Press "Enter" to skip to content

Pengalaman Pertama Mengajar di Uncen Papua

Sebenarnya sejak 30 September 2019, ini kali pertama kali aku masuk ruang kelas untuk mengajar di Antropologi Uncen. Tapi kemarin itu aku hanya sit in observasi pengajaran yang dilakukan oleh Dosen Senior di sini yakni Bpk. Hanro. Kami memang join dalam mengajar untuk mata kuliah Pengantar Arkeologi. Kelas berjalan lancar, aku salut dengan metode yang pengajaran yang dilakukan oleh Bpk. Hanro, menggunakan pengetahuannya tentang Budaya dan Agama di Papua.

Dalam pertemuan pendahuluan itu, perkenalan berlangsung dengan akrab. Mahasiswa yang menyebutkan nama lengkap dan asal daerah dijawab Pak Hanro dengan pengalamannya tentang berbagai fam yang dikenalnya di berbagai daerah di Papua itu. Mahasiswa juga terkaget ternyata ada yang tahu fam mereka. Kendala yang dihadapi kemarin di dalam kelas itu hanyalah padamnya listrik jadi rencana awal yang langsung memberikan materi perkuliahan tidak bisa dilakukan dengan optimal karena tidak bisa presentasi dari proyektor yang secara pribadi dibawa oleh Pak Hanro itu.

Lalu pada 1 Oktober 2019, adalah saat pertama kali aku mengajar sendirian di kelas Pengantar Sosiologi. Mahasiswa yang masuk dalam kelas ini sama dengan di kelas Arkeologi kemarin yakni angkatan baru – mahasiswa semester I. Jujur saja aku kurang prepare untuk membawakan materi perkuliahan karena memang aku hendak menunggu partner dosen senior namun beliau berhalangan hadir. Alhasil, aku hanya berupaya memancing sikap kritis mahasiswa dengan berdiskusi. Pertanyaan klasik yang dulu sempat aku temui juga waktu menjadi mahasiswa baru tahun 2009, waktu itu di kuliah epistemologi aku masih ingat Prof. Heddy bertanya apa bedanya sosiologi dan antropologi ? Sekerasnya aku dan teman-teman satu angkatan waktu itu memutar otak, tak ada kata yang keluar dari mulut, kami tidak tahu.

Pertanyaan itu pula yang aku lontarkan pada teman-teman mahasiswa di Uncen ini. Sebenarnya ada dua, pertama adalah apa itu sosiologi dan seperti apa sejarah ilmunya, nah yang kedua apa bedanya dengan antropologi. Namun sebelum itu aku bertanya satu per satu kepada mahasiswa, tentang nama dan alasan masuk antropologi.

Sebagian besar jawabannya adalah: tidak ada alasan! Beberapa yang lain menjawab: sebenarnya mau masuk jurusan lain tapi sudah tidak diterima, atau karena alasan orangtua yang minta kuliah di Uncen apapun jurusannya, atau karena awalnya mau jadi polisi tapi tidak diterima. Tapi ada satu-dua yang menjawab: karena ingin tahu budaya, karena orangtua pemerhati budaya jadi sa disuruh masuk antro. Beragam memang jawabannya, tapi kemudian aku juga bercerita tentang alasanku dulu masuk antropologi yang sebenarnya absurd pula. Lalu kami tertawa bersama-sama, menertawakan alasan kami yang absurd.

Lalu untuk menjawab dua pertanyaan itu aku meminta mereka untuk membaca selama 20 menit dari sumber mana saja, boleh cari di Google atau dari buku, apa saja untuk menjawab pertanyaan itu. Lantas mereka aku bagi dalam lima kelompok, masing-masing lima orang dan selama waktu yang diberikan itu mereka berdiskusi lantas dipresentasikan di depan kelas sementara kelompok yang lain mengomentari dan bertanya.

Dua puluh menit berlalu, lantas mereka presentasi. Selama proses menjawab sampai presentasi kulihat mereka cukup aktif, mereka saling ribut memperdebatkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Selama presentasi pun kelas berjalan cukup baik menurutku, meski hanya beberapa yang aktif bertanya, namun pertanyaan mereka cukup kritis seperti apa beda manusia dan masyarakat, apa itu ilmu dan apa itu pengetahuan, apakah sosiologi dan antropologi itu ilmu pasti atau bukan? Artinya pertanyaan mereka ini sebenarnya juga pertanyaan mendasar dari para sosiolog awal mula, mempertanyakan tentang masyarakat dan institusi sosial, positivism dalam sosiologi, dan lain-lain.

Terlepas dari pertanyaan njlimet, ini adalah pengalaman berharga bagiku yang perlu aku dokumentasikan sebagai bahan refleksiku kemudian hari. Bagaimana pun aku menyadari bahwa yang dilakukan dalam kelas itu adalah sama-sama belajar bukan searah belaka, aku coba pula untuk menghilangkan struktur hierarki dalam kelas karena hal itu akan membuat iklim kritis yang bagus ––kukira.

Di akhir kelas aku tak lupa meminta kritik, saran dan masukan tentang caraku mengajar dan aku jujur kepada mereka bahwa memang ini adalah kelas pertamaku dalam perkuliahan. Semuanya aku minta untuk memberikan masukan namun hanya ini saja yang aku terima. Terima kasih teman-teman semuanya masukannya dan tentu aku akan belajar lebih baik lagi, semangat terus belajar!

Penulis Ichsan Rahmanto (dosen antropologi Universitas Cenderawasih) Bisa dihubungi di Instagram: @ichsanrahmanto

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: