Press "Enter" to skip to content

COVID-19 Bikin Akses Terbatas, Saatnya Maksimalkan Bahan Pangan Lokal Papua

Pemerintah Provinsi Papua telah memutuskan bahwa 26 Maret 2020 hingga 9 April 2020 berlangsung pembatasan perlintasan manusia di Papua, hal ini sebagai bagian dari untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Selama pembatasan ini merupakan momen yang tepat untuk mengkampanyekan kembali gerakan mengkonsumsi pangan lokal, berbagai jenis tanaman endemik Papua yang sejak nenek moyang Papua dulu konsumsi. Baik tanaman yang dibudidayakan di kebun, hasil meramu di hutan maupun hasil meramu di pesisir pantai.

Tanaman-tanaman ini sebelum ada beras maupun sayur-sayuran yang benihnya dibeli di toko, merupakan bagian dari bentuk ketahanan pangan lokal dari dulu. Sayur-sayuran dan umbi-umbian ini dalam tradisinya sudah dikonsumsi dan diolah secara tradisional dan organik yaitu bakar batu, barapen, dipanggang, diasap (asar) atau direbus dalam wadah gerabah.

Makanan lokal ini sangat organik dan menyehatkan, jadi masyarakat yang tinggal di kampung, tidak perlu ke kota untuk mendapatkannya. Sayur-sayuran dan umbi-umbian ini yaitu sayur pakis, sayur buah koteka, daun gedi, jantung pisang, daun genemo, selada air, daun ubi jalar, sayur lilin, bunga pepaya, daun pepaya, daun labu, rebung, daun singkong dan rumput laut.

Umbi-umbian yaitu ubi jalar, keladi, singkong, umbi jalar atau siapu.
Sumber karbohidrat lainnya yaitu sagu, pisang dan buah sukun.
Bagi masyarakat yang tinggal di kota, dengan membeli dan mengkonsumsi produk lokal maka akan meningkatkan kesejahteraan mama-mama Papua.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: