Press "Enter" to skip to content

Begini Cara Ikan Diawetkan di Pesisir Utara Papua

Masyarakat nelayan di pesisir utara Papua, secara tradisional memiliki cara untuk mengolah dan mengawetkan ikan yaitu dibuat ikan asap dan ikan asin. Daging ikan yang tidak laku terjual diawetkan secara tradisional oleh masyarakat pesisir utara Papua dengan cara dijadikan daging asap. Metode pengasapan ini oleh masyarakat di pesisir utara Papua dikenal dengan istilah diasar. Daging ikan yang telah diasar tersebut bisa bertahan sampai beberapa minggu sebagai bahan konsumsi masyarakat jika tidak melaut.

Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat.Selain itu daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infestasi serangga, ulat lalat dan beberapa jasad renik perusak lainnya.

Pengeringan ikan dengan teknik penggaraman. Garam dapur punya peran penting sebagai pengawet. Kerja garam menarik air keluar dari tubuh ikan, sehingga mikroba tidak punya media untuk tumbuh. Setelah digarami, ikan lalu dikeringkan.

Cara pengeringan ikan tersederhana adalah dijemur di bawah sinar matahari. Karena ikan sudah diasinkan, proses pengeringan semakin efektif karena kegiatan bakteri pembusuk sebetulnya sudah dihambat oleh garam. Sinar matahari menguapkan sisa-sisa air yang ada di tubuh ikan sampai mencapai level terendah.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: