Press "Enter" to skip to content

Mengenal Buaya Endemik di Danau Sentani

Danau Sentani berlokasi berdekatan dengan pusat Kota Jayapura dan Bandara Sentani. Dalam penelitian situs hunian prasejarah di Danau Sentani bagian barat, masyarakat yang sedang membersihkan saluran air di rawa-rawa sagu, Kampung Toware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua menangkap seekor buaya endemik Danau Sentani.

Buaya ini disebut juga buaya Nugini (Crocodylus novaeguineae). Spesies buaya ini memiliki kebiasaan bersarang di tempat yang ternaung, seperti di dasar pohon sagu dan dekat dengan kubangan air. Sekali bertelur betina mengeluarkan 27 sampai 45 telur. Buaya Nugini terutama memakan ikan, namun juga merupakan pemakan oportunistik dan akan memangsa avertebrata dan vertebrata air, termasuk katak, ular, biawak dan burung. Selain dijumpai di Danau Sentani, buaya Nugini juga terdapat di Sungai Sepik, Papua Nugini.

Pada buaya Nugini, di antara tengkorak dan leher terdapat selain sisik-sisik kecil, juga sebaris 4 atau 6 perisai yang agak besar dan miring letaknya. Petak-petak tanduk atau sisik pada perut buaya Nugini berukuran lebar dengan jumlah sedikit.

Pada bagian punggung buaya Nugini terdapat garis melintang berwarna gelap. Pada ekor buaya Nugini berwarna belang-belang hitam dan garis-garis lebar. Buaya Nugini berkeliaran pada malam hari, jika ada berkas cahaya yang tepat mengenai matanya, seakan-akan mata itu memancarkan cahaya merah. Panjang total buaya Nugini bisa mencapai 3,3 m.

Dalam budayanya, pada masa lalu oleh masyarakat Sentani, tengkorak buaya Nugini digunakan sebagai perhiasan rumah. Keberadaan buaya Nugini di Danau Sentani saat ini sangat sulit dijumpai karena habitatnya sudah berubah menjadi pemukiman atau terkena pelebaran jalan raya Sentani.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: