Portal Sains

Uniknya Kopi Pegunungan Bintang

dok. Pixabay.com

Pegunungan Bintang, Papua memiliki jenis kopi arabika spesial. Pada umumnya kopi arabika di Indonesia ditanam pada ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Petani kopi Pegunungan Bintang menanam kopi arabika pada ketinggian 1800 hingga 2000 mdpl. Pada ketinggian ini, udara sangat dingin dengan suhu 18 – 23 celcius.

Suhu udara yang dingin, berkabut dan intensitas cahaya matahari yang kurang membuat buah kopi matang lebih lama di pohon. Inilah yang menjadikan kopi arabika Pegunungan Bintang berbeda dan berkualitas sempurna. Proses pematangan buah yang lama menjadikan zat gizi akan menumpuk dan rasa kopi cenderung lebih asam.

Kopi arabika mulai ditanam tahun 1970-an, benih kopi arabika typica didatangkan langsung dari Dogiyai dengan pesawat kecil oleh misionaris Belanda. Kopi arabika Pegunungan Bintang ditanam di Lopkop, Sabin, Distrik Okbab. Andaka, Distrik Okbibab serta Nangultil, Distrik Kiwirok.

Selain ditanam secara organik, biji kopi dipanen secara manual, hasil panen juga diproses secara manual dengan tangan manusia bukan mesin. Panasnya mesin pengolah kopi dapat menurunkan kualitas kopi.

Kopi Pegunungan Bintang memiliki rasa khas yaitu citrus, berry, jeruk, fruity, sweet chocolate, sugar cane dan peach.

Selain dipasarkan di Sentani dan Kota Jayapura, kopi Pegunungan Bintang juga diminati oleh konsumen Australia, Selandia Baru, Belanda dan Amerika. Hal ini dapat dilihat dari para pekerja warga negara asing di Sentani, sering mengirimkan kopi ini pada keluarga di negara asalnya. Selain itu kopi ini sering dijadikan oleh-oleh WNA yang pulang kampung ke negaranya.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Exit mobile version