Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi. Dok. Pixabay.com

Ghosting dalam Hubungan, Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

Pertama, satu pesan teks kepada teman atau pasangan tidak dibalas. Lalu kemudian tak ada kabar lagi. Kita pun menjadi kuatir dan bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengannya? Apakah dia baik-baik saja? Belakangan nanti kita tahu, bahwa si teman sebetulnya baik-baik saja. Lho, lantas mengapa dia menghilang? Apa maksudnya?

Perilaku ‘menghilang’ inilah yang kini disebut dengan istilah ghosting. Terminologi ini berarti memutus semua komunikasi tanpa penjelasan. Istilah ini sedang populer sekarang. Tak hanya dalam hubungan pertemanan atau sayang-sayangan, ghosting juga terjadi di dunia kerja, di mana ada karyawan yang tiba-tiba tak datang ke kantor tanpa kabar berita dan tak bisa dihubungi.

Ghosting, menurut Live Science, adalah perilaku yang aneh. Ada banyak pertanyaan yang muncul. Mengapa ada orang yang tega begini? Mengapa mereka memilih diam tanpa kabar? Apakah ini cara mereka mengakhiri pertemanan atau hubungan percintaan?

Para psikolog baru-baru ini mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebab sangat sedikit penelitian soal ini, maka kebanyakan psikolog mencoba menggali penjelasan dari psikologi hubungan, seperti kata Tara Collins, seorang peneliti di Winthrop University di Rock Hill, South Carolina.

Sebuah penelitian terhadap 1.300 responden yang diterbitkan di Journal of Social and Personal Relationships pada 2018, mendapati bahwa 25 persen responden mengalami ghosting oleh temannya. Sementara 20 persen mengaku pernah meng-ghosting temannya. Angka ini bisa jadi lebih besar lagi, sebab survei lain pada 2018 mendapati bahwa 65 persen partipan dilaporkan meng-ghosting temannya dan 72 persen menjadi korban ghosting.

Tindakan mengakhiri hubungan itu bukan hal baru dan ada sejumlah cara serta strategi untuk melakukannya. Tapi memang sekarang ghosting sedang trendi sebagai sebuah strategi yang makin banyak digunakan orang, sebab teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi satu sama lain.

“Saya menduga bahwa orang-orang saling mengabaikan untuk waktu yang lama. Sekarang jauh lebih jelas karena media sosial dan teknologi,” kata Collins kepada Live Science. “Ketika begitu mudah untuk saling menghubungi, maka makin pula kita untuk saling mengabaikan.”

Menurut makalah tahun 2012 yang diterbitkan dalam Journal of Research in Personality, Collins dan rekannya menganalisis taktik mengakhiri hubungan. Ada beberapa taktik orang untuk mengakhiri hubungan. Strategi yang paling umum adalah “konfrontasi terbuka” di mana kalian langsung ketemu dan bicara lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Yang lain adalah strategi “Menghindar”, di mana salah satunya mengurangi kontak, menghindari pertemuan, dan hanya sedikit bicara tentang apa yang dialami. Strategi populer lainnya adalah “menyalahkan diri sendiri,” misalnya dengan mengatakan bahwa yang salah adalah dirinya, bukan teman atau pasangannya.

Ada juga yang memakai strategi “ekskalasi biaya”, di mana salah satunya membuat hubungan mereka menjadi begitu buruk sehingga partnernya memutuskan untuk memutuskan hubungan.

Strategi lain adalah “komunikasi yang dimediasi”, yaitu berarti berbicara dengan orang lain tentang keinginan kamu untuk mengakhiri hubungan dengan harapan bahwa pihak ketiga akan mengomunikasikan hal itu kepada temanmu. Pihak ketiga itu bisa juga berupa email perpisahan atau surat.

Nah, ghosting tampaknya paling terkait dengan kombinasi teknik penghindaran dan strategi komunikasi yang dimediasi. Kamu menghindari untuk ketemu dan berbicara dengan orang tersebut dan media sosialmu adalah pihak ketiga yang memberi tahu temanmu bahwa kamu ingin mengakhiri hubungan dengannya.

Ketika teman menghindari kita, biasanya yang kita rasakan adalah kita mencoba merefleksikan diri, jangan-jangan ada perilaku kita yang buruk, atau kurang baik, sehingga membuat teman atau pasangan menghindari dan memutuskan hubungan. Tapi, faktanya, ghosting adalah lebih kepada masalah si pelaku ghosting.

Ada beberapa faktor orang melakukan ghosting:
1. Mereka yang memiliki mindset tetap tentang masa depan, percaya pada takdir dan berpikir bahwa suatu hubungan itu punya arti apa tidak; mereka ini 60 persen cenderung memilih ghosting untuk mengakhiri hubungan.
2. Mereka yang memiliki mindset berkembang dan percaya bahwa hubungan perlu diperjuangkan untuk tumbuh. Mereka ini 40 persen yang menganggap ghosting itu bisa diterima.

Tapi yang jelas, berhadapan dengan situasi ghosting macam begini sungguh enggak enak. Komunikasi yang kurang lancar atau terhenti bikin kita bingung dan bertanya-tanya, ada apa? Itulah mengapa, menurut penelitian, kebanyakan orang lebih suka mengakhiri hubungan dengan cara konfrontasi langsung.

Kamu termasuk yang mana?

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: