Press "Enter" to skip to content
Belanja online (Image by athree23 from Pixabay)

Gara-Gara COVID-19, Pebelanja Lebih Suka Click-and-collect

Pandemi COVID-19 telah mengubah cara orang berbelanja. Banyak pebelanja saat ini lebih suka melakukan click-and-collect saat berbelanja. Mereka melakukan pemesanan online lalu self-checkout. Pebelanja juga ogah berhadapan dengan kasir dengan alasan menjaga jarak aman (social distancing).  

Demikian secuil hasil riset 12th Annual APAC Shopper Study yang digelar oleh Zebra Technologies. Pada intinya sih, riset ini mendapati bahwa perusahaan retail di kawasan Asia Pasifik makin cenderung untuk menggunakan teknologi cerdas, seperti intelligent automation, cloud computing, dan mobility untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis mereka di tengah pandemi.

Ketika banyak perusahaan mulai beroperasi kembali dan bangkit dari pandemi COVID-19, salah satu perubahan yang terjadi adalah munculnya konsep yang disebut “Economy at Home”. Frekuensi dan volume belanja makanan meningkat dan mana konsumen lebih suka memesan secara online daripada ketemu kasir, sebab mereka ingin menjaga jarak aman dengan orang lain agar tak tertular COVID-19.

Oleh sebab itu, sebanyak 55 persen konsumen meminta perusahaan ritel menyediakan opsi pemesanan secara online sebelum mereka mengambil pesanan di toko, yang disebut juga dengan istilah click-and-collect atau buy online, pick-up in store (BOPIS). Sebanyak 36% responden juga setuju bahwa toko mereka harus dilengkapi dengan fasilitas pemenuhan pesanan melalui web.

Oleh sebab itu, perusahaan ritel perlu mengubah strategi pemenuhan mereka kalau mau bertahan di tengah perubahan ini. Mereka perlu memikirkan cara menjaga kesehatan konsumen baik ketika berada di toko maupun saat menerima barang melalui jasa pengiriman. 

“COVID-19 telah secara signifikan mengubah sektor ritel, sehingga memaksa perusahaan-perusahaan ritel yang sifatnya essential retail maupun non-essential untuk mengukur kemampuan strategi omnichannel fulfillment mereka dan segera menyesuaikan model operasional mereka hanya dalam hitungan hari—beberapa malah mengimplementasikan perubahan hanya dalam hitungan jam,” kata Lim Fang How Lim, Regional Director Asia Tenggara, Zebra Technologies Asia Pasifik, dalam keterangan resmi. 

“Kami menyaksikan bagaimana perusahaan ritel mengubah toko yang tidak bisa dibuka untuk publik atau ‘dark store’ menjadi fasilitas distribusi sementara. Oleh sebab itu, perusahaan ritel harus memprioritaskan perluasan layanan click-and-collect dan berinvestasi di teknologi-teknologi yang dapat meningkatkan kapasitas dan kecepatan berbelanja. Ini akan mengurangi jumlah orang yang berbelanja di toko dan membantu upaya social distancing. Pada saat yang sama visibilitas inventori di setiap sudut toko bisa tetap terpantau,” ujar Lim lagi.

Melengkapi karyawan dengan perangkat mobile akan menyederhanakan tugas seperti inventory management, tapi sekitar 64% karyawan perusahaan ritel ternyata belum dilengkapi dengan teknologi yang dapat memberikan manfaat maksimal seperti itu. Merespons hal tersebut, perusahaan ritel kini sudah mulai meninggalkan perangkat yang ketinggalan zaman dan beralih ke perangkat kelas enterprise yang dilengkapi dengan interface yang intuitif dan user-friendly, serta operating system sekelas smartphone.

Pandemi ini telah membuktikan bahwa cara pemesanan click-and-collect semakin banyak diterapkan, sehingga ada kebutuhan bagi karyawan perusahaan ritel untuk melayani contactless transaction melalui perangkat mobile computer dan tablet dengan pengambilan barang di suatu lokasi tertentu. Solusi Mobile Point-of-Sale (mPOS) seperti ET51 enterprise tablet, TC52 touch computer, TC21 touch computer dan ZQ310 mobile printer dapat meningkatkan contactless fulfilment dengan cara memberikan notifikasi kepada karyawan perusahaan ritel akan adanya pemesanan baru secara online, lalu mereka mengepak barang yang dipesan, memberikan label produk dan mencetak nota belanja sebelum pembeli sampai.

Penggunaan solusi mPOS diprediksi akan mencapai 98% pada 2026, naik dari 76% saat ini. Trend yang sama diyakini juga akan terjadi pada produk mobile computer yang dilengkapi dengan scanner, yakni dari posisi 75% saat ini dan diprediksi menjadi 96% pada 2026.

Pengembalian barang juga masih banyak dikeluhkan oleh para pembeli dan menciptakan tantangan tersendiri bagi perusahaan ritel. Sebanyak 51% eksekutif di industri ritel melaporkan bahwa mereka sudah mulai meng-upgrade atau berencana meng-upgrade teknologi manajemen pengembalian barang mereka dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, 83% perusahaan ritel saat ini sudah atau berencana mengimplementasikan sistem verifikasi inventory otomatis dalam waktu satu tahun ke depan, untuk meningkatkan akurasi real-time inventory mereka.

Berikut ini beberapa hal lain yang di-highlight dari studi tersebut, yaitu:

  • 88% perusahaan ritel setuju bahwa mempertahankan visibilitas inventori mereka secara real-time adalah sebuah tantangan yang signifikan. Sebanyak 85% mengatakan bahwa perusahaan mereka membutuhkan inventory management yang lebih baik dari yang dimiliki saat ini untuk meningkatkan akurasi inventori real-time.
  • Perusahaan-perusahaan ritel juga mengatakan bahwa bantuan robot (83%), smart check-out dan platform IoT yang real-time (89%) benar-benar penting bagi operasional bisnis mereka selama lima tahun ke depan.
  • 81% perusahaan ritel juga berencana untuk menyediakan opsi pemesanan melalui perangkat mobile pada 2021.
  • 70% perusahaan ritel telah mengintegrasikan social media ke dalam ekosistem mereka supaya pembeli dapat segera memberikan feedback.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: