Press "Enter" to skip to content

#dirumahaja, Yuk Bikin Project Sains Bareng Anak-Anak

Berada di rumah dengan keluarga inti di masa pandemi COVID-19 ini dapat membosankan kalau kamu tak tahu harus melakukan apa. Mengapa tidak mencoba bikin proyek sains sama anak-anak? Sebab ada beberapa proyek sains yang mudah sekaligus menarik, yang bisa kalian lakukan bersama.

Ini beberapa contohnya, yang kami sarikan dari Popular Science:

1. Memulai Hujan di dalam Gelas

Untuk proyek ini, kamu membutuhkan:
shaving cream (Krim cukur)
– pewarna makanan
– gelas
– sendok
– mangkok, cangkir, atau container apapun

Caranya:

– Isi gelas dengan air sampai setengah
– semprotkan shaving cream di atas air sampai hampir mendekati bibir gelas. Jangan sampai penuh ya, sisakan setidaknya 1 cm, supaya tidak luber ke mana-mana
– Pastikan cream menutupi seluruh permukaan air, tidak ada celah
– di container lain, campur pewarna makanan dan air. Kepekatan dan warnanya terserah kamu.
– Dengan sendok, masukkan campuran air dan pewarna tadi ke dalam gelas berisi shaving cream dan air. Satu-satu dan pelan-pelan saja.
– Kamu akan melihat, perwarna mulai menembus cream yang bertindak seperti awan di langit, sampai ke air dan menghasilkan ‘hujan/badai’.

Penjelasan:

Terjadinya awan dan curah hujan tergantung pada uap air di udara. Semakin tinggi tingkat kelembaban di atmosfer, semakin besar kemungkinan awan terbentuk. Awan terbentuk dari miliaran partikel air yang sangat kecil. Hujan akan terjadi ketika tingkat kelembaban awan sudah sangat tinggi, meski di dunia nyata, curah hujan tidak hanya disebabkan oleh bertambahnya kelembaban di awan. Perlu ada pemicu, bisa berupa partikel debu atau garam, atau bahkan serangga. Efek ini kita hadirkan melalui penambahan air pewarna tadi, mengganggu krim dan membuatnya menumpuk di satu area , sehingga cukup untuk memulai jatuhnya “air hujan”.

2. Menulis dengan Tinta yang Tak Kelihatan

Untuk proyek ini kamu membutuhkan:
– Lemon 
– Kertas
– Kapas
– Sumber panas

Caranya:

– peras lemon dan tampung di sebuah container kecil. Tambahkan air, lalu aduk.
– Celupkan kapas di air lemon ini dan dengannya tulislah ‘pesan rahasia ‘ di permukaan kertas. Biarkan mengering
– Untuk membaca ‘pesan rahasia’ ini, gunakan pemanas dan ekspos kertas ke pemanas dari belakang kertas. Jangan sampai terbakar. Sumber panas ini bisa dari korek api, lilin, atau lampu 100W.

Penjelasan:

Banyak yang mengatakan, jus lemon berubah menjadi coklat adalah akibat oksidasi, reaksi kimia dipicu ketika suatu senyawa melepaskan karbon ke udara. Ini terjadi ketika panas memecah ikatan yang menahan zat karbon secara bersamaan. Ini memang bisa terjadi.

Tetapi dalam eksperimen kita, jus lemon mengandung asam askorbat, yang berwarna cokelat ketika Anda membiarkannya di udara terbuka. Panas yang kita berikan mempercepat degradasi asam askorbat tadi.

3. Mendorong Telur ke Dalam Botol
Untuk eksperimen ini, kamu membutuhkan:
– Telur rebus
– Botol kaca
– Korek api atau lilin kecil

Caranya: 

– Kupas telur rebus dan pastikan semua sisinya mulus, biar lancar masuk ke dalam botol.
– Tancapkan korek api/lilin ke telur yang akan menjadi sisi bawahnya
– Nyalakan korek/lilin tadi
– Tempatkan telur di mulut botol di mana korek api yang menyala ada di sisi bawah. Biar api tidak cepat-cepat mati, pegang telur dan botol bersamaan dan putar botol sampai bagian bawah menghadap atas. Tahan sebentar beberapa detik api menyala, setelah itu balikkan kembali ke posisi semula dan biarkan.
– Tunggulah. Telur akan masuk ke dalam botol.

Penjelasan:

Telur masuk ke dalam botol karena ada perbedaan tekanan antara udara di luar botol dan di dalam botol. Telur sesungguhnya bukan tersedot tetapi terdorong oleh tekanan atmosfir di luar botol.

Perbedaan tekanan di dalam botol terjadi lantaran api memanaskan udara. Sebagian udara akan mencoba melepaskan diri melalui mulut botol. Begitu telur betul-betul menyumbat mulut botol dan api padam, udara di dalamnya akan mulai dingin dan menurunkan tekanan udara di dalamnya.

Tekanan atmosferik yang lebih besar dari udara di luar botollah yang kemudian mendorong telur ke dalam. Jadi bukan terjadinya kehampaan udara di dalam botol.

4. Bikin Blubber Sendiri
Untuk eksperimen ini kamu membutuhkan:
– Lemak sayur
– Mangkuk yang cukup untuk mencelupkan tanganmu
– Es batu

Caranya:

– Isi mangkok dengan air dan masukkan es batu. Lalu masukkan tanganmu, rasakan berapa lama kamu bisa bertahan di dalam air yang dingin ini.
– Lumuri tanganmu dengan Lemak sayur, sampai kamu merasakan efek panas yang seperti tertahan di tanganmu.
– Kemudian masukkan lagi tanganmu ke dalam air es dan rasakan, berapa lama kamu dapat bertahan. Biasanya akan lebih lama daripada saat tak ada lemak.

Penjelasan:

Blubber mengandung molekul lemak yang sulit dilewati panas. Kalau kamu melumuri tangan dengan blubber, tanganmu tak ubahnya termos di mana panas tak bisa mengalir keluar.

Paus atau singa laut punya sistem metabolisme tubuh akan membakar lebih banyak energi dan menaikkan temperatur internal, ketika hendak menyelam lebih dalam ke perairan yang dingin. Blubber akan memerangkap panas agar tak keluar.

5. Bikin Fosil Jejak Kaki
Fosil jejak kaki makhluk purbakala banyak membantu para arkeolog untuk menjelaskan kehidupan di zaman prasejarah. Misalnya, tentang bagaimana mereka berjalan, bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, dan sebagainya.

Kamu tak butuh jutaan tahun untuk menunjukkan kepada anak-anak tentang bagaimana fosil ini terjadi. Kamu hanya perlu beberapa hari.

Untuk proyek ini kamu membutuhkan:
– 1 cangkir tepung
– ½ cangkir garam
– ¼ secangkir bubuk kopi bekas
– ½ cangkir kopi dingin (atau air)
– Mangkuk pengaduk besar
– Sendok pencampur
– Piring ceper
– Sesuatu untuk membuat jejak di “lumpur”

Caranya:

– Buatlah adonan tepung, garam, kopi bekas, dan kopi dingin di dalam mangkuk.
– Taruh adonan di atas piring ceper dan dengan tanganmu sendiri, ratakan sampai ketebalannya sama, mungkin sekitar 2-4 cm. Yang penting rata.
– Buatlah jejak kaki. Kamu bisa pakai kaki mainan dinosaurus, atau boleh juga jejak kaki anakmu.
– Biarkah mengering selama beberapa hari.

Penjelasan:

Eksperimen kita menunjukkan fase paling awal dalam proses fosilisasi. Dengan mengeringkannya, kamu memberi waktu pada campuran untuk menguap. Ketika sudah menguap semua, yang tertinggal adalah material yang berbeda dari sebelumnya.

Pada jejak kaki dinosaurus di alam saja, setelah kaki mereka menginjak lumpur atau tanah basah, kemungkinan ada sedimen lain yang mengisi jejak itu dan kemudian membantu prosesnya selama ribuan atau jutaan tahun, untuk menjadi batu.

Kamu perlu tahu bahwa fosilisasi membutuhkan kondisi tanah dan proses kimiawi yang tepat. Itulah mengapa tak semua jejak atau bahkan jasad hewan purba, bisa menjadi fosil.

 

Selamat berkreasi, belajar, dan bermain dengan anak-anak ya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: