Press "Enter" to skip to content
Dok. commons.wikimedia.org/Bleckdraco

Begini Cara Menangkap Udang ‘Selingkuh’

Beberapa waktu lalu Portal Sains pernah membahas soal udang selingkuh (Silakan baca di sini), salah satu hewan khas dari Papua. Nah, udang ini enak dimakan, baik dengan cara dibakar atau direbus. Tapi harganya terbilang mahal, contohnya di Kota Wamena.

Udang ini disebut ‘udang selingkuh’ sebab bentuknya sangat unik, terlihat sepintas seperti udang bercapit besar seukuran capit kepiting. Kok bisa udang seperti kepiting? Jangan-jangan mama udang selingkuh sama kepiting. Begitulah, hehe…

Secara ilmiah udang ini termasuk dalam genus Cherax. Terdapat 13 spesies Cherax di pegunungan tengah Papua. Spesies Cherax monticola persebarannya antara lain di sungai-sungai di Lembah Baliem. Di tempat lain, dia disebut lobster air tawar.

Udang air tawar endemik pegunungan Papua ini mahal sekali. Udang ini dibanderol Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per porsi di Kota Wamena.

Harga satu plastik udang selingkuh mentah segar di Pasar Nayak, Kota Wamena lebih mahal lagi, tentu saja dalam satu plastik beratnya kurang dari satu kilogram, harganya mencapai Rp. 500.000 bila sedang musim dan bila tidak musim maka harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Bagaimana caranya Suku Dani di Lembah Baliem mendapatkan udang selingkuh ini? Dalam menangkap udang selingkuh di sungai, biasanya dilakukan oleh perorangan atau kelompok.

Cara menangkap udang selingkuh yaitu dengan tangan, menggunakan alat atau diracun dengan tuba. Secara tradisional alat yang digunakan untuk menangkap udang yaitu sejenis serok terbuat dari rajutan kulit kayu melinjo.

Pencarian udang selingkuh dilakukan pada siang hari atau ketika matahari sudah muncul. Bukan apa-apa, soalnya cuaca Lembah Baliem itu sangat dingin menusuk tulang.

Saat ini Suku Dani sudah mengenal peralatan modern untuk menangkap udang selingkuh, yaitu dengan menggunakan jaring atau jala yang dibeli di toko.

Dampak, dengan peralatan modern itu tangkapan bisa lebih banyak. Namun jumlah udang di Sungai Baliem semakin lama semakin berkurang, untuk itu perlu dijaga kelestarian udang ini dengan penangkapan selektif.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: