Press "Enter" to skip to content

Temuan Megalitik di Lapangan Tembak Jayapura

Penelitian arkeologi di lapangan tembak Kodam XVII/Cenderawasih, Gunung Bakso, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua berhasil menemukan tinggalan megalitik berupa bongkahan batu besar yang pada masa prasejarah berfungsi sebagai lumpang. Lumpang batu terdiri dari bidang atas berupa cekungan atau lubang (tidak tembus) berukuran 20-35 cm yang terletak relatif di bagian tengahnya, bagian bidang samping merupakan badan lumpang.

Cekungan atau lubang lumpang merupakan bagian terpenting dari alat ini. Jenis batuan yang dipakai untuk batu lumpang ini berupa batu gabro, jenis batuan yang banyak terdapat di Gunung Bakso.

Lumpang ini berfungsi untuk menumbuk biji-bijian atau menumbuk ramuan tumbuhan. Hal ini terlihat pada permukaan yang aus serta bentuk cekungan yang dalam serta menunjukkan keausan akibat pemakaian (penggerusan).

Selain itu pada permukaan bongkahan batu terdapat lukisan prasejarah yang sudah aus, lukisan ini dibuat dengan menggores batu, teknik menggambar ini memiliki kesamaan dengan Situs Megalitik Tutari.

Berdasarkan hal ini, maka lukisan prasejarah pada bongkahan batu ini diperkirakan seumuran dengan Situs Megalitik Tutari di Doyo Lama.

Istilah Gunung Bakso sendiri berasal dari masyarakat Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, yang sering makan bakso di jalan masuk ke lapangan tembak, di tempat tersebut menjadi pangkalan tukang bakso keliling untuk beristirahat.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: