Press "Enter" to skip to content

Perempuan Jagoan dari Mongolia Kuno, Inspirasi Kisah Mulan?

Arkeolog di Mongolia telah menemukan kerangka dua perempuan pahlawan dari zaman kuno. Barangkali kisah keduanya termasuk yang menginspirasi cerita Balada Mulan.

Kedua kerangka perempuan itu diduga berusia 50 dan 20 tahun saat meninggal. Mereka diperkirakan hidup pada periode Xianbei (Tahun 147 sampai 552 Masehi). Masa ini terjadi fragmentasi politik dan kerusuhan, yang kemudian membangkitkan kisah balada Mulan. Temuan kerangka kedua perempuan itu menunjukkan bahwa mereka sangat terlatih dalam memanah dan menunggang kuda.

“Memang pada masa Xianbei, perempuan diduga dibutuhkan peran sertanya dalam mempertahankan rumah dan negeri mereka,” kata peneliti studi itu, Christine Lee dan Yahaira Gonzalez, pakar bioarkeologi dari California State University, Los Angeles, seperti dilansir Live Science. Penelitian mereka sejatinya dipresentasikan di konferensi tahunan American Association of Physical Anthropologist bulan April. Namun acara ini dibatalkan gara-gara pandemi COVID-19.

Lee mengatakan, banyak sejarawan menempatkan cerita Mulan pada periode Xianbei. Ada banyak penelitian soal Balada Mulan dan apa yang ditemukan oleh Lee dan Gonzalez telah memperkuat temuan-temuan sebelumnya.

Dalam kisah Balada Mulan, disebut bahwa Mulan masuk militer supaya ayahnya tidak perlu terjun berperang. Namun, pada saat itu China tidak punya konsep wajib militer. Sehingga diduga, Mulan sebetulnya berperang untuk khan, pemimpin Mongolia. Namun, karena penulis Chinalah yang pertama kali mentranskrip balada itu, kemungkinan itulah yang membuat kisah Mulan dianggap kisah dari China.

Kerangka dua perempuan itu ditemukan setelah diadakan ekskavasi di sebuah pemakaman di situs arkeologi Airagiin Gozgor, di Provinsi Orkhon di utara Mongolia. Selama 4 tahun terakhir, Lee dan koleganya telah menganalisis kerangka manusia dari 29 kuburan elite, terdiri dari 16 kerangka pria, 10 kerangka perempuan, dan 10 yang belum diketahui. Kerangka-kerangka ini menunjukkan jejak kemampuan mereka semua dalam hal berkuda, memanah, dan juga trauma.

Lee banyak mengamati tanda-tanda tulang pada perlekatan otot, di mana semakin besar tandanya mengindikasikan bahwa otot-ototnya memang digunakan untuk aktivitas yang berat, seperti memanah. Tanda-tanda gerakan berulang pada jempol juga mengindikasikan kegiatan memanah. Lee juga mengamati pola trauma di tulang belakang yang biasa terjadi pada orang yang menunggang kuda.

Ketika banyak kerangka pria menunjukkan mereka punya jejak memanah dan menunggang kuda, kerangka perempuan biasanya menunjukkan salah satunya saja. Tetapi kerangka kedua perempuan pahlawan itu memiliki jejak kedua aktivitas tersebut.

“Mereka kemungkinan dua perempuan jagoan,” kata Lee. “Mereka bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki, jadi Anda bisa melihat tanda kesetaraan gender di sana.” Ciri-ciri yang hanya tampak pada kebudayaan Mongol. Sedangkan di China, pada masa yang sama, perempuan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan pria.

Pada tahun 900-an Masehi, perempuan di Mongolia menikmati kemerdekaan yang tidak bisa ditemukan pada kebudayaan kontemporer lain. Kaum Mongolia punya sejumlah ratu yang memimpin pasukan dan menerima utusan dari Paus. Perempuan juga dapat mewarisi harta dan properti serta bebas memutuskan dengan siapa mereka akan menikah.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: