Press "Enter" to skip to content

Tantang GPS Buatan AS, China Lengkapi Sistem Navigasi Beidou

China kembali menantang Amerika Serikat. Kali ini di sektor sistem navigasi. Pada 22 Juni lalu China meluncurkan satelit sistem navigasi globalnya ke konstelasi mereka, lebih cepat enam bulan dari jadwal semula. Satelit itu diluncurkan ke orbit geostationary dengan bantuan roket Long March-3B dari Xichang Satellite Launch Center.

Beidou adalah nama China untuk konstelasi bintang ‘Big Dipper’.

Dengan meluncurnya satelit ini, China telah melengkapi sistem navigasi mereka sendiri dan meminamilisir ketergantungan pada sistem GPS buatan Amerika Serikat. Malahan, jika terjadi konflik dengan AS, China tak perlu khawatir kehilangan sistem navigasi bila GPS diblokir. Bahkan militer China sendiri sudah punya sistem navigasi independen.

Satelit navigasi China itu disebut Beidou Navigation Satellite System. Tak hanya GPS, sistem Beidou akan menjadi alternatif bagi GLONASS dari Rusia, Galileo dari Eropa, dan GPS dari Amerika Serikat.

“Peluncuran ini menyajikan fakta bahwa kami telah bergerak dari negara besar di bidang antariksa menjadi benar-benar negara adidaya di bidang antariksa,” tutur kepala desainer Beidou, Yang Changfeng, kepada CCTV, seperti dilansir Daily Mail.

Program antariksa China memang melesat jauh melewati negara-negara lain selama dua dekade terakhir, sebab pemerintah mengalokasikan dana dan sumber daya yang besar untuk riset dan sebagainya. Bahkan, China kini unggul dalam konektivitas data berkat lahirnya teknologi seluler 5G.

Beidou dengan 30 satelit di konstelasinya membuat negeri itu independen, termasuk aktivitas militernya.

Di dunia ini ada 4 sistem navigasi global, baik yang sedang beroperasi maupun siap diluncurkan:

Global Positions System

Ini adalah sistem paling tua, berasal dari militer Amerika Serikat dan diluncurkan pada 1971. Pada 1994, GPS dipakai untuk tujuan non-militer oleh SatNav, untuk teknologi ponsel, dan sistem komersial lainnya. GPS punya 33 satelit di konstelasinya dan 31 di antaranya masih beroperasi sampai saat ini. GPS bisa memberikan data lokasi yang akurat sampai 3 meter dari lokasi aslinya.

Global Navigation Satellite System

Dikenal dengan nama GLONASS, ini adalah versi Rusia untuk GPS dan beroperasi sejak 1993 dengan 12 satelit di konstelasinya. Namun, dengan jumlah satelit yang lebih sedikit, akurasinya tentu kurang dibandingkan GPS. Tingkat akurasinya antara 5 sampai 10 meter. Service-nya banyak digunakan sebagai backup jika GPS tak tersedia atau diblokir.

Galileo

Ini adalah sistem navigasi milik Eropa yang dioperasikan oleh European Space Agency dan mencapai peluncuran terbatas pada 2016. Bila beroperasi penuh, akan ada total 3o satelit dan 6 satelit lain siap diaktifkan bila perlu. Galileo kompetibel dengan GPS dan GLONASS dan bisa dipakai sebagai backup. Sistem ini bakal berfungsi penuh pada akhir 2020 ketika seluruh satelitnya sudah diluncurkan.

Beidou

Beidou awalnya diluncurkan pada 2000 (tapi versi awalnya sudah ada pada 1994) untuk kebutuhan China sendiri. Namun kini sudah diperluas untuk global. Sistem ini memiliki 30 satelit di konstelasinya, dipisah di antara orbit standar GPS dan orbit geosynchronous di atas ekuator. Sistem ini memberikan independensi kepada China untuk melacak pergerakan ketika terjadi perang dan tak akan tergantung pada GPS.

Sistem ini juga digunakan oleh Pakistan dan Thailand dan akan diperluas ke negara lain. Teknologi mobil China dan smartphone juga menggunakan Beidou bila beroperasi di dalam negeri.

Kantor berita Xinhua mengatakan, di samping navigasi, Beidou juga melayani pengiriman pesan pendek, augmentation berbasis satelit, SAR internasional, dan positioning. Sistem pesan teks yang didukung panjangnya sampai 1.200 karakter China, bahkan bisa mengirimkan gambar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: