Press "Enter" to skip to content

Riwayat Belanda di Papua

Pada tahun 1606, kapal-kapal Belanda pertama berlayar di sepanjang pesisir Papua. Pada masa itu, Belanda telah mengambil alih kendali lalulintas perdagangan cengkeh dari Portugis, Spanyol dan Inggris. Pelaut Belanda yang bernama Kapten William Jasz lantas berlayar sepanjang pesisir barat dan pesisir selatan Papua. Misi utamanya adalah pemetaan ia mendarat di berbagai tempat, salah satu tempat tersebut adalah muara Sungai Digul.

Pada tahun 1616, dua orang pelaut Belanda Jacob le Maire dan Willem Schouten menjelajahi pesisir utara Papua, termasuk Biak dan Yapen. Willem Schouten kemudian memberi nama Kepulauan Biak dengan nama Kepulauan Schouten.

Sesudahnya, pada tahun 1623, Jan Carstensz dalam pelayarannya melintasi pantai selatan Laut Arafura sempat menyaksikan salju di puncak gunung tertinggi di Papua. Laporan perjalanannya menjadi bahan tertawaan orang-orang Eropa yang sulit menerima kenyataan bahwa di daerah tropis dekat khatulistiwa bisa ditemui adanya salju. Puncak tertinggi yang dilihat Cartensz itu sekarang dikenal dengan nama Puncak Jaya.

Pada tahun 1660, Belanda membuat kesepakatan dengan Sultan Tidore, yang menyebutkan bahwa tidak ada orang Eropa lain yang berhak masuk ke Papua selain Belanda. Dalam perkembangannya kemudian, Papua dimasukkan ke dalam wilayah jajahan Hindia Belanda. Namun karena Papua bukanlah merupakan sumber pemasukan ekonomi yang berarti bagi Belanda maka pulau ini hingga awal abad ke-20 tidak terlalu dihiraukan oleh Belanda.

Walaupun Papua diklaim menjadi jajahan Belanda, tetapi pemerintah Belanda mulai serius menjalankan pemerintahan di pulau ini awal abad ke-20. Papua dijadikan Belanda sebagai tempat pembuangan tahanan politik, dan menjadi tempat tugas yang baru bagi pegawai Belanda yang tidak disiplin menjalankan tugas di Pulau Jawa. Selain menempatkan pegawai Belanda yang tidak disiplin, pemerintah jajahan Belanda juga mengirimkan antropolog-antropolog untuk mempelajari kehidupan sosial budaya penduduk Papua. Melalui catatan dan publikasi antropolog-antropolog Belanda itulah, Papua mulai dikenal dunia. Meskipun demikian hingga saat ini Papua masih menjadi syurga bagi para peneliti, karena masih banyak yang belum terungkap.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: