Press "Enter" to skip to content

Ubi Jalar Ungu, Si Penambah Kekebalan Tubuh melawan Virus

Ubi jalar ungu yang ditanam mama-mama Papua sangat bagus untuk dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas dalam menghadapi wabah covid 19. Ubi jalar ungu Papua sangat bagus dikonsumsi karena mengandung antosianin pemecahan senyawa beracun yang dapat menambah kekebalan tubuh.

Dengan mengkonsumsi ubi jalar ungu Papua, daya tahan tubuh akan meningkat dan terlindung dari virus corona. Ubi jalar ungu Papua jangan dianggap remeh sebagai makanan kampung. Ubi jalar ungu Papua ini ternyata juga mengandung anthocyanin ascorbic dan beta-glucan yang efektif mencegah kolesterol dan penyakit jantung koroner.

Di pegunungan tengah Papua, ubi jalar ungu bersama daging babi biasa dimasak dengan cara bakar batu. Daging babi kandungan lemaknya tinggi sekali, namun masyarakat pegunungan tengah Papua yang mengkonsumsi daging babi dan ubi jalar ungu, terhindar dari kolesterol dan terhindar dari penyakit jantung.

Saat ini ubi jalar ungu Papua dengan keladi seolah-olah terpinggirkan dengan adanya beras. Dengan membeli dan mengkonsumsi ubi jalar ungu maka turut mengangkat kesejahteraan mama-mama Papua petani ubi jalar ungu.

Berdasarkan data arkeologi, diketahui ubi jalar sendiri mulai dibudidayakan di pegunungan tengah Papua sekitar 500 tahun yang lalu. Dalam upacara adat suku Dani di pegunungan tengah Papua, seperti perkawinan, kematian, pelantikan kepala suku, penyambutan tamu, pesta panen, dan festival budaya, ubi jalar merupakan bahan pangan utama yang dimasak bersama beberapa ekor babi (wam) dengan cara ”bakar batu” (wam ebe ekho). Memasak dengan bakar batu diawali dengan membuat lubang dalam tanah. Lubang ini dialasi daun-daunan, kemudian diisi dengan batu yang sebelumnya telah dipanaskan dalam api. Di atas batu panas ditaruh daun ubi jalar, di atas daun ubi jalar ditaruh ubi jalar dan daging babi. Seluruh bahan makanan tadi ditutup dengan daun ubi jalar, di atas daun ubi jalar ditaruh batu panas. Keberadaan ubi jalar dan babi sudah menyatu dengan kehidupan orang Dani sehingga susah terpisahkan dan sudah menjadi identitas bagi mereka.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: