Press "Enter" to skip to content

Apakah Manusia Purba Mampu Berbahasa Verbal?

Apa yang membedakan manusia dan hewan adalah kemampuan berbicara dengan bahasa verbal sesuai dengan tata bahasa. Terdapat banyak pengertian tentang bahasa, salah satunya adalah bahasa merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya.

Sejak kapan munculnya bahasa? Asal mula bahasa pada spesies manusia adalah suatu topik yang didiskusikan secara luas hingga saat ini. Walaupun begitu, tidak ada konsensus mengenai asal awal atau waktu awalnya. Bukti empiris sangat terbatas.

Untuk mengkaji asal usul bahasa tidak bisa lepas dari evolusi manusia yang bermula dari hominid, pengertian hominid dalam ilmu biologi adalah anggota-anggota dari keluarga yang mencakup manusia dan kerabat langsungnya. Dapatkah kita mengetahui asal-usul manusia dengan menandai prestasi-prestasinya yang telah dicapai, seperti sosialitas atau kemampuan berbahasa (yakni kode suara yang menyatakan makna yang bisa dipahami oleh seluruh anggota dari komunitas, sebagai kebalikan dari serangkaian ujaran-ujaran sebagai ekspresi emosi)? Homo erectus adalah hominid pertama yang menyebar luas ke luar Afrika dan mengembangkan berbagai ras geografis di wilayah persebarannya.

Secara historis pada awal penemuan Homo erectus di Jawa disebut dengan Pithecanthropus erectus. Spesimen-spesimen pertama Pithecanthropus erectus ditemukan oleh Eugene Dubois di Kedungbrubus dan Trinil antara tahun 1890 dan 1891. Situs Sangiran yang ditemukan oleh G. H. R. von Koenigswald merupakan situs yang paling dominan di dunia, dengan temuan Homo erectus sekitar 100 individu, yang mewakili lebih dari 50 persen populasi Homo erectus di dunia.

Homo erectus mengandalkan kecerdasan untuk mengatasi keadaan mereka yang tanpa perlindungan di alam. Berbeda dengan hominid pendahulunya yang hanya mampu membuat alat batu kerakal, maka kemampuan Homo erectus dalam mencipta dan menggunakan alat batu sudah jauh lebih maju.

Secara fisik tulang kening Homo erectus sangat menonjol, dahinya masih terlihat datar, orbit mata persegi, sementara bentuk atap tengkoraknya pendek dan memanjang ke belakang. Tulang-tulang tengkoraknya sangat masif, terutama di bagian sisi kanan dan kiri, maupun di bagian belakang. Tengkoraknya lebih tebal daripada tengkorak manusia modern. Muka Homo erectus terlihat pendek dan menjorok ke depan, dengan tulang pipi yang lebar dan menonjol. Gigi geliginya sangat besar, mulutnya menjorok ke depan, dengan rahang yang kekar dan tidak mempunyai tonjolan dagu dengan perkembangan luar biasa pada alat pengunyah sehingga menunjukkan kesan bahwa Homo erectus mengunyah dengan kuat. Volume otak Homo erectus berkisar antara 850 – 1.350 cc, hal ini berbeda dengan kapasitas tengkorak manusia modern (Homo sapiens) antara 1.200 hingga 1.400 cc).

Homo erectus pasti telah mencapai kesadarannya sebelum dia mengatasi ketakutannya terhadap api yang masih menghantui banyak spesies binatang liar. Homo erectus tidak lagi merasa takut dengan kobaran api spontan setelah dia mengetahui bagaimana cara membuat, memanfaatkan dan akhirnya membesarkan nyalanya. Jadi dengan bangkit kesadarannya, saat itulah Homo erectus mulai mengenal bahasa.

Bentuk sebelah dalam dari wadah otak Homo erectus menunjukkan bahwa otaknya telah mengalami perkembangan yang hampir modern, khususnya di daerah pusat percakapan. Bangunan otak yang menopang bahasa jauh lebih rumit daripada yang pernah dibayangkan. Timbul bidang-bidang yang berkaitan dengan bahasa, yang tersebar di beberapa bagian otak manusia. Jika pusat-pusat seperti itu bisa dikenali pada leluhur kita, maka barulah kita bisa menyelesaikan persoalan bahasa ini. Tetapi bukti anatomis otak manusia yang telah punah terbatas pada kontur permukaan; fosil otak tidak memberi petunjuk untuk memahami struktur bagian dalam otak. Untunglah satu ciri otak yang dalam beberapa cara berkaitan sekaligus dengan bahasa dan penggunaan perkakas terlihat pada permukaan otak. Inilah daerah Broca (Broca’s area), satu tonjolan di dekat pelipis kiri.

Area broca pada Homo Erectus tentu ada, tetapi itu bukan satu-satunya aparatus/organ untuk kemampuan berbicara (komunikasi verbal). Organ-organ yang juga berperan adalah mulut, bibir, palatum, geligi dan tenggorokan dan larynx. Jika kita memperhatikan foramen magnum pada basis cranii Homo erectus tentu masih belum dalam posisi medial, tetapi masih dalam posisi posterior. Posisi demikian memaksa tenggorokan masih belum bermorfologi tegak lurus dengan organ mulut, namun masih sedikit melengkung (seperti pada bayi yang belum berumur sekitar 1,5 tahun). Posisi tegak lurus inilah yang dimungkinkan kita mampu mengeluarkan bunyi-bunyi konsonan, yang makin lama makin bervariasi. Yang lebih jauh dirangkai menjadi ujaran, dan berlanjut tutur, dan keperluan berkomunikasi verbal yang luas. Jadi Homo erectus masih dalam taraf proto-bahasa, bahasa yang terbatas dengan disertai banyak gerak anggota badan sebagai tanda.

Dalam berburu, tentu mereka mengguna bahasa verbal (yang terbatas tersebut), dan gerak-gerik anggota badan, yang selalu dipergunakan dan dipahami mereka sebagai kelompok, maka mereka telah dapat menerapkan strategi berburu dengan jitu. Dalam bentuk lain gerak-gerik anggota badan ini sebenarnya telah dipraktikkan beberapa hewan. Inilah yang dikenal sebagai mimikri. Coba kita perhatikan pada kawanan karnivora, misalnya srigala, mereka begitu paham bagaimana memburu mangsa secara berkelompok. Masing-masing mempunyai tugas dan peran yang berbeda-beda dengan satu tujuan untuk melumpuhkan mangsanya. Ada yang menghardik agar buruan hanya menuju ke tempat tertentu (sebagai titik penerkaman), ada yang mengusir kawanan buruan yang lain agar buruan ini hanya sendirian, dan ada yang bertindak membinasakan mangsa tersebut.

Homo erectus dapat digambarkan lebih jelas mengenai saling pengaruh antara faktor kebudayaan, fisik dan lingkungan. Organisasi sosial, teknologi, dan komunikasi tumbuh bersama-sama dengan semakin besar dan kompleknya otak.

Walau kita sering menggunakan kata “bahasa” bagi sistem penyebaran informasi pada hewan, seperti “bahasa lebah”, sebenarnya semua sistem itu hanya berupa pertukaran sinyal. Untuk bisa disebut bahasa, suatu sistem komunikasi harus punya sintaksis dan tatabahasa. Selama setengah abad para ahli psikologi berusaha mengajar simpanse berbicara tapi sia-sia. Nampaknya simpanse tak punya perlengkapan syaraf untuk menggunakan sintaksis. Oleh sebab itu, simpanse tak bisa berbicara mengenai masa lalu atau masa depan.

Setelah menemukan bahasa, para leluhur kita dapat mengembangkan tradisi lisan, jauh sebelum ditemukannya tulisan dan percetakan. Perkembangan kemampuan berbahasa juga menimbulkan tekanan seleksi yang mendorong pembesaran otak, khususnya pada bagian-bagian yang mengurusi penyimpanan informasi (ingatan). Otak yang besar memungkinkan perkembangan seni, sastra, matematika, dan sains.

Sekalipun bahasa tidak memfosil, dengan melihat karya tangan manusia pada dasarnya bisa membantu kita memahami bahasa. Ketika membicarakan ungkapan artistik, kita sadar akan bekerjanya akal-budi manusia modern, dan itu menyiratkan tingkat kemodernan.

Homo erectus adalah pemburu yang maju dan cakap telah mampu membunuh binatang yang sangat besar. Untuk itu diperlukan perencanaan dan kerjasama yang cukup tinggi tingkatnya. Selanjutnya, ini berarti bahwa ia harus hidup dalam kelompok yang terikat pada rumah pangkalannya yang kadang kala berupa gua, kadangkala di tempat terbuka. Pada saat itu telah menguasai penggunaan api dan haruslah dianggap bahwa dia mampu berbicara. Kemampuan berbicara nampaknya merupakan syarat mengajarkan kepada anak-anak cara membuat jenis alat-alatnya, dan pasti diperlukan sewaktu merencanakan dan melaksanakan perburuan binatang.

Evolusi teknologi dan organisasi sosial Homo erectus mungkin paling sejalan dengan bertambah besar dan semakin kompleksnya otak, yang juga terjadi pada jaman itu. Yang juga penting adalah bertambahnya kecilnya rahang dan gigi Homo erectus. Bertambah kecilnya perangkat gigi dimungkinkan oleh adaptasi kultural yang berupa pemasakan makanan dan persediaan peralatan yang lebih kompleks, yang lebih efisien daripada semua adaptasi fisik yang dapat terjadi. Sebaliknya bertambah kecilnya perangkat gigi mendorong orang untuk lebih menggantungkan diri pada pengembangan peralatan, yang membantu perkembangan hominid lebih lanjut. Bertambah kecilnya perangkat gigi juga mempermudah pertumbuhan bahasa.

Homo erectus telah punah, dalam tahap evolusi selanjutnya digantikan oleh Homo sapiens (manusia modern) yang hingga saat ini masih eksis sanggup menghuni seluruh pelosok-pelosok dunia. Temuan tengkorak Homo sapiens dengan segala karakter fisik yang modern ditemukan di Situs Omo Kibish Ethiopia pada lapisan tanah yang berusia 120.000 tahun. Fosil ini dinamakan dengan Omo Kibish 1. Semua unsur tengkoraknya telah mencerminkan anatomi manusia modern dengan kapasitas tengkorak 1.350 cc, atap tengkorak tinggi dan bundar, bagian belakang tengkorak telah membundar, muka datar tanpa penonjolan berarti di bagian mulut, rahang, dan gigi-giginya telah mereduksi, dan mempunyai dagu. Dipastikan bahwa Omo Kibish 1 adalah fosil Homo sapiens paling tua.

Perkembangan bahasa sejalan dengan perkembangan manusia sendiri, jadi dengan melihat anatomi tengkorak Omo Kibish 1 yang tidak jauh berbeda dengan manusia modern saat ini, dengan demikian dapat diasumsikan bahwa munculnya bahasa modern sejak 150.000 tahun yang lalu. Tentu saja Omo Kibish 1 memiliki kemampuan untuk mengerti dan mempergunakan rangkaian bahasa yang kompleks, ekspresif, sekaligus sesuai dengan kaidah tata bahasa.

Kenyataan ini mungkin merupakan suatu data penguat dari teori Out of Africa yang dianut oleh beberapa ahli, yang menyatakan bahwa Homo Sapiens telah muncul di Afrika sejak 150.000 tahun silam, sebelum menyebar ke berbagai tempat di dunia hingga menetap di Semenanjung Huon Papua New Guinea pada sekitar 50.000 tahun lalu.

Kontributor: Hari Suroto (Arkeolog dan Pendidik)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: