Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi kehancuran Bumi (dok. icheinfach/Pixabay)

Apa yang akan Terjadi pada Bumi Jika Manusia Musnah?

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan lebih dari 21 juta orang terinfeksi dan 774 ribu orang meninggal dunia sampai hari ini. Jika pandemi ini berlanjut terus atau terjadi pandemi lain yang lebih mematikan lagi, apakah manusia akan punah? Jika manusia punah, apa yang akan terjadi pada Bumi ini?

Kita tahu, sejarah sudah mencatat terjadinya kepunahan berbagai suku bangsa di muka Bumi ini. Kepunahan mereka meninggalkan benda-benda arkeologis yang sebagian terkubur dalam tanah. Hal ini bisa menjadi sedikit pertanda akan apa yang terjadi jika manusia musnah.

Alan Weisman, seorang penulis yang menulis bukunya yang terkenal “The World Without Us” (Thomas Dunne Books, 2007), menghabiskan waktu beberapa tahun melakukan riset dan mewawancarai para pakar untuk menjawab pertanyaan: apa yang akan terjadi pada planet kita, kepada kota-kota kepada berbagai industri, kepada alam, bila umat manusia musnah?

Ada beberapa teori yang menyatakan tentang bagaimana manusia bisa punah, meski tak mungkin akan terjadi begitu saja dalam sekejap. Namun, seandainya terjadi, maka dalam penelitian Weisman, diperkirakan bahwa akan terjadi perubahan dramatis di perkotaan. Tanpa manusia yang mengatur pompa, curah hujan dan air tanah yang naik akan membanjiri kereta bawah tanah di kota-kota besar macam London dan New York.

“Bahkan, menurut para insinyur, hanya butuh waktu 36 jam jalur kereta bawah tanah benar-benar banjir,” kata Weisman, seperti dilansir Live Science.

Kilang-kilang minyak dan pembangkit nuklir tidak akan terkendali dan kemungkinan menyebabkan kebakaran besar dan ledakan yang menghancurkan. Akan ada semburan radiasi tiba-tiba.

Kepunahan manusia juga akan meninggalkan tumpukan sampah, sebagian besarnya adalah plastik, yang tidak akan hancur selama ribuan tahun. Sementara limbah minyak bumi yang tumpah atau merembes ke dalam tanah, juga berbagai polusi lain yang disebabkan oleh manusia, akan meninggalkan efek yang merusak tanah dan habitat hewan liar. Tapi itu tidak berarti kemusnahan bagi mereka, sebab alam punya caranya sendiri untuk pulih, contohnya lokasi bencana nuklir Chernobyl.

Baca juga: Mengintip Jejak Ledakan Nuklir Chernobyl 3 Dekade Lalu

Air di bawah tanah di kota-kota yang ditinggalkan akan merusak struktur logam yang menahan bangunan-bangunan tinggi dan ruas-ruas jalan di atasnya dan begitu hancur, bangunan dan jalanan akan runtuh dan tiba-tiba berubah menjadi sungai. Di musim dingin, tanpa usaha manusia untuk menyingkirkan salju, es itu akan menghancurkan trotoar sehingga ada celah baru untuk tumbuhnya tanaman. Begitu juga di jembatan, tanpa usaha untuk membersihkan dari lumut dan tanaman dari struktur beton maupun besinya, jembatan akan menjadi pot raksasa dan akan hancur dalam beberapa ratus tahun.

Dengan lahirnya habitat-habitat baru itu, hutan beton akan berganti padang rumput, semak, dan pepohonan lebat. Penumpukan bahan organik kering akan terbakar jika tersulut petir sehingga membuat segala bangunan yang berdiri akan rata dengan tanah. Sisa pembakaran akan menghasilkan bahan yang bagus untuk memelihara kehidupan biologis.

Tanpa manusia, serangga akan berkembang dengan cepat. Begitu serangga tumbuh dengan baik, begitu juga tumbuhan dan burung. Tanpa pestisida, tumbuhan, tanah, saluran air, dan lautan akan makin bersih dan mendorong lebih banyak satwa liar datang dan membentuk habitat yang baru. Keanekaragaman hayati secara global akan meningkat begitu juga populasi megafauna macam singa, gajah, harimau, badak, dan beruang, akan meningkat.

Baca juga: Gawat, Populasi Satwa Liar Rata-Rata Turun 58 Persen

Namun untuk kembali pulih seperti awal, seperti sebelum kehadiran manusia di berbagai pusat megafauna itu, Søren Faurby, seorang pengajar macroecology dan macroevolution di University of Gothenburg di Swedia, mengatakan itu akan butuh jutaan tahun. Jens-Christian Svenning, profesor macroecology dan biogeography di Aarhus University di Denmark mengatakan, tanpa manusia, Bumi akan menjadi alam liar besar. Planet ini pada akhirnya mungkin menjadi lebih subur dan lebih beragam.

Tentang perubahan iklim, jika ledakan di pabrik-pabrik atau pembakaran di sumur migas terus terjadi setelah manusia punah, sejumlah besar karbondioksida akan terlepas di atmosfer dan butuh waktu lama untuk hilang. Kadar karbondioksida yang ada di atmosfer saat ini pun bahkan butuh ribuan tahun untuk betul-betul hilang dari atmosfer. Lautan dan berbagai biota di dalamnya memang mampu menyerap karbondioksida itu tapi kemampuannya tetap terbatas.

Jadi, kesimpulannya, tanpa manusia, Planet Bumi akan baik-baik saja. Justru kehadiran manusialah yang seringkali membuat alam ‘menderita’. Jadi, kita perlu lebih bijaksana dalam memanfaatkan berbagai potensi alam untuk kebutuhan kita, bukan mengurasnya habis-habisan atau merusak Bumi dengan segala polusi yang bisa kita ciptakan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: