Press "Enter" to skip to content

Penerapan New Normal di Situs Megalitik Tutari

New normal atau tatanan hidup baru di masa pandemi covid-19 segera diterapkan di Papua, termasuk pariwisata. Salah satu destinasi wisata yang populer di Kabupaten Jayapura yaitu Situs Megalitik Tutari.

Situs ini terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Situs Megalitik Tutari dalam era new normal bisa dibuka untuk pengunjung dengan menerapkan pedoman new normal yang ditetapkan oleh pemerintah.

Operasional Situs Megalitik Tutari sebagai destinasi wisata saat new normal harus diperhatikan dengan cermat.

Sebelum Situs Megalitik Tutari dibuka untuk pengunjung, perlu dilakukan simulasi untuk melihat kesiapan situs dalam menyambut era new normal. Pada era new normal, setelah simulasi kesiapan situs dilakukan, maka Situs Megalitik Tutari diprioritaskan dulu untuk destinasi pendidikan.

Jadi yang bisa berkunjung berstatus pelajar, guru, mahasiswa, peneliti dan akademisi. Bagi pelajar harus bisa menunjukan kartu identitas siswa atau kartu mahasiswa.

Beberapa ketentuan yang harus dijalankan di Situs Megalitik Tutari saat masa new normal yaitu pengunjung situs wajib pakai masker, pengunjung situs wajib cuci tangan di pintu masuk.

Pengunjung yang boleh masuk dalam area situs hanya yang memiliki suhu tubuh di bawah 37, 3 derajat celcius. Pengelola situs wajib menyediakan tempat cuci tangan, sabun dan hand sanitizer di pintu masuk situs.

Pengunjung Situs Megalitik Tutari dipastikan tidak akan berkerumun dalam satu tempat karena situs ini sangat luas, obyek batu berlukis tersebar luas di 4 sektor, sektor lima berupa jajaran batu bulat, sektor enam terdapat menhir. 

Walaupun begitu jumlah pengunjung harus dibatasi maksimal 30 persen dari jumlah pengunjung pada saat kondisi normal. Masing-masing pengunjung juga harus saling menjaga jarak sekitar 1,5 meter. Penjaga situs harus mengawasi pergerakan pengunjung dan memandu pengunjung guna mencegah terjadinya kerumunan.

Situs Megalitik Tutari mulai ramai dikunjungi pengunjung sejak Balai Arkeologi Papua beberapa kali menggelar kegiatan Rumah Peradaban di situs tersebut. Kegiatan Rumah Peradaban di situs ini, terakhir berlangsung tahun lalu dengan tema Rumah Peradaban Situs Megalitik Tutari untuk Generasi Milenial.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: