Press "Enter" to skip to content

Kabar Baik Si Sisik yang Sering Muncul di Teluk Wondama

Saat mengunjungi beberapa wilayah di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat yang masuk dalam wilayah Sasi atau wilayah perlindungan adat yaitu Wilayah Kepulauan Auri, Kampung Menarbu (Distrik Roon) dan Kampung Sombokoro (Distrik Windesi) pada 14-22 Oktober 2019 tim monitoring (Masyarakat yang telah dilatih difasilitasi WWF Indonesia, BBTNTC dan Dinas Perikanan Kab. Teluk Wondama) mengecek kondisi ekosistem terumbu karang dan sumberdayanya di beberapa wilayah tersebut.

Saat sedang melaksanakan monitoring para tim tidak jarang melihat satwa-satwa laut yang sedang mencari makan atau bersantai di wilayah tersebut.

Salah satu satwa tersebut adalah penyu, satwa yang telah masuk dalam appendix I CITES (Convention on International Trade In Endangered Species of Wild Flora and Fauna) ini dan telah dilindungi oleh pemerintah lewat Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Ekosistemnya.

Penyu sisik ini adalah salah satu penyu yang habitatnya berada Indonesia, selain penyu sisik di Indonesia terdapat pula penyu-penyu lain seperti Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochelis coreacea), Penyu Tempayan (Caretta Caretta) ataupun Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Penyu sisik ini memiliki ciri pembeda dari penyu lainnya yaitu pinggiran karapasnya yang memiliki bentuk seperti sisik dan mulut depan yang meruncing.

Tim monitoring beberapa kali bertemu penyu dari jenis penyu sisik (Eretmochelys mbricate) yaitu penyu yang sering ditemui di area terumbu karang karena penyu ini memakan sponge laut (jenis-jenis tertentu), alga, ubur-ubur dan anemone laut. Ketika penyu ini terusik maka penyu ini akan berenang menjauh sebagai respon diri untuk menghindari pemangsa alaminya.

Penemuan satwa seperti penyu di lokasi terumbu karang dalam area sasi ini merupakan hal baik karena menandakan bahwa habitat tersebut dianggap menunjang untuk ditinggali.

Daerah Sasi yang secara berkala ditutup dalam pemanfaatan (beberapa tahun) lalu dibuka sebagai jangka waktu yang diberikan bagi ekosistem untuk “memulihkan diri” yang harapannya terjadi peningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya untuk mempertahankan pemanfaatan yang keberlanjutan.
Tim sangat senang ketika bertemu satwa-satwa seperti penyu karena dapat melihat mereka berenang bebas dan dapat hidup dengan baik di lingkungan yang terjaga. Harapannya untuk dikemudian hari semoga ekosistem perairan dapat terus dijaga untuk memeberikan benefit bagi satwa liar dan masyarakat.

Penulis: Adrian Jentewo (WWF ID) Bisa dihubungi di Instagram: @adrian_jentewo

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: