Portal Sains

Anak Anjing Ini Memakan Badak Berbulu Terakhir di Bumi

Hewan-hewan di zaman es. (dok. commons.wikimedia.org/auricio Antón)

Seekor anak anjing (puppy) yang hidup di akhir zaman es ditemukan oleh para peneliti. Tapi yang mereka temukan berikutnya ketika melakukan necropsy (autopsi hewan) terhadap anak anjing yang menjadi mumi karena membeku itu, sungguh mengejutkan. Mereka mendapati, sebelum anak anjing itu mati dan membeku, dia makan sepotong daging badak berbulu terakhir di Bumi.

Saat melakukan autopsi, peneliti menemukan lempengan kulit berbulu kuning yang belum sempat dicerna oleh anak anjing itu. Awalnya mereka mengira anak anjing itu makan sepotong daging singa gua, makanan terakhirnya.

Baca juga: Ikan Raksasa dari Zaman Purba, Perilakunya Mirip dengan Hiu Basking Modern

Tetapi analisis DNA dari potongan kulit daging itu mengungkapkan bahwa itu bukan singa gua (Panthera spelaea), tetapi badak berbulu (Coelodonta antiquitatis), yang punah sekitar 14.000 tahun yang lalu, tepat pada waktu anak anjing ini makan terakhirnya.

Itu berarti anak anjing ini telah memakan salah satu badak berbulu terakhir yang pernah ada, kata Edana Lord, seorang mahasiswa doktoral di Palaeogeneticsdi Swedia, sebuah joint venture antara Universitas Stockholm dan Museum Sejarah Alam Swedia. Lord ikut menulis penelitian yang diterbitkan 13 Agustus di jurnal Current Biology tentang kepunahan badak berbulu.

Mumi anak anjing itu ditemukan di lapisan permafrost di Tumat, sebuah lokasi terpencil di timur laut Siberia, pada 2011. Dalam geologi, permafrost adalah ibun abadi, yaitu lapisan tanah beku yang berada di bawah suhu 0 °C selama beberapa tahun.

Dari analisis diketahui bahwa anak anjing itu berusia antara 3 dan 9 bulan ketika ia mati. Namun, peneliti belum pasti apakah anak anjing itu adalah anjing atau serigala. Soal ini juga masih menjadi misteri yang menyelimuti penemuan mumi seekor puppy yang berumur 18.000 tahun ditemukan di Siberia pada 2018.

“Saya pikir itu berada di sekitar titik kritis tentang domestikasi anjing/serigala,” kata Lord kepada Live Science.

Baca juga: Mungkin Inilah Tempat Paling Mematikan di Dunia, Zaman Dulu

Penanggalan radiokarbon mengungkapkan bahwa anak anjing di Tumat hidup sekitar 14.000 tahun yang lalu. Para peneliti juga melakukan penanggalan radiokarbon pada lempengan badak berbulu, untuk mengesampingkan kemungkinan bahwa badak tidak mati jauh lebih awal dan terawetkan di permafrost Siberia. Diduga, anak anjing itu adalah salah satu anggota kawanan yang baru saja memburu seekor badak atau memulung bangkai badak hasil buruan kawanan lain.

Namun mereka juga belum menutup kemungkinan bahwa anak anjing itu sudah dijinakkan oleh manusia, yang kemudian berbagi makanan daging badak berbulu dengan anak anjing itu. Segera setelah makan, anak anjing itu, walau sebabnya belum diketahui.

Exit mobile version