Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi pasar. (Dok. Pexels/Pixabay)

Survey LIPI: Pengelolaan Ekonomi Keluarga Terganggu Gara-Gara COVID-19

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi telah menyelesaikan survei Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ekonomi Rumah Tangga Indonesia, baru-baru ini. Hasilnya antara lain menemukan bahwa pandemi COVID-19 telah berdampak cukup signifikan bagi rumah tangga di Indonesia, terutama dalam hal pengelolaan ekonomi.

Sebanyak 87,3 persen Rumah Tangga Usaha dan 64,8 persen Rumah Tangga Pekerja merasakan kesulitan keuangan gara-gara terjadinya COVID-19 yang disusul oleh pembatasan sosial berskala besar di berbagai daerah. Sebanyak 53,9 persen Rumah Tangga Pekerja kini merasa lebih berat dalam membiayai kebutuhan pangan. Sementara di kalangan Rumah Tangga Usaha, hanya 37,8 persen yang merasakannya.

Fenomena menarik, pembatasan sosial telah menggeser pola konsumsi masyarakat. Di mana telah terjadi pengurangan pengeluaran untuk makanan siap saji, disusul peningkatan belanja bahan makanan. Ini artinya, perilaku makan fast food makin dihindari dan orang lebih senang berbelanja bahan-bahan makanan dan mengolahnya di rumah untuk kebutuhan keluarga.

Terkait stimulus ekonomi berupa paket bantuan sosial yang diterima dari pemerintah, sebanyak 19,4 persen rumah tangga melaporkan pernah mendapatkan bantuan sosial. Sebagian besar penerima yang merasakan penurunan pendapatan terjadi di kelompok Rumah Tangga Usaha. “Rinciannya 56,36 persen pada Rumah Tangga Usaha pendapatan rendah dan 43,33 persen Rumah Tangga Pekerja yang penghasilannya kurang dari 1,5 juta,” kata Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho, dalam keterangan resmi.

Agus mengatakan, bantuan sosial tidak secara langsung mempengaruhi ekspektasi masa depan rumah tangga. Sedangkan untuk ekspektasi rumah tangga terhadap perubahan pendapatan rumah tangga dengan pendapatan menurun di tengah pandemi, memiliki ekspektasi paling rendah untuk dapat bekerja normal dalam 6 bulan ke depan. “Rumah Tangga Usaha dengan tingkat pendapatan tetap dan meningkat, merasa lebih yakin untuk bekerja dibandingkan Rumah Tangga Pekerja dan berbagai kelompok perubahan pendapatan masih enggan untuk melakukan aktivitas konsumsi tersier,” kata dia.

Sebagai informasi, “Survei Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Ekonomi Rumah Tangga: Mitigasi dan Pemulihan” dilaksanakan secara daring pada 10-31 Juli 2020, direspon oleh 2.258 rumah tangga yang tersebar di 32 provinsi dan terjaring 1.548 responden yang memenuhi syarat untuk dianalisis sebagai sampel. Responden berstatus Rumah Tangga Pekerja yaitu, 79,7 persen dan selebihnya pada Rumah Tangga Usaha dengan komposisi 20,3 persen.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: