Press "Enter" to skip to content

Menunggu ‘Istana Surga’ Jatuh ke Bumi, Mungkinkah di Indonesia

Istana Surga bukanlah dalam arti sebenarnya, namun merujuk pada stasiun antariksa milik China yang diluncurkan ke antariksa pada 2011. Stasiun itu bakal jatuh ke Bumi dan diperkirakan mendarat pada awal April mendatang.

Tiangong-1 adalah stasiun antariksa pertama milik China, diluncurkan dari Jiuquan Satellite Launch Center, China, pada 30 September 2011. Bobotnya sekitar 9 ton. Panjangnya 10,5 meter dan diameternya 3,4 meter. Ia memiliki dua panel surya berukuran 7 x 3 meter.

Rencana kejatuhan Tiangong-1 ke Bumi juga sudah dirancang. Bahwa ia akan terbakar dan jatuh ke daerah tak berpenghuni di Pasifik Selatan dan fragmen yang tersisa jatuh ke laut.

Tapi pada Maret 2016 dilaporkan bahwa Tiangong-1 gagal bekerja dengan baik dan kontrol di Bumi kehilangan kendali atasnya. Dengan kata lain, kecil sekali kemungkinan ia bisa dikendalikan dalam proses jatuhnya.

Menurut proyeksi Badan Antariksa Eropa (ESA), Tiangong-1 akan masuk ke atmosfer Bumi antara 29 Maret sampai 9 April. Tapi ESA menekankan bahwa mereka tidak bisa melakukan prediksi yang presisi tentang kapan dan di mana Tiangong-1 akan terbakar dan berapa banyak bagiannya yang akan jatuh ke permukaan Bumi.

Disebutkan, Tiangong-1 memang mudah dilacak dan bisa diketahui sehari sebelum ia masuk ke atmosfer dan terbakar. Tapi mengenai di mana lokasi jatuh sebagian puingnya, itu yang sulit diperkirakan. Sebab akan tergantung pada revolusi orbital.

Orbit Tiangong-1 berada pada 43 derajat utara dan 43 derajat selatan, atau dari tengah Amerika Serikat turun ke titik selatan Australia. Begitu dijelaskan oleh Jay Melosh, profesor di Purdue University, seperti dilansir Cnet.com. Puing-puingnya bisa jatuh di antara dua titik itu.

Lokasi jatuhnya bisa di Atlantik, Pasifik, selatan Eropa, Asia Tengah, China, Selandia Baru, Tasmania, dan sedikit daerah Patagonia.

Dok. Aerospace Corp.

Aerospace Corporation sudah merilis peta lokasi mana yang memungkinkan, mana yang kurang memungkinkan, dan mana yang sama sekali tidak memungkinkan. Indonesia sendiri masuk ke area hijau, yang artinya memungkinkan. Jalur lintasan Tiangong-1 itu bahkan berada di atas Pulau Sumatera, kalau memperhatikan peta itu.

Artinya, tetap saja ada ketidakpastian. Peristiwa ini mirip dengan jatuhnya Skylab pada 1979. Meski agak bisa dikontrol, stasiun antariksa itu jatuh di daerah tak berpenduduk di Australia. Tak ada yang terluka, tapi NASA harus membayar denda.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: