Press "Enter" to skip to content

LIPI akan Buka 12 Kebun Raya Baru

Di tengah suasana pandemi COVID-19 dan pembatasan sosial berskala besar, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membeberkan rencana pembukaan 12 kebun raya baru. Dalam sebuah webinar, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan ke-12 kebun raya baru itu akan melengkapi 5 Kebun Raya LIPI saat ini.

Seluruh kebun raya LIPI baru itu akan disebut eco-region primer dikarenakan Kebun Raya tersebut akan langsung dikelola oleh LIPI. “Kebun Raya daerah juga tetap akan diposisikan untuk mengakomodasi konservasi dari eco-region sekunder di mana Pemerintah Daerah dapat turut aktif mengelola Kebun Raya tersebut,” kata Handoko.

Seluruh Kebun Raya LIPI direncanakan akan dilengkapi dengan SDM Peneliti dan laboratorium yang berstandar dan memadai, sehingga keanekaragaman hayati di Indonesia dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Kebun raya merupakan sarana penting dalam konservasi keanekaragaman hayati. Saat ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengelola 5 Kebun Raya dan terdapat 23 Kebun Raya yang bekerja sama dengan pemerintah daerah yang sudah dilansir di seluruh Indonesia. Fungsi Kebun Raya selain untuk konservasi juga merupakan tempat untuk penelitian, pendidikan, jasa lingkungan, dan wisata.

Handoko mengatakan, dari proses eksplorasi, baik melalui ekspedisi maupun hal lainnya. “Inilah yang menjadi bagian dari tugas kami, khususnya di LIPI, bagaimana kita bisa memanfaatkan aneka kekayaan hayati ini,” ujar Handoko.
Handoko menekankan, keanekaragaman hayati adalah masa depan negara kita dan satu-satunya yang kita tidak akan berkompetisi dengan negara lain. “Hari Keanekaragaman Hayati Internasional ini menjadi pengingat untuk kita agar dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai isu keanekaragaman hayati,” ucapnya.

Selain itu, dirinya menyebutkan, masyarakat diharapkan mampu untuk mempertahankan dan meningkatkan populasi satwa, spesies tumbuhan, serta nilai-nilai keanekaragaman hayati lainnya.
“Di ujung keanekaragaman hayati itulah ada konservasi, salah satunya kita akan terus bekerja keras dan berjuang untuk konservasi,” tuturnya. “Selain itu, kita bisa memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia, baik laut maupun darat secara bijak untuk kemaslahatan masyarakat kita, bahkan dunia juga.” kata Handoko.

Webinar itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2020.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: