Press "Enter" to skip to content
Dok. Pixabay.com

Cara Menentukan Arah Mata Angin di Laut Ala Nelayan Papua

Dalam kaitannya dengan kegiatan melaut, sejak lama masyarakat nelayan pesisir utara Papua mempunyai pengetahuan tradisional tentang lingkungan laut. Walau perkembangan ilmu pengetahuan makin maju namun pengetahuan lokal tentang gejala alam yang dimiliki masyarakatnya masih menjadi acuan bagi mereka dalam menjalani kehidupan di laut.

Mereka masih mengandalkan gugusan bintang, arah angin dan arus gelombang laut untuk menentukan arah boat dan perahu saat mencari ikan. Selain pada gugusan bintang, gejala-gejala alam yang menjadi pedoman para nelayan Papua adalah, gumpalan awan yang berarak, serta ketika burung bangau dan elang turun mendekati permukaan air laut pertanda air mulai surut.

Taburan bintang digunakan sebagai pedoman arah dalam pelayaran di malam hari, seperti bintang pari untuk menandai arah selatan dan bintang fajar yang menandai ufuk timur. Berdasarkan bintang-bintang tersebut para nelayan tidak mudah kehilangan arah atau tersesat dalam pelayarannya di tengah laut.

Sementara untuk gumpalan awan, gambaran awan yang biasanya dijadikan pedoman adalah oleh awan yang memerah di ufuk barat, biasanya pada saat menjelang senja. Apabila awan tersebut tampak, maka itu pertanda ikan-ikan di laut sudah banyak, nelayan beranggapan sudah tiba saatnya untuk melaut. Kemudian ketika burung bangau dan elang mendekati permukaan laut ketika air surut menandakan lebih banyak akan keberadaan hewan dan biota laut yang dapat ditangkap oleh nelayan selain menjadi mangsa burung tersebut.

Sejalan dengan peredaran siang dan malam, para nelayan juga mempunyai perangkat pengetahuan tentang peredaran musim yaitu musim barat dan musim timur. Musim timur dianggap baik untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan karena di hari musim timur kondisi laut saat tenang, tidak ada badai dan arus gelombang laut tidak terlalu kuat sehingga ikan-ikan banyak berada ke pinggir atau tepi laut yang memudahkan para nelayan untuk menangkap/menjaring ikan.

Pada musim timur aneka jenis burung camar akan banyak berdatangan untuk memangsa ikan, karena memang pada musim itu jumlah ikan dan hewan laut lainnya sangat melimpah.

Sedangkan pada musim barat justru sebaliknya. Masyarakat pesisir utara Papua telah membuktikan bahwa mereka telah memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam. Dengan kearifan lokal tersebut, masyarakatnya dapat menjaga kelestarian pesisir dan laut dan menjadi bagian dari cara hidup mereka yang arif agar dapat memecahkan segala permasalahan hidup yang mereka hadapi, sehingga mereka dapat terus melangsungkan kehidupannya bahkan dapat berkembang dan terberdayakan secara berkelanjutan bersama kearifan lokal dan tradisinya.

Kontributor: Hari Suroto

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: