Press "Enter" to skip to content

Ketika Pergudangan Disentuh Teknologi, Apa Nasib Pekerjanya?

Pergudangan sepintas bukanlah sektor yang menarik. Tapi tahukah kamu, di tengah pertumbuhan sektor e-commerce dan logistik yang luar biasa di Indonesia, sektor pergudangan juga termasuk yang bertumbuh dengan pesat. Malah, teknologi juga diperkirakan bakal mewarnai pergudangan, sehingga kesan kumuh, sumpek, yang menjadi stereotype gudang itu bakal berubah total.

Begitulah salah satu poin menarik dari studi Warehousing Asia Pacific Vision Study yang digelar oleh Zebra Technologies Corporation baru-baru ini. Studi ini mencoba mencari tahu apa yang diinginkan dan apa pula strategi para pembuat keputusan di bidang TI dan operasional di industri manufaktur, transportasi dan logistik, ritel, pengiriman paket, dan distribusi grosir dalam rangka memodernisasi gudang mereka.

“Para pemimpin di industri pergudangan kini melirik teknologi untuk mengatasi tantangan-tantangan bisnis utama yang didorong oleh fenomena global ini, dengan mengadopsi teknologi canggih dan memberdayakan para pekerja mereka dengan kinerja yang unggul,” kata Aik Jin, Tan, Asia Pacific Vertical Solutions Lead, Manufacturing and Transportation & Logistics, Zebra Technologies, dalam keterangannya, yang diterima Portal Sains, baru-baru ini.

Studi itu menemukan bahwa para pemimpin sektor pergudangan berencana akan memperluas ruang usaha mereka, menerapkan sistem kerja yang baru atau memperbaiki alur kerja mereka. Lebih lanjut, didapati bahwa sebelum 2024, sektor pergudangan akan sangat serius mengintegrasikan solusi berbasis data yang dapat menyeimbangkan antara tenaga kerja dan otomatisasi.

Solusi yang mereka lirik antara lain adalah solusi otomatisasi, seperti robot dan sebagainya, dan augmented reality (AR). Meski sudah mengadopsi teknologi canggih, pergudangan tidak akan merumahkan para pekerja mereka, sebab tak mudah juga untuk mencari tenaga kerja di bidang pergudangan.

Sebanyak 81 persen responden studi itu setuju untuk memperlengkapi para pekerja dengan teknologi untuk memperkenalkan otomatisasi di gudang. Walau begitu, memang baru 34 persen yang paham tentang cara memulai otomatisasi. Di sisi lain, saat ini, hingga 88 persen para pengambil keputusan sedang dalam proses atau berencana untuk memperluas ukuran gudang mereka sebelum tahun 2024. Sementara itu, hingga 85 persen mengantisipasi meningkatnya jumlah gudang dalam jangka waktu ini.

“Konsumen saat ini memiliki kebutuhan yang tampaknya tidak pernah terpuaskan untuk mencari dan membeli barang selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Mentalitas konsumen yang cenderung mengharapkan “saya menginginkannya sekarang” tampak nyata di semua industri dan telah memutarbalikkan rantai pasokan. Hal ini juga mempengaruhi produsen, pebisnis ritel, dan operasional pergudangan yang melayani kebutuhan para konsumen tersebut,” ujar Ben Marvin Tan, Country Manager Indonesia, Zebra Technologies Asia Pasifik.

Kondisi terkini itulah yang kemudian mendorong terjadinya perubahan strategi maupun pertumbuhan di sektor pergudangan. “Agar bisa menyesuaikan diri dengan mentalitas on-demand konsumen, para pengambil keputusan perlu segera melatih para pekerja lini depan mereka untuk memenuhi pesanan secara lebih efisien. Perangkat Windows® yang belum diperbarui dan menjalankan aplikasi green-screen, tidak dirancang untuk mengimbangi kecepatan dan kebutuhan ekonomi on-demand saat ini. Sebaliknya, perangkat layar sentuh Android modern milik Zebra seperti MC9300 didesain untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih cepat dan fleksibel untuk meningkatkan kinerja gudang dan memenuhi ekspektasi konsumen yang semakin tinggi saat ini,” kata Aik Jin lagi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: