Press "Enter" to skip to content
Noken (Dok. Commons.wikimedia.org/Keenan63)

Mengenal Pemilu Sistem Noken di Papua

Noken merupakan tas tradisional hasil karya mama-mama Papua. Noken ini berbahan kulit kayu atau daun tikar. Noken dapat berupa rajutan atau anyaman. Di Papua, noken menjadi bagian dari pemilihan umum, baik pilpres dan pemilihan anggota legislatif.

Dalam pesta demokrasi 2019 ini, kita mungkin lebih mengenal pemilu dengan sistem demokrasi atau one man one vote. Namun untuk sebagian daerah di pedalaman Papua, hal ini tidak berlaku.

Di pedalaman dan pegunungan Papua akses transportasi terbatas, untuk bisa sampai di tempat pemungutan suara (TPS) bisa berhari-hari menyusuri jalan setapak di tengah hutan atau lereng bukit yang terjal. Sedangkan penduduknya sebagian terpencar di lereng gunung, lembah, tepi sungai atau dalam hutan.

Pemungutan suara di pedalaman Papua menggunakan sistem noken. Ada dua macam yaitu noken digunakan sebagai pengganti kotak suara, dengan one man one vote secara demokratis. Atau noken sebagai sistem pemilu yaitu suara sepenuhnya diserahkan kepada kepala suku atau tokoh adat yang dihormati untuk memilih satu caleg atau capres.

Pemilihan model ini sebenarnya merupakan suara keseluruhan warga pemilih yang diwakilkan kepada salah satu kepala suku atau tokoh adat yang dihormati. Suara ini merupakan hasil musyawarah warga pemilih dalam menentukan calon yang dipilih atau bisa juga sebelumnya tanpa musyawarah tetapi pengambilan keputusan langsung diserahkan kepada kepala suku.

Dalam sistem noken ada deal-deal politik atau janji-janji antara calon dengan tokoh adat sebagai perwakilan warganya. Ada segi positif dalam sistem ini, yaitu janji-janji politik akan dipegang bersama antara calon dan warga pemilih.

Jika calon nantinya terpilih dan dia tidak menepati janjinya, maka di pemilu selanjutnya masyarakat tidak akan memilih lagi. Selain itu si calon terpilih akan malu hati untuk berkampanye lagi ke daerah tersebut atau warga akan cuek dan tidak peduli.

Namun dalam sistem noken ada kelemahannya yaitu suara warga pemilih bisa dibeli, walaupun selama ini tidak terpublikasikan secara umum, dan pembelian suara itu dikemas dengan cara pemberian bantuan-bantuan dana sosial, hal ini mudah dilakukan oleh petahana.

Sistem noken sebenarnya merupakan cara efektif dalam pemilu terutama di daerah pegunungan dan pedalaman, hal ini karena penduduk tinggal terpencar di lereng gunung, tepi sungai, di lembah maupun di dalam hutan, yang tidak ada akses jalan darat untuk menuju ke tempat pemungutan suara. Atau karena tempat tinggal mereka terisolasi sehingga warga pemilih akan membutuhkan waktu lama atau berhari-hari berjalan menuju TPS.

Di tahun-tahun mendatang, jika infrastruktur sudah baik, baik itu infrastruktur jalan, jaringan telekomunikasi atau internet, maka seharusnya sistem noken tidak dipakai lagi, tetapi dikembalikan ke sistem demokrasi yaitu one man one vote.

Kontributor: Hari Suroto

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: