Press "Enter" to skip to content

Pentingnya Peran Mama-Mama di Papua

Di Papua, perempuan Papua yang sudah berkeluarga biasa dipanggil dengan sebutan mama. Dalam kehidupan sehari-hari, mama-mama Papua berperan penting bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Sagu merupakan makanan pokok dan sumber karbohidrat penting bagi masyarakat pesisir Papua. Pekerjaan mengolah sagu pada umumnya dilakukan oleh mama-mama Papua.

Biasanya di Papua, menebang sagu dilakukan oleh laki-laki, tetapi mama-mama Korowai di pesisir selatan Papua, mereka mampu menebang pohon sagu, menokok kemudian mengolahnya menjadi tepung. Tepung sagu kemudian dibungkus dengan daun, kemudian dimasukkan ke dalam noken untuk dibawa pulang. Sampai di rumah, tepung sagu ini dimasak dengan cara dibakar dan dikonsumsi oleh semua anggota keluarga.

Selain itu, mama-mama yang tinggal di pesisir pantai, mereka dengan menggunakan transportasi perahu, memancing ikan kecil, mencari kerang, udang di rawa-rawa bakau atau muara sungai.

Mama-mama Suku Dani berperan penting dalam proses budidaya ubi jalar di Lembah Baliem, mulai dari pemilihan bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan, dan mengangkut hasil panenan. Ubi jalar ini sebagian dijual di pasar dan sebagiannya lagi dimasak di rumah. Untuk ubi jalar yang kurang bagus biasanya untuk makanan babi.

Selain itu mama-mama Suku Dani juga berperan dalam pemeliharaan babi, babi merupakan harta adat yang sangat bernilai tinggi bagi Suku Dani.

Mama-mama Papua juga memiliki ketrampilan membuat noken atau tas tradisional. Noken merupakan alat angkut utama dan menjadi bagian penting dari setiap aktivitas sehari-hari perempuan Papua. Noken digunakan untuk mengangkut ubi jalar, pinang, keladi, singkong, sayur, pisang serta hasil kebun lainnya. Noken juga digunakan untuk membawa anak babi, anak anjing, kayu bakar dan bayi.

Mama-mama dari Kampung Abar Sentani terampil membuat peralatan dapur berbahan tanah liat atau yang sering disebut dengan gerabah, mulai dari mengambil bahan baku tanah liat, mengolah dan membentuk tanah liat menjadi wadah hingga proses membakar wadah tersebut.

Perempuan Papua dalam budayanya dihargai dan dihormati, hal ini terlihat dalam pembayaran mas kawin dengan nilai tinggi. Pelecehan terhadap perempuan Papua berakhir dengan perang suku atau pembayaran denda adat.

Dalam kehidupan modern, perempuan juga berperan sebagai guru, dosen, pendeta, polwan, suster dan bahkan ada yang menjadi menteri. Perempuan Papua juga berperan penting dalam pemerintahan di Papua, perwakilan perempuan merupakan salah satu unsur penting dalam Majelis Rakyat Papua.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: