Press "Enter" to skip to content
Image by Peggy und Marco Lachmann-Anke from Pixabay

Baca Data Google, Sudahkah Kita Patuh untuk #dirumahaja?

Google telah merilis COVID-19 Community Mobility Reports sebagai upaya untuk membantu para pengambil kebijakan memahami bagaimana masyarakat merespons pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona baru atau SARS-CoV2 itu. Laporan ini menunjukkan data lokasi dari siapapun yang setuju untuk berbagi riwayat lokasi mereka kepada Google dengan tujuan menunjukkan apakah masyarakat patuh pada ketentuan pemerintah atau tidak.

“Saat masyarakat dunia merespons COVID-19, makin besar upaya untuk menggelar strategi menjaga kesehatan masyarakat, seperti jaga jarak, mengurangi angka penyebaran dan sebagainya,” kata Google Geo SVP Jen Fitzpatrick, seperti dilansir Engadget. “Di Google Maps, kami menggunakan data yang sangat banyak dan teragregasi dengan baik untuk menunjukkan seberapa sibuk suatu lokasi, untuk membantu mengidentifikasi apakah suatu tempat cenderung ramai. Kami sudah mendengar dari pejabat kesehatan bahwa jenis data seperti itu sangat membantu mereka saat mengambil keputusan penting dalam memerangi COVID-19.”

Laporan ini bisa diakses siapapun di seluruh dunia, khususnya 131 negara dan beberapa kawasan. Begitu suatu kawasan dipilih, Google akan memberikan laporan dalam format PDF yang mudah di-share lagi kepada mereka yang berada di kawasan itu.
Laporan ini terdiri dari 6 kategori, termasuk ritel dan rekreasi (restoran, museum, pusat belanja, dll), pusat grosir dan apotek, taman-taman (termasuk pantai dan marina), stasiun transit, tempat kerja, dan permukiman.

Untuk Indonesia, data yang tersedia diunduh sampai per hari Minggu, 29 Maret 2020. Berikut ini rinciannya:

Retail & recreation -47%
Grocery & pharmacy -27%
Parks -52%
Transit stations -54%
Workplaces -15%
Residential +15%

Kalau menurut data ini, sampai dengan Minggu 29 Maret 2020, terjadi peningkatan mobilitas masyarakat di area pemukiman sebesar 15 persen. Namun, mobilitas masyarakat di tempat-tempat lain, memang mengalami penurunan tapi belum 100 persen. Artinya, anjuran #dirumahaja dan work from home, belum dipatuhi oleh baik perusahaan, maupun dunia usaha.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: