Press "Enter" to skip to content
Image by Hasty Words from Pixabay

Menghidupkan Manusia yang Mati, Mungkinkah?

Di Kitab Suci, ada kisah tentang manusia yang dihidupkan kembali. Di era yang jauh lebih kemudian, berbagai pihak sudah berupaya melakukan segala macam cara untuk menghidupkan kembali manusia yang sudah meninggal. Di kisah fiksi, kita dibuai oleh kisah zombie alias mayat hidup yang mewarnai layar televisi dan bioskop. Pertanyaannya, bisakah manusia yang sudah meninggal dunia dihidupkan kembali dengan cara sains?

Faktanya, sudah ratusan tahun berbagai ilmuwan berupaya menghidupkan kembali manusia yang sudah mati. Ambil contoh tahun 1800-an, sebagaimana dilansir Live Science, baru-baru ini, ahli fisika Giovanni Aldini, melakukan percobaan yang spektakuler pada zaman itu, yaitu mencoba menghidupkan kembali mayat manusia menggunakan aliran listrik.

Dia menghubungkan mayat manusia atau hewan ke baterai dan aliran listrik menggerakkan organ-organ mereka. Para penonton dibuat terpesona tanpa sadar bahwa sebetulnya mereka tidak menghidupkan. Aldini juga menyadari itu dan juga banyak ahli yang terkemudian.

Lanjut ke tahun 1930-an, ketika Robert E. Cornish, seorang ahli biologi Amerika yang belajar di Universitas California Berkeley, mengguncang publik dengan menghidupkan kembali dua ekor anjing dengan mengguncang-guncang badannya untuk menggerakkan aliran darah sambil menyuntikkan campuran antikoagulan dan steroid. Cornish kemudian berencana mempraktikkan eksperimen itu kepada manusia dan seorang terpidana hukuman mati dari California, Thomas McMonigle, bersedia menjadi kelinci percobaan. Tapi Negara Bagian California menolak.

Baru-baru ini, satu tim peneliti dari Universitas Yale bereksperimen menghidupkan kembali otak babi dan menerbitkan penelitian mereka di jurnal Nature edisi April. Mereka mengaktifkan kembali aktivitas sel-sel otak dan beberapa sel aktif kembali dalam beberapa jam setelah babinya mati di pejagalan. Tapi meski beberapa sel otak aktif kembali, tak cukup untuk membangkitkan kesadaran babi tersebut.

Ada lagi kasus tahun 2011, ketika seorang perempuan berusia 46 tahun bernama Kelly Dwyer, yang jauh ke kolam beku saat mendaki sendirian di New Hampshire. Jantung Dwyer berhenti sebelum ambulans tiba dan suhu tubuhnya turun ke 15 derajat Celsius, seperti dilaporkan Popular Science. Dwyer disebut sudah meninggal selama 5 jam ketika dokter mematikan alat penopang hidup dan jantungnya tiba-tiba aktif kembali. Setelah dirawat selama dua pekan di rumah sakit, Dwyer diperbolehkan pulang dan beraktivitas kembali tanpa adanya kerusakan otak. Dia tidak menjadi zombie, tapi sudah mengalami apa yang disebut “bangkit dari kematian”.

Cukup banyak orang yang punya pengalaman seperti Dwyer dan fenomena itu disebut Fenomena Lazarus. Tak semua memang bisa hidup normal tanpa mengalami kerusakan otak. Tapi sebanyak 35 persen, berdasarkan penelitian tahun 2007, akan kembali ke keadaan normal dan hidup sehat.

Bahkan setelah ratusan tahun gagal, masih saja ada ilmuwan yang mencoba menghidupkan kembali mayat manusia. Selama tiga tahun terakhir, Bioquark, Inc., sebuah perusahaan bioteknologi di AS, telah berusaha merekrut 20 pasien yang mati secara klinis untuk mengikuti percobaan “Mengidupkan otak yang mati”. Studi ini masih belum dimulai, tapi sudah dihujani banyak kritik. Kematian, kata para kritikus, tetaplah kematian.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: