Press "Enter" to skip to content

Indahnya Akulturasi Budaya di Gereja Ararat di Kabupaten Jayapura Ini

Masyarakat yang berdomisili di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua memadukan dua budaya yakni budaya modern dan budaya asli setempat di dalam dan di luar gereja GKI Ararat. Gereja GKI Ararat Kampung Abar ini kalau diperhatikan dari luar ada tempayan/tempat untuk menyimpan tepung sagu, kemudian di dalam gereja itu ada gerabah untuk mengolah/membuat papeda.

Selain itu, di mimbar untuk pendeta berbentuk sempe atau gerabah. Nilai filosofinya yakni di luar ada tempat untuk menyimpan tepung sagu, kemudian tepung sagunya dibawa ke dalam kemudian diolah menjadi papeda lalu dibagi rata ke jemaat. Ini merupakan akulturasi dua budaya yaitu budaya barat dengan budaya asli Kampung Abar. Jadi budaya dari luar/modern dengan budaya asli masyarakat dipadukan dan tidak bertentangan. Masyarakat Abar sangat pintar sekali memadukan dua budaya itu.

Tempayan itu menggambarkan tempat penyimpanan sagu yang digunakan masyarakat Abar sejak nenek moyang mereka, kemudian sempen itu tempat untuk mengolah sagu menjadi papeda. Papeda adalah salah satu makanan khas Papua sejak nenek-moyang kemudian turun-temurun dan dipertahankan hingga kini. Papeda diolah dari tepung sagu.

Sejak dulu, satu kampung ini mereka simpan sagu di tempayan ini, mereka ambil satu sagu ini dari tempayan ini. Setelah mereka ambil-ambil sampai mulai menipis mereka bukannya mengisi sagu baru, malah mereka bawa bulu burung taruh ke dalam tempayan, tiba-tiba sagu naik sendiri, mungkin karena dengan kekuatan apa tapi waktu itu mereka belum kenal Tuhan.

Akhirnya dipertahankan sampai saat ini. Kini bukan bulu lagi, tapi diganti dengan salib yang diisi dalam tempayan di luar gedung gereja kemudian di dalam gereja gerabah yang digunakan untuk memasak papeda yang dibawa dari tempayan di luar gereja lalu dibagikan ke jemaat, dalam arti firman Tuhan itu dibagikan kepada jemaat.

Tugu perintis pekabaran injil yang mana di atasnya ditaruh tempayan yang berisi salib itu itu dibuat sejak 15 Februari 1964. Jadi itu filosofi dulunya dari nenek moyang seperti itu, sekali mereka isi sagu mereka pakai untuk selamanya tidak diisi lagi.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: