Press "Enter" to skip to content

Merawat Kelestarian Cyclops

Setahun yang lalu, banjir dan tanah longsor melanda Sentani, Jayapura, akibat dari rusaknya cagar alam Cyclops atau Dobonsolo. Rusaknya lingkungan ini karena ulah manusia yang merusak Cyclops, penebangan liar atau membuka lahan untuk berkebun.

Kearifan lokal berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Sentani perlu digali dan dilestarikan bahwa di Cyclops merupakan dunia dewa. Cyclops dipercaya sebagai rumah Dewi Pemberi Kehidupan yaitu Hokaimiyae atau ibu pertiwi.

Selain itu Cyclops juga dijaga oleh empat dewa lainnya yang menyebar ke empat arah mata angin, yaitu timur (nu), barat (wai), selatan (ebun), dan utara (dobon). Tiga dewa yang disebut pertama adalah dewa yang mendatangkan petaka, yaitu penderitaan, kesengsaraan, dan berbagai macam penyakit termasuk banjir dan tanah longsor. Dewa Dobon dianggap sebagai dewa yang mendatangkan kemakmuran.

Dalam budayanya, masyarakat Sentani percaya bahwa ondofolo atau pemimpin adat tertinggi adalah representasi dewa di bumi. Mereka percaya bahwa dari mulut ondofolo hanya ada dua kata, yaitu berkat (onomi) dan kutuk (pelo). Berkaitan dengan hal pelestarian Cyclops, ondofolo sangat berperan penting untuk mengingatkan warganya agar tidak merusak Cyclops yang berakibat dewa yang tinggal di Cyclops marah.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: