Press "Enter" to skip to content
Image by Elionas2 from Pixabay

9 Organ Tubuh Kita yang ‘Tak Ada Gunanya’

Kalau kita perhatikan tubuh kita, ada beberapa organ tubuh yang menurut para ahli tidak ada gunanya bagi kita sekarang. Namun dulu, pada masa lalu, memang dipakai oleh nenek moyang kita.

Dilansir dari Science Alert, berikut ini sembilan organ tubuh yang ‘tak berguna’?

1. Usus buntu (appendix)

Ini organ tubuh yang kontroversial. Sebab banyak yang bilang usus buntu tak ada gunanya. Tapi ada juga penelitian yang menyatakan usus buntu berguna untuk menyimpan bakteri yang baik. Masalahnya, jika radang, usus buntu harus dioperasi dan dibuang.

2. Otot palmaris longus

Otot ini memanjang dari pergelangan tangan ke siku. Sekitar 10 persen manusia ternyata tidak memilikinya. Otot ini muncul kalau kamu meletakkan punggung tangan di permukaan meja lalu satukan semua ujung jarimu ke tengah, otot ini akan muncul. Menurut ahli, 10 persen manusia tak punya otot ini. Disebutkan bahwa otot ini dulu membantu manusia memanjat pohon. Tapi karena sekarang kita sudah berjalan tegak dengan dua kaki, otot ini tak diperlukan lagi.

Baca juga: Apa yang akan Terjadi pada Bumi Jika Manusia Musnah?

3. Rahang yang sangat kuat

Manusia tidak lagi membutuhkan rahang yang sangat kuat karena pola makan kita telah bergeser ke arah makanan lunak dan biji-bijian yang dimasak. Rahang kita juga lebih kecil. Mengingat kita makan makanan yang cukup lembut sekarang, dan geraham biasanya digunakan untuk menggiling, kita tidak benar-benar membutuhkan rahang yang kuat lagi.

4. Arrector pili muscle atau otot arektor pili

Ini adalah otot kecil yang menempel di folikel rambut. Ia merupakan serat otot yang membuat benjolan ketika berkontraksi atau biasa kita sebut merinding. Nenek moyang kita, yang memiliki rambut tubuh lebih banyak, menggunakan serat-serat ini untuk melindungi tubuh mereka. Tetapi kita tidak menggunakannya lagi. Untuk hewan berbulu tebal, arektor pili membantu menyediakan isolasi. Arektor pili juga membuat hewan terlihat lebih besar, seperti yang dilakukan landak untuk melindungi dirinya dari predator.

5. Ekor di embrio manusia

Kalau kamu perhatikan, embrio manusia terlihat punya ekor dalam usia kandungan antara lima dan delapan minggu. Ekor ini lenyap pada saat manusia dilahirkan yang tersisa biasanya kita sebut dengan tulang ekor, ada di ujung tulang belakang kita.

Tulang ekor pada nenek moyang membantu mobilitas dan keseimbangan mereka. Tetapi saat berevolusi, ekor menyusut ketika manusia mulai berjalan tegak dua kaki. Sekarang tulang ekor disebut tidak memiliki fungsi pada manusia.

Baca juga: Menghidupkan Manusia yang Mati, Mungkinkah?

6. Otot Auricular

Kita punya otot bernama otot auricular menggerak-gerakkan bagian telinga yang terlihat. Tapi kita telah kehilangan kemampuan untuk menggunakannya. Mamalia lain menggunakan otot-otot ini untuk mendeteksi mangsa dan predator. Tapi manusia, karena kita punya leher yang fleksibel, tak perlu lagi menggerakkan telinga ke arah suara. Beberapa orang memang bisa menggerakkan telinga dengan menggunakan otot ini. Tapi sebagian besar kita tidak bisa.

7. Otot piramidalis

Otot ini terletak di perut bagian bawah, berbentuk seperti segitiga. Tapi tak ada gunanya. Otot piramidalis disebut dapat membantu menggerakkan linea alba, tetapi ini tidak relevan dengan fungsi otot perut kita. Sekitar 20 persen manusia tidak memiliki otot piramidalis ini.

8. Puting pada pria

Janin laki-laki dan perempuan pada awalnya berkembang dengan cara yang sama. Tapi testosteron memicu pembentukan organ seks pria di kemudian hari. Namun, sebelum hormon-hormon ini masuk, puting susu sudah mulai berkembang. Bagi pria, puting tidak bisa dipakai untuk menyusui dan tidak menghasilkan susu.

9. Plica semilunaris atau kelopak mata ketiga

Ini adalah lipatan jaringan yang ditemukan di sudut dalam mata. Itu menyerupai selaput yang digunakan beberapa hewan untuk melindungi mata mereka. Burung, reptil, dan beberapa mamalia dapat menarik selaput ini melewati mata mereka agar tetap lembab dan bebas dari kotoran. Plica semilunaris yang ada pada mata kita disebut merupakan sisa dari selaput seperti itu. Tapi manusia tidak bisa mengendalikannya, seperti halnya burung, reptil, dan sebagainya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: