Press "Enter" to skip to content

Mengenal Tradisi Kremasi Ala Suku Lani di Papua

Manusia mengembangkan banyak pemahaman dan praktik mengenai kematian. Di Papua ada sejumlah pandangan dan praktik dalam menangani kematian. Di Suku Lani di Distrik Kelila dan Distrik Eragayam di Memberamo Tengah, masyarakat masih melakukan pembakaran jenazah.

Suku Lani memiliki beberapa klen, yaitu Yikwa, Pagawak, Kogoya, Tabuni, Wanimbo, Murib, Wakerkwa, dan Wonda. Mata pecaharian utama Suku Lani adalah berkebun dengan jenis tanaman utama adalah buah merah (Pandanus conideus), keladi (Colocasia esculenta), ubi jalar (Ipomea batatas), singkong (Manihot utilissima), kangkung darat (Ipomea fistulosa), labu siam (Sechium edule), pisang (Musa paradisiacal), dan berbagai tanaman palawija lainnya. Selain itu mata pencaharian lainnya yaitu berburu.

Dalam budaya tradisional Suku Lani, sebelum pembakaran mayat, terlebih dahulu dilakukan pesta bakar batu. Jumlah babi yang dibunuh secara langsung menjadi tolok ukur tentang seberapa penting orang yang meninggal.

Prosesi pembakaran mayat yaitu penyiapan kayu bakar dari jenis pohon casuarina. Penyiapan sebuah lubang dengan kedalaman sekitar satu meter, lubang ini digunakan sebagai kuburan untuk abu mayat. Kayu bakar disusun membentuk segi empat, berdekatan dengan lubang yang digali. Mayat diletakkan di dalam posisi duduk di atas tumpukan kayu.
Kemudian potongan-potongan kayu disusun di atas mayat, sehingga mayat tidak kelihatan lagi. Selanjutnya pembakaran mayat dilakukan. Api pembakaran mayat disulut dari bagian atas susunan kayu bakar. Selesai pembakaran mayat, maka tulang-tulang sisa pembakaran dikumpulkan. Abu dan tulang dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Ungkapan rasa duka atas kematian seorang kerabat yaitu dengan memotong salah satu dari sambungan ruas jari tangan perempuan dengan menggunakan kapak. Pemotongan jari tangan sebagai penanda kematian dan penghormatan kepada kerabat yang meninggal. Mereka percaya arwah dari yang meninggal akan menghargai rasa sakit yang diderita atau duka cita mereka.

Dalam pelaksanaan upacara kematian Suku Lani, kepercayaan prasejarah masih kuat, hal ini tercermin dalam kepercayaan terhadap roh leluhur. Makna religius dari upacara kematian adalah membantu roh orang yang meninggal agar ia dapat pergi ke dunia roh dengan baik. Upacara kematian ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kosmos yang diharapkan dapat memberikan keselamatan baik kepada roh si mati maupun terhadap manusia yang ditinggalkan.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: