Press "Enter" to skip to content

Jejak Panjang Islam di Raja Ampat

Raja Ampat merupakan kabupaten kepulauan, dengan empat pulau utama yaitu Waigeo, Salawati, Batanta dan Misool. Di tempat ini agama Islam memiliki sejarah yang panjang.

Sesuai dengan kondisi geografinya, 80 persen wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah perairan laut yang kaya biota laut, antara lain berbagai jenis ikan, penyu, mutiara, teripang dan rumput laut.

Hutan Kepulauan Raja Ampat juga memiliki fauna endemik yaitu burung cenderawasih. Kekayaan alam inilah yang memainkan peranan penting dalam perdagangan antar pulau pada masa lalu.

Dalam sejarahnya, diperkirakan agama Islam di Raja Ampat diperkenalkan oleh kesultanan-kesultanan Maluku Utara tidak lama setelah agama Islam diterima di Maluku Utara pada masa terbentuknya sistem kesultanan pertama di Ternate oleh Sultan Zainal Abidin pada akhir abad ke-15.

Berdasarkan sumber laporan-laporan pelaut Portugis pada abad ke-16, diketahui terdapat beberapa perkampungan Islam di Kepulaun Raja Ampat sekitar tahun 1500-an, meski jumlahnya tidak begitu banyak. Perkampungan muslim pertama di Raja Ampat diperkirakan didirikan sekitar tahun 1512 di Pulau Misool.

Pengaruh kesultanan Ternate, Tidore dan Bacan di Raja Ampat selain agama Islam juga dapat dilihat pada struktur kemasyarakatan di Kepulauan Raja Ampat adalah kepemimpinan raja. Secara turun temurun di Raja Ampat mengenal tingkatan-tingkatan seperti raja, bangsawan dan orang biasa.

Gelar-gelar di Raja Ampat yang mendapat pengaruh dari sultan-sultan Maluku Utara yaitu kapita laut, dumlaha, mirino, jojau, ukum, korano, dan sangaji.

Selain gelar-gelar yang digunakan dalam struktur pemerintahan di Raja Ampat, pengaruh sultan-sultan Maluku Utara juga terlihat terlihat atribut pakaian para pegawai raja yaitu kain surban, selendang dan sepasang kain. Atribut-atribut ini pada masa lalu digunakan untuk membedakan seorang pegawai raja dengan rakyat biasa.

Pengaruh budaya Islam di Raja Ampat juga terlihat penggunaan rebana sebagai alat musik. Perkampungan muslim di Raja Ampat juga dapat diketahui dari masyarakatnya yang memelihara kambing. Kambing ini sangat berperan dalam perayaan Idhul Adha maupun tradisi Islam lainnya.

Hubungan yang terjadi antara Raja Ampat dan sultan-sultan Maluku Utara pada masa lalu lebih mengarah pada hubungan persaudaraan, layaknya hubungan kakak beradik. Pada waktu itu rakyat Raja Ampat memberikan penghormatan sekaligus berbagi hadiah kepada Sultan Tidore dan sebaliknya mereka oleh Sultan Tidore diberikan gelar dan hak istimewa serta berbagai jenis kain, perkakas besi, manik-manik dan keramik.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: