Press "Enter" to skip to content

Temuan Kapak Perunggu di Situs Tepi Danau Sentani, Dari Mana Asalnya?

Penelitian Balai Arkeologi Papua di Situs Bobu Uriyeng, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua berhasil menemukan kapak perunggu. Kapak perunggu ini berjenis kapak corong. Kapak perunggu ditemukan oleh warga Dondai, yang sedang berkebun menanam siapu atau sejenis umbi menjalar.

Bobu Uriyeng merupakan bukit di tepi Danau Sentani. Kapak perunggu yang ditemukan di Situs Bobu Uriyeng merupakan komoditas perdagangan jarak jauh pada masa prasejarah.

Setelah kemunduran jaringan dagang orang Lapita dari Pulau Manus, Britania Baru sekitar 2500 tahun yang lalu di Pasifik, ada bukti-bukti konkret tentang transaksi antara Asia Tenggara dan Papua. Kapak perunggu adalah salah satu komoditas perdagangan.

Kapak perunggu yang ditemukan di Danau Sentani diproduksi di Dongson, tempat yang saat ini merupakan wilayah bagian utara Vietnam, sekitar 2400 hingga 2100 tahun yang lalu. Kapak perunggu yang ditemukan di Danau Sentani dibuat dengan teknik a cire perdue.

Teknik ini yaitu benda yang dikehendaki dibuat terlebih dahulu dari lilin, lengkap dengan segala bagian-bagiannya. Kemudian model dari lilin itu ditutup dengan tanah. Dengan cara dipanaskan maka selubung tanah ini menjadi keras, sedangkan lilinnya menjadi cair dan mengalir ke luar dari lubang yang telah disediakan di dalam selubung itu. Jika telah habis lilinnya, dituanglah logam cair ke dalam rongga tempat lilin tadi. Dengan demikian logam itu menggantikan model lilin tadi.

Setelah dingin semuanya, selubung tanah dipecah, dan keluarlah benda yang dikehendaki itu. Kapak perunggu yang ditemukan di Situs Bobu Uriyeng berukuran panjang 13,5 cm lebar 9,5 cm dan tebal 1,5 cm.

Adalah suatu hal yang hampir mustahil apabila orang Dongson, utara Vietnam mengadakan hubungan langsung dengan Papua, jadi dapat diasumsikan bahwa masuknya kapak perunggu yang ditemukan di Danau Sentani adalah dengan cara melalui serangkaian perantara yang termasuk dalam suatu jaringan perdagangan dari Asia ke timur.

Pada waktu itu, komoditi dagang yang paling dicari para pedagang luar dari orang Papua adalah burung cenderawasih.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: