air minum yang terkontaminasi arsenik dengan lebih baik dan secara umum dapat menambah pemahaman kita tentang bagaimana kehidupan bertahan di lingkungan yang ekstrem.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: